JAKARTA (gokepri) — Percepatan adopsi kendaraan listrik dinilai menjadi langkah strategis untuk meredam tekanan lonjakan harga minyak global terhadap anggaran negara. Dengan sekitar 60–70 persen kebutuhan minyak nasional masih dipenuhi dari impor, gejolak harga minyak dunia langsung berdampak pada pembengkakan subsidi energi dalam APBN.
Pengamat otomotif Martinus Pasaribu menjelaskan, setiap kenaikan harga minyak global sebesar 1 dollar AS per barel dapat meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi hingga sekitar Rp 8–10 triliun. Jika harga minyak menembus 90–100 dollar AS per barel, total belanja subsidi energi berpotensi mendekati atau melampaui Rp 300 triliun per tahun—angka yang pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
“Setiap kenaikan harga minyak global akan mendorong pembengkakan subsidi dan kompensasi energi. Ini berisiko mengurangi ruang fiskal untuk belanja produktif seperti infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan,” ujar Martinus dalam keterangannya di Jakarta, Senin (30/3/2026).
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak 13 Persen, Pasar Cemas Selat Hormuz Terganggu
Lifting minyak domestik, menurut Martinus, terus menurun dan kini berada di kisaran 600 ribu barel per hari. Kondisi itu membuat APBN rentan terhadap gejolak harga minyak dunia, terutama di tengah eskalasi konflik geopolitik seperti di Selat Hormuz.
Kendaraan listrik, menurut Martinus, menjadi solusi jangka panjang karena mampu mengurangi konsumsi bahan bakar minyak secara signifikan. Peralihan ke tenaga listrik tidak hanya menekan impor, tetapi juga mengurangi kebutuhan subsidi BBM yang selama ini sebagian besar diserap sektor transportasi.
Dari sisi efisiensi, biaya energi kendaraan listrik rata-rata hanya sekitar Rp 300–500 per kilometer, dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin yang bisa mencapai Rp 1.000–1.500 per kilometer. Selisih itu setara potensi penghematan biaya operasional hingga 60–70 persen bagi pengguna.
“Diperkirakan, penggunaan satu juta mobil listrik dapat menghemat sekitar 1,25 juta kiloliter BBM per tahun, sementara lima juta motor listrik berpotensi menghemat hingga 1,75 juta kiloliter,” ujar Martinus.
Kombinasi keduanya menghasilkan penghematan sekitar tiga juta kiloliter BBM per tahun. Dengan asumsi harga minyak global di kisaran 90–100 dollar AS per barel, pengurangan impor itu berpotensi menghemat devisa sekitar Rp 30–40 triliun per tahun.
Martinus menambahkan, elektrifikasi transportasi juga memberi efek berganda: penguatan industri baterai dalam negeri, peningkatan investasi, dan penciptaan lapangan kerja baru di sektor manufaktur serta energi bersih.
Untuk itu, ia mendorong pemerintah mempercepat adopsi kendaraan listrik melalui kebijakan terintegrasi—mulai dari insentif fiskal, pembangunan infrastruktur pengisian daya (SPKLU), hingga penguatan ekosistem industri kendaraan listrik nasional.
“Transisi ke kendaraan listrik bukan hanya langkah menuju energi bersih, tetapi juga strategi konkret untuk penghematan devisa, menjaga ketahanan fiskal, dan memperkuat kedaulatan energi nasional di tengah ketidakpastian global,” kata Martinus. ANTARA
Baca Juga: Darurat BBM di Filipina
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









