Penempatan PMI Kepri tembus 1.517 orang. Didominasi pekerja sektor maritim.
BATAM (gokepri) — Sebanyak 1.517 pekerja migran Indonesia (PMI) asal Kepulauan Riau ditempatkan ke berbagai negara hingga Mei 2026. Singapura masih menjadi tujuan utama, sementara sektor maritim tetap mendominasi jenis pekerjaan yang digeluti pekerja migran.
Data Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Kepulauan Riau menunjukkan arus migrasi tenaga kerja dari Kepri masih kuat. Kondisi ini mencerminkan tingginya permintaan tenaga kerja Indonesia di negara tetangga sekaligus memperlihatkan posisi strategis Kepri sebagai salah satu kantong pekerja migran nasional.
Baca Juga: DATA: UMK Batam 2015-2021 dan Perbandingan Upah di Asia Tenggara
Kepala BP3MI Kepulauan Riau Imam Riyadi mengatakan, hingga Mei 2026 sebanyak 742 PMI asal Kepri bekerja di Singapura. Jumlah itu setara hampir separuh dari total penempatan pekerja migran dari provinsi tersebut.
“Data hingga Mei 2026 menunjukkan penempatan PMI dari Kepri mencapai 1.517 orang dengan Singapura masih menjadi negara tujuan terbanyak,” ujar Imam, Senin (1/6/2026).
Selain Singapura, negara tujuan utama lainnya adalah Malaysia sebanyak 401 orang, Taiwan 80 orang, Serbia 68 orang, dan Uni Emirat Arab 39 orang.
Data tersebut menunjukkan kedekatan geografis masih menjadi faktor penting dalam pola migrasi tenaga kerja Kepri. Singapura dan Malaysia yang berada di kawasan perbatasan menjadi pasar kerja utama karena akses yang relatif dekat serta kebutuhan tenaga kerja yang terus tersedia.
Berdasarkan jenis kelamin, penempatan PMI dari Kepri masih didominasi laki-laki. Sebanyak 1.408 pekerja merupakan laki-laki, sedangkan 109 lainnya perempuan.
Dominasi pekerja laki-laki berkaitan dengan karakteristik pekerjaan yang paling banyak diisi PMI asal Kepri, yakni sektor pelayaran dan pekerjaan teknis yang membutuhkan keterampilan khusus.
Menurut data BP3MI Kepri, jabatan yang paling banyak ditemati PMI adalah able seaman atau awak kapal sebanyak 254 orang. Posisi berikutnya adalah welder atau juru las sebanyak 195 orang, captain atau nahkoda 98 orang, chief officer 91 orang, dan chief engineer 83 orang.
“Karakteristik penempatan PMI Kepri masih didominasi profesi seperti able seaman, welder, captain, chief officer, dan chief engineer,” kata Imam.
Dari sisi mekanisme penempatan, mayoritas PMI berangkat secara perseorangan. BP3MI mencatat 1.328 orang menggunakan skema tersebut. Sebanyak 188 orang berangkat melalui perusahaan penempatan pekerja migran Indonesia (P3MI), sedangkan satu orang melalui skema penempatan pemerintah.
Adapun layanan penempatan tersebar melalui sejumlah unit pelayanan. Sebanyak 53 PMI terlayani melalui BP3MI Kepri, 1.348 orang melalui Pos Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P4MI), dan 116 orang melalui P4MI Karimun.
Di balik tingginya angka penempatan tersebut, BP3MI Kepri mengingatkan pentingnya kepatuhan terhadap prosedur resmi. Jalur legal tidak hanya berkaitan dengan administrasi keberangkatan, tetapi juga menentukan akses pekerja migran terhadap perlindungan hukum dan bantuan negara apabila menghadapi persoalan di negara tujuan.
“Kalau tidak mengikuti prosedur resmi, negara tidak bisa memberikan jaminan pelindungan secara optimal kepada PMI sebelum berangkat, saat bekerja, maupun setelah kembali ke Indonesia,” ujar Imam.
Ia meminta calon PMI mempersiapkan kompetensi kerja sebelum berangkat, baik melalui Balai Latihan Kerja maupun lembaga pelatihan resmi. Selain itu, calon pekerja harus memastikan memiliki kontrak kerja yang sah, visa kerja resmi dari pemberi kerja, dan mengikuti Orientasi Pra Penempatan yang diselenggarakan BP3MI.
“Kami mengimbau seluruh calon PMI untuk menyiapkan kompetensi, memastikan dokumen kerja resmi, dan mengikuti seluruh tahapan penempatan secara prosedural agar bekerja dengan aman dan mendapatkan perlindungan penuh dari negara,” kata Imam. ANTARA
Baca Juga: 129 Pekerja Migran Indonesia Dideportasi dari Malaysia Akibat Overstay
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









