BATAM (gokepri.com) – Rencana pembangunan Museum dan Monumen Tugu Bahasa di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, mulai memasuki tahap akhir persiapan. Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau menargetkan proyek yang digadang-gadang menjadi ikon baru wisata sejarah dan kebudayaan Melayu itu mulai dikerjakan pada pertengahan tahun ini.
Gubernur Ansar Ahmad mengatakan proses administrasi dan persiapan lelang proyek saat ini hampir rampung. Sejumlah tahapan konsultasi dengan lembaga pengawas dan instansi terkait juga telah dilalui untuk memastikan proyek berjalan sesuai ketentuan.
“Kita masih persiapan lelang. Mudah-mudahan akhir Juli 2026 sudah groundbreaking dan mulai kerja. Akhir tahun 2027 kita rencanakan selesai,” kata Ansar, Sabtu (13/6).
Menurut dia, pembangunan monumen tersebut memerlukan proses yang tidak sederhana karena menyangkut kawasan bersejarah yang memiliki nilai budaya tinggi.
Pemerintah daerah, kata Ansar, harus memastikan seluruh prosedur, mulai dari aspek perencanaan hingga pengawasan, berjalan sesuai aturan.
“Banyak sekali konsultasi yang harus kita lakukan, termasuk dengan berbagai pihak. Sekarang sudah hampir final. Semua proses kita ikuti,” ujarnya.
Pembangunan Museum dan Monumen Tugu Bahasa menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Pulau Penyengat sebagai pusat sejarah bahasa Melayu sekaligus destinasi wisata budaya unggulan nasional. Pemerintah Provinsi Kepri telah menyiapkan anggaran dan desain pembangunan yang akan menjadi salah satu penanda penting perjalanan bahasa Indonesia.
Dalam berbagai kesempatan, Ansar juga meminta dukungan pemerintah pusat untuk mempercepat pengembangan kawasan Pulau Penyengat. Menurut dia, pulau yang berada di seberang Kota Tanjungpinang itu merupakan warisan budaya bernilai tinggi yang menyimpan jejak penting sejarah Kesultanan Riau-Lingga.
“Pulau Penyengat sudah menjadi kebanggaan bagi kita semua karena telah banyak dikunjungi wisatawan mancanegara,” kata Ansar.
Pulau Penyengat bukan sekadar destinasi wisata sejarah. Kawasan ini selama berabad-abad menjadi pusat perkembangan bahasa dan sastra Melayu yang kemudian memberi pengaruh besar terhadap lahirnya bahasa Indonesia modern.
Di pulau seluas sekitar tiga kilometer persegi itu berdiri sejumlah situs bersejarah, seperti Masjid Raya Sultan Riau, kompleks makam raja-raja Melayu, hingga balai adat yang masih terjaga. Situs-situs tersebut menjadi saksi perkembangan tradisi intelektual Melayu yang pernah berkembang pesat pada abad ke-18 dan ke-19.
Sejumlah naskah sastra, karya tata bahasa, dan literatur Melayu yang lahir dari lingkungan Pulau Penyengat kemudian menjadi rujukan penting dalam pembentukan bahasa Indonesia pada awal abad ke-20. Nama tokoh seperti Raja Ali Haji bahkan tak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangan bahasa nasional melalui karya monumentalnya, Gurindam Dua Belas dan berbagai kajian tata bahasa Melayu.
Karena itu, pembangunan Museum dan Monumen Tugu Bahasa dipandang bukan hanya sebagai proyek infrastruktur, melainkan juga upaya memperkuat narasi sejarah kebahasaan Indonesia kepada generasi muda dan wisatawan.
Penulis: Engesti








