Schneider Electric Perkuat Ekosistem Services & Sustainability Lewat Monitoring Berbasis AI

(istimewa)

BATAM (gokepri.com) – Schneider Electric Indonesia memperkuat strategi layanan purnajual berbasis digital dan keberlanjutan melalui pengembangan West Service Hub di Batam, Kepulauan Riau.

Business Vice President Services & Sustainability Schneider Electric Indonesia, Geraldi Tjhin mengatakan, layanan ini tidak lagi sebatas perbaikan atau penggantian suku cadang, melainkan mencakup konsultasi teknis, pemeliharaan berbasis prediksi, hingga modernisasi aset industri secara end-to-end.

“Jadinya kalau kata-kata services itu ya yang kita dengar dan kita tahu itu lebih ke traditional services yang seperti yang tadi saya bilang. Tapi di Schneider kita punya end to end activity,” ujar dia.

HBRL

Dia mengatakan, transformasi layanan tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan industri kritikal seperti data center, manufaktur elektronik hingga sektor energi.

“Selama ini services identik dengan perbaikan ketika rusak. Padahal kami memiliki pendekatan end-to-end mulai dari konsultasi, perawatan berbasis langganan, sampai modernisasi aset yang mendukung efisiensi energi dan pengurangan emisi,” ujar Geraldi.

Ia menjelaskan, portofolio layanan Schneider dirangkum dalam tiga siklus utama, yakni EcoConsult, EcoCare, dan EcoFit.

EcoConsult berfokus pada audit dan asesmen teknis, termasuk audit energi, verifikasi keselamatan kelistrikan, hingga pemetaan kondisi aset. Tim konsultan yang berbasis di Jakarta dan mendukung kawasan Asia Timur tersebut memiliki sertifikasi internasional serta pengalaman melayani industri di Jepang, Korea, dan Thailand.

“Hasil audit bisa menunjukkan opsi investasi, proyeksi ROI, hingga potensi penurunan emisi karbon. Jadi pelanggan punya roadmap yang jelas sebelum mengambil keputusan,” katanya.

Tahap berikutnya adalah EcoCare, yakni layanan pemeliharaan berbasis keanggotaan (membership) dengan dukungan pemantauan digital. Sistem ini memanfaatkan sensor dan dashboard real-time yang terhubung ke platform berbasis cloud untuk memantau parameter kritikal peralatan.

Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan machine learning dan kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi anomali dan memprediksi potensi gangguan sebelum terjadi kerusakan.

“Dulu maintenance bersifat corrective, datang setelah rusak. Lalu berkembang jadi preventive berbasis kalender. Sekarang kami bergerak ke predictive maintenance berbasis kondisi dan data aktual,” jelas Geraldi.

Pendekatan ini dinilai krusial bagi industri seperti data center, yang mensyaratkan tingkat keandalan hingga 99,93 persen atau downtime maksimal sekitar satu jam per tahun sesuai standar layanan (SLA).

Sementara itu, EcoFit berfokus pada modernisasi dan retrofit peralatan tanpa harus mengganti seluruh sistem. Misalnya, penggantian komponen kritikal atau konversi teknologi yang lebih ramah lingkungan, termasuk solusi bebas gas SF6 yang berpotensi merusak lingkungan.

“Tidak semua harus diganti. Dengan perawatan yang tepat, umur aset bisa diperpanjang dan efisiensi meningkat. Ini bagian dari komitmen sustainability kami,” ujarnya.

Secara global, Schneider Electric merupakan perusahaan manajemen energi dan otomasi yang beroperasi di lebih dari 100 negara dengan sekitar 200 fasilitas produksi dan lebih dari 150.000 karyawan. Perusahaan menargetkan pencapaian net zero carbon pada 2030 dalam operasionalnya.

Di Indonesia, Batam dipilih sebagai salah satu pusat layanan strategis karena kedekatannya dengan Singapura dan Malaysia serta akses cepat ke wilayah barat Indonesia seperti Medan, Pekanbaru, hingga Aceh.

West Service Hub Batam saat ini telah menangani sedikitnya empat proyek besar, termasuk fasilitas data center di Nongsa Digital Park serta proyek industri yang terhubung hingga Papua.

Selain memperkuat infrastruktur digital, Schneider juga membangun Center of Excellence di Batam untuk pengembangan talenta lokal.

“Fasilitas ini tidak hanya melatih teknisi internal, tetapi juga mitra tersertifikasi dan pelanggan, guna meningkatkan pemahaman produk dan respons terhadap potensi gangguan sistem,” ujar dia.

Menurut Geraldi, meski teknologi AI menjadi tulang punggung layanan prediktif, interaksi manusia tetap menjadi kunci dalam bisnis layanan.

“Teknologi membantu memberi peringatan dini, tetapi kedekatan dengan pelanggan, kecepatan respons, dan kompetensi teknisi lokal tetap menentukan kualitas layanan,” katanya.

Dengan integrasi konsultasi teknis, monitoring digital berbasis AI, serta pendekatan keberlanjutan, Schneider Electric menargetkan peningkatan pengalaman pelanggan secara menyeluruh sekaligus mendukung transformasi industri nasional menuju efisiensi energi dan dekarbonisasi. (ngesti)

 

Pos terkait