Bagaimana Singapura Melihat Program MBG Indonesia?

Prabowo Ikut Makan Bergizi Gratis MBG di sekolah
Presiden Prabowo Subianto saat meninjau pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 111 Jakarta pada Selasa, 2 Juni 2026. BPMI Setpres-Rusman via ANTARA

Program gizi dinilai menopang pembangunan manusia. Pendidikan dan keterampilan menjadi tahap berikutnya.

SINGAPURA (gokepri) – Pemerintah Singapura menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan anak, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Program itu dipandang dapat memperkuat daya saing Indonesia dan ASEAN apabila diikuti peningkatan pendidikan serta keterampilan tenaga kerja.

Pandangan tersebut disampaikan Menteri Negara Singapura untuk Luar Negeri sekaligus Kementerian Pembangunan Sosial dan Keluarga Zhulkarnain Abdul Rahim saat menjawab pertanyaan jurnalis peserta Indonesian Journalists’ Visit Programme (IJVP) di Kementerian Luar Negeri Singapura, Rabu, 16 Juli 2026.

Indonesian Journalists’ Visit Programme (IJVP)
Menteri Negara Singapura untuk Luar Negeri sekaligus Kementerian Pembangunan Sosial dan Keluarga, Zhulkarnain Abdul Rahim, bersama wartawan dalam Indonesian Journalists’ Visit Programme (IJVP) di Kementerian Luar Negeri Singapura, Rabu, 16 Juli 2026. Foto: MDDI Singapora

Baca Juga: Mengapa Investor Singapura Tetap Melirik Indonesia

Pertanyaan muncul ketika Zhulkarnain diminta menjelaskan bagaimana Singapura melihat kaitan program MBG dengan pembangunan manusia, ketahanan pangan, dan daya saing ekonomi kawasan.

Zhulkarnain mengatakan pemenuhan gizi anak merupakan fondasi penting bagi keberhasilan pendidikan. Anak-anak, kata dia, sulit memperoleh hasil belajar yang optimal apabila kebutuhan gizinya tidak terpenuhi.

“Program makan gratis itu penting. Saya kira itu langkah yang baik,” kata dia.

Ia menjelaskan pengalamannya menangani keluarga berpendapatan rendah sebagai bagian dari tugas di Kementerian Pembangunan Sosial dan Keluarga Singapura. Dalam sejumlah kasus, keterbatasan ekonomi membuat anak-anak bergantung pada makanan yang tersedia di sekolah.

Kondisi serupa juga ditemukan di berbagai negara. Karena itu, penyediaan makanan bergizi dipandang sebagai bagian dari upaya memperluas akses pendidikan, terutama bagi keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas.

Zhulkarnain menilai manfaat program gizi tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan pangan. Program tersebut juga memberi kepastian bagi keluarga sehingga anak dapat bertahan lebih lama di bangku sekolah.

Ia mencontohkan program serupa yang diterapkan di Selangor, Malaysia. Pemerintah daerah setempat memberikan dukungan makanan kepada siswa yang mengikuti pendidikan teknik agar keluarga tidak terbebani biaya tambahan selama anak bersekolah.

Skema seperti itu, kata Zhulkarnain, membantu keluarga mempertahankan anak tetap berada dalam sistem pendidikan sekaligus membuka peluang memperoleh keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja.

Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, langkah berikutnya adalah memastikan peserta didik memperoleh jalur pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan industri. Pendidikan vokasi menjadi salah satu pilihan yang dinilai mampu menjembatani kebutuhan tenaga kerja dengan perkembangan ekonomi.

Program Pelatihan di Singapura

Zhulkarnain mengatakan perubahan teknologi berlangsung semakin cepat sehingga keterampilan yang dibutuhkan industri juga terus berubah. Kondisi itu membuat pendidikan formal saja tidak lagi cukup untuk membekali seseorang sepanjang masa kerja.

Singapura mengembangkan program SkillsFuture Credits untuk mendorong masyarakat terus meningkatkan kompetensi setelah memasuki dunia kerja. Program tersebut memberi kesempatan kepada pekerja mengikuti pelatihan sesuai perkembangan kebutuhan industri.

“Salah satu keterampilan yang selalu dibutuhkan adalah kemampuan untuk beradaptasi,” ujar Zhulkarnain.

Kemampuan beradaptasi, kata Zhulkarnain, akan menjadi modal utama menghadapi perubahan ekonomi dan teknologi. Tenaga kerja yang terus memperbarui keterampilannya akan lebih siap menghadapi perkembangan industri, termasuk kecerdasan buatan dan ekonomi digital.

Zhulkarnain menilai pembangunan sumber daya manusia akan menentukan daya tarik kawasan ASEAN bagi investor global. Pendidikan, pelatihan, dan gizi menjadi satu rangkaian yang saling berkaitan dalam membangun tenaga kerja yang produktif.

Ia juga menyoroti berkembangnya perusahaan rintisan di berbagai kota di Indonesia, seperti Bandung, Bogor, dan Surabaya. Pengalaman mendampingi investasi modal ventura membuatnya melihat besarnya potensi inovasi yang dimiliki anak-anak muda Indonesia.

Potensi tersebut, kata Zhulkarnain, akan berkembang lebih cepat apabila didukung pendidikan yang baik, akses pelatihan, dan kolaborasi dengan dunia usaha.

Baginya, pembangunan manusia menjadi fondasi agar Indonesia dan negara-negara ASEAN mampu memanfaatkan bonus demografi serta menarik lebih banyak investasi pada masa mendatang.

Baca Juga: Mengapa Investor Singapura Tetap Melirik Indonesia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait