Peta Investor Kepri Bergeser, AS dan Jepang Masuk Lima Besar

Bom mcdermott
PT McDermott Indonesia di Batam. (istimewa)

TANJUNGPINANG (gokepri) — Amerika Serikat dan Jepang masuk dalam lima besar negara penyumbang investasi terbesar di Kepulauan Riau pada triwulan I-2026. Kehadiran dua negara tersebut menggantikan Malaysia dan Taiwan yang pada 2025 masih berada dalam kelompok investor utama.

Perubahan komposisi investor tersebut menunjukkan semakin beragamnya sumber modal yang masuk ke Kepri. Di tengah persaingan menarik investasi global, kondisi ini memberi peluang bagi pemerintah daerah untuk memperluas pasar promosi investasi di luar negara-negara mitra tradisional.

Baca Juga: Prospek Cerah Investasi Pusat Data, Apa yang Dipersiapkan BP Batam?

Hingga akhir Maret 2026, realisasi investasi di Kepri mencapai Rp 23,80 triliun. Nilai itu terdiri atas penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp 14,05 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 9,75 triliun.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kepulauan Riau Hasfarizal Handra mengatakan, masuknya investor dari negara-negara baru membuka ruang bagi Kepri untuk memperluas strategi promosi investasi.

“Ini menjadi peluang untuk memperkuat strategi promosi investasi yang tidak hanya berfokus pada investor tradisional, tetapi juga menyasar pasar potensial lainnya,” ujar Hasfarizal di Tanjungpinang, Kamis (18/6/2026).

Berdasarkan data DPMPTSP Kepri, Singapura masih menjadi investor terbesar di daerah tersebut pada triwulan I-2026. Posisi berikutnya ditempati Hong Kong, Amerika Serikat, China, dan Jepang.

Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, perubahan terjadi pada posisi empat dan lima besar investor. Malaysia dan Taiwan yang sebelumnya masuk kelompok investor utama kini tergantikan oleh Amerika Serikat dan Jepang.

Dari sisi pencapaian target, realisasi investasi triwulan pertama telah memenuhi 49 persen target daerah sebesar Rp 48 triliun pada 2026. Sementara terhadap target nasional yang ditetapkan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sebesar Rp 86 triliun, capaian tersebut setara 28 persen.

Menurut Hasfarizal, capaian awal tahun itu memberi sinyal positif bagi pencapaian target investasi sepanjang 2026.

“Target tahunan masih berpeluang dicapai apabila tren investasi tetap terjaga pada triwulan berikutnya,” kata Hasfarizal.

Investasi asing di Kepri masih terkonsentrasi pada sektor jasa dan manufaktur. Industri logam dasar serta industri mesin dan elektronik menjadi sektor yang paling banyak menyerap modal asing.

Sementara itu, sektor listrik, gas, dan air juga masuk dalam kelompok tujuan investasi utama. Masuknya sektor tersebut menunjukkan penguatan investasi pada infrastruktur yang menopang kegiatan industri.

Komposisi itu memperlihatkan bahwa Kepri masih menjadi salah satu pusat industri pengolahan dan manufaktur berorientasi ekspor. Minat investor terhadap sektor-sektor tersebut juga relatif konsisten dalam beberapa tahun terakhir.

Adapun investasi domestik tersebar pada sektor listrik, gas, dan air, industri kimia dan farmasi, perumahan, kawasan industri dan perkantoran, transportasi, pergudangan dan telekomunikasi, serta perdagangan dan reparasi.

Menurut Hasfarizal, pola investasi tersebut menunjukkan peran modal dalam negeri tidak hanya pada sektor produktif, tetapi juga pembangunan infrastruktur pendukung aktivitas ekonomi.

“Struktur PMDN mencerminkan keseimbangan antara investasi pada sektor produktif dan sektor pendukung,” ujarnya.

Sebagai perbandingan, realisasi investasi Kepri sepanjang 2025 mencapai Rp 64,68 triliun. Nilai itu terdiri atas PMA sebesar Rp 43,44 triliun dan PMDN sebesar Rp 21,24 triliun. Sebagian besar investasi masih terkonsentrasi di kawasan perdagangan bebas Batam, Bintan, dan Karimun.

Capaian tahun lalu melampaui target daerah sebesar 136 persen dan target BKPM sebesar 112 persen. Untuk menjaga tren tersebut, DPMPTSP Kepri terus mempercepat layanan perizinan melalui sistem Online Single Submission (OSS).

Selain kemudahan perizinan, pemerintah daerah juga mengajak masyarakat menjaga iklim usaha yang kondusif. Stabilitas daerah dinilai menjadi faktor penting dalam menarik dan mempertahankan investasi yang berdampak pada penciptaan lapangan kerja serta pertumbuhan ekonomi.

“Tugas kami mempermudah, memperlancar, dan bertanggung jawab terhadap proses perizinan guna mendukung pelaku usaha berinvestasi di Kepri,” kata Hasfarizal. ANTARA

Baca Juga: Deretan Investasi Data Centre Ratusan Triliun di Batam

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait