SINGAPURA (gokepri) – Kenaikan harga hunian, kendaraan, serta barang mewah membuat Singapura kembali menempati posisi sebagai kota termahal di dunia bagi kalangan berpenghasilan tinggi. Posisi itu bertahan selama empat tahun berturut-turut berdasarkan Lifestyle Index 2026 yang diterbitkan bank asal Swiss, Julius Baer.
Laporan tersebut menunjukkan biaya mempertahankan gaya hidup mewah terus meningkat di berbagai kota dunia. Harga perhiasan, jam tangan, properti, hingga layanan premium menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan biaya hidup kelompok beraset tinggi.
Setelah Singapura, Zurich naik ke peringkat kedua, menggeser London yang turun ke posisi kelima. Monaco untuk pertama kalinya masuk tiga besar sejak indeks itu diterbitkan pada 2020, sedangkan Hong Kong berada di peringkat keempat.
Baca Juga: Dua Kota di Asia Jadi Kota Termahal bagi Ekspat, Geser Kota-Kota di Swiss
Menurut Julius Baer, penguatan franc Swiss menjadi faktor utama yang mengangkat posisi Zurich. Mata uang itu dinilai semakin kuat karena reputasi Swiss sebagai negara yang stabil sekaligus tempat penyimpanan nilai pada masa ketidakpastian ekonomi.
Adapun Singapura mempertahankan posisi puncak karena harga properti dan kendaraan yang tetap tinggi, ditopang penguatan dolar Singapura.
Di kawasan Timur Tengah, Dubai turun ke peringkat ke-14. Julius Baer menilai penurunan tersebut lebih dipicu kenaikan biaya hidup di kota-kota lain, bukan karena Dubai menjadi lebih terjangkau.
Laporan itu juga mencatat perubahan kondisi kawasan Timur Tengah dalam beberapa bulan terakhir setelah konflik di Iran. Perubahan tersebut ikut memengaruhi dinamika biaya hidup di kawasan.
Sydney mencatat kenaikan peringkat paling besar tahun ini. Kota tersebut melompat enam posisi hingga masuk delapan besar berkat penguatan dolar Australia dan faktor letak geografis negara itu.
Di benua Amerika, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir tidak ada satu pun kota yang masuk 10 besar. Menurut Julius Baer, pelemahan dolar Amerika Serikat terhadap sejumlah mata uang lain mengurangi posisi kota-kota di kawasan tersebut, meski harga barang dan jasa di pasar domestik tetap naik.
Meski demikian, akumulasi kekayaan di Amerika Utara tetap bertambah. Julius Baer mencatat peningkatan sebesar 47 persen dalam setahun terakhir.
Secara global, biaya mempertahankan gaya hidup mewah meningkat rata-rata 10,2 persen dalam setahun, dihitung dalam dolar Amerika Serikat. Kenaikan harga emas turut mendorong harga perhiasan naik 16,4 persen dan jam tangan meningkat 15,5 persen.
Lifestyle Index menyusun peringkat 25 kota dunia berdasarkan inflasi harga 20 kelompok barang dan jasa mewah. Penilaiannya mencakup properti hunian, mobil, tiket pesawat kelas bisnis, biaya pendidikan, hingga santap malam di restoran premium.
Survei tersebut melibatkan 360 responden dengan aset perbankan keluarga sedikitnya 1 juta dollar AS. Pengumpulan data berlangsung pada Februari hingga Maret 2026.
Baca Juga: Batam Kota dengan Biaya Hidup Termahal di Sumatera
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








