Bisnis busana milik ritel asing bertaburan di Batam dua tahun terakhir. Setelah H&M dan Uniqlo, Zara menyusul. Berebut pasar kelas menengah-atas Kota Batam yang selama ini lebih memilih cuci mata dan belanja di Singapura. Sebagian besar dibawa PT Mitra Adiperkasa Tbk, raja ritel Tanah Air.
Batam (Gokepri.com) – Surga busana itu diciptakan Grand Batam Mal pada 2019 lalu. Gerai-gerai ritel pakaian seperti Uniqlo dan H&M mampu menggelitik saraf tukang belanja seantero Kota Batam. Ketika pembukaan Agustus 2019 lalu, gerai Uniqlo banjir pengunjung karena harga dilorot dengan diskon. Busana-busana gerai itu ludes selama pembukaan.
Gerai H&M dan Uniqlo di Grand Batam Mall menjadi yang perdana di kota ini. Kehadiran ritel fesyen asal Swedia dan Jepang tersebut mengubah pola konsumsi masyarakat Kota Batam terutama kelas menengah-atas. Kelas ini sebelum deretan ritel asing berbisnis di Batam, memilih gerai di Singapura yang hanya 45 menit menggunakan feri.
“Dulu sebelum buka di Batam, belanja Uniqlo di ION Orchard Singapura,” ujar Neti Sari, 28 tahun, warga Batam, baru-baru ini.
Manajer bagian F&B hotel ini rutin ke Singapura untuk berlibur sekaligus belanja. Berangkat hari Sabtu dan pulang esok harinya. Kalau tidak sendiri, ia belanja pakaian bersama keluarganya terutama tiap jelang Lebaran. Kebiasaan belanja khususnya busana itu dikurangi sejak H&M dan Uniqlo ada di Batam.
Setali tiga uang dengan Neti, Dewi Larasati sejak Uniqlo dan H&M buka di Grand Mall, lebih sering membawa suami dan empat anaknya cuci mata di dua gerai itu tapi sebelum pandemi. “Apalagi kalau lagi diskon. Buat baju anak-anak,” ungkap ibu rumah tangga dan pengusaha bisnis makanan ini.
Urusan diskon memang menggoda. Gino memborong kemeja seragam H&M untuk karyawannya. Ia memilih belanja di H&M karena selain diskon, ia percaya pakaiannya punya kualitas bagus. “Ini beli tujuh kemeja warna krem. Nanti dipasang logo perusahaan,” kata pria yang berprofesi sebagai pengusaha itu.
Pola konsumsi warga Batam tersebut menggambarkan terjadinya pergeseran sejak ritel asing tumbuh subur di Batam, terutama dua tahun terakhir. Tak cuma pakaian, tapi juga sampai ke lini bisnis makanan ritel asing seperti Burger King dan Starbucks.
Pengamat ekonomi melihat adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat khususnya konsumen menengah-atas di Batam, yang sebelumnya hanya menikmati brand-brand lokal yang dibawa oleh Matahari Dept Store atau di pertokoan Nagoya yang menjual produk impor asal singapura. Beberapa pemasok juga ada yang membawa fesyen Korea dan Hongkong dan dijual melalui medsos.
“Kehadiran brand fashion internasional seperti H&M, Uniqlo dan Zara membuktikan bahwa pangsa pasar produk branded itu memang besar di Batam, dan ini yang ditangkap sebagai peluang sehingga brand-brand tersebut percaya diri untuk membuka outletnya di sini. Bahkan H&M akan membuka outlet kedua di Mall Pollux, sebelumnya di Grand Batam Mall,” papar Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Internasional Batam, Suyono Saputra.

Ritel asing itu tak berhenti ekspansi meski di tengah pandemi. H&M dipastikan membuka gerai kedua di Batam yakni di Pollux Mall, Batam Centre. Gerainya dalam persiapan peluncuran setelah serah terima unit pada Desember 2020.
Selain H&M, Zara ritel busana asal Spanyol juga akan membuka gerai di salah satu mal sekaligus menjadi gerai pertama Zara di kota ini. Semuanya dibawa PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI). Sedangkan Uniqlo berada di bawah PT Fast Retailing Indonesia.
Pollux yakin strategi memboyong ritel asing ke Batam bisa menjadi daya tarik mendatangkan wisatawan mancanegara. “Pollux Mall akan menjadi mal terbesar di Batam, yang terdiri dari tiga lantai. Karena konsep superblok, maka mal ini dapat menjadi one stop living, one stop entertainment, one stop shopping dan one stop bussines dengan H&M dan beberapa tenant dari MAP Group sebagai jangkar. Hal ini agar dapat menarik pasar internasional seperti turis dari Singapura dan Malaysia,” papar Presiden Komisaris Pollux Habibie International, Ilham Habibie, saat serah terima unit kepada H&M di Batam, 8 Desember 2020.
Dari sisi perilaku konsumen, Suyono melihat perubahan pola konsumsi masyarakat Batam berasal dari brand-brand asing tersebut. “Konsumen ‘dipaksa’ berubah atau driven by market dan menikmati brand-brand asing tersebut. Dengan kata lain, brand seperti ini belum ada sebelumnya, dan konsumen akhirnya memilih ini sebagai bagian dari gaya hidup,” sambung Suyono.
Industri ritel menangkap peluang bisnis dari peta konsumen di masyarakat Batam yang gaya hidupnya sudah berubah modern dan gemerlap. Banyak apartemen yang beroperasi dan kehadiran hotel berbintang menjadi indikasi bahwa segmen masyarakat menengah atas memang membutuhkan produk-produk yang sesuai dengan gaya hidup mereka.
“Jika kita kaitkan dengan piramida kebutuhan, bagi masyarakat menengah atas, kebutuhan papan dan sandang bukan sekedar penutup tubuh saja, tapi sudah ada value dan style yang membedakan kelas sosialnya dengan kelompok konsumen yang lain,” papar Suyono.
Industri ritel tak sembarangan berekspansi ke Batam tanpa memetakan kekuatan daya beli kelas menengah-atas dan seberapa besar segmen kelas ini. Suyono menggambarkan asumsi komposisi konsumen kelas menengah digabungkan dengan kelas atas sebanyak 40-50%, atau seimbang dengan segmen kelas menengah ke bawah. “Batam bisa dikatakan sebagai promising market, karena kelas masyarakatnya yang dinamis dan potensial dijadikan pasar,” tutur Suyono lagi.
Pasar menjanjikan kelas menengah-atas tersebut juga ditopang data yang menunjukkan Batam adalah salah satu kota makmur di Indonesia. Data BPS menunjukkan Kota Batam adalah yang terkaya di Sumatera pada 2019. PDRB per kapitanya menyentuh RP119,33 juta per tahun atau hampir dua kali lipat dari PDRD per kapita Indonesia.
Kemegahan kota ini juga tampak dari deretan gedung-gedung tinggi yang kian gemerlap. Dibanding kota lain di Sumatra, gedung-gedung di Batam terlihat lebih menawan. Di bawah Batam, ada Dumai dengan PDRB per kapita terbesar di Sumatera dan Padang di peringkat 10.
Sebelum pandemi, daya beli masyarakat Batam dapat dikatakan tinggi. Produk ritel, kuliner, otomotif, dan rumah relatif meningkat. Tapi Suyono melihat selama pandemi terjadi pergeseran pola belanja dan jenis kebutuhan. Pola belanja offline beralih ke online, jenis kebutuhan prioritas bergeser ke kebutuhan fisiologis/primer (makan minum dan kesehatan). Belanja barang sekunder mulai dikurangi, apalagi tersier seperti rumah, mobil, perhiasan, sama sekali ditinggalkan. Itu sebabnya penjualan mobil anjlok, dan rumah turun drastis, pakaian merosot.
“Ini juga jadi tantangan bagi brand asing tersebut selama pandemi. Apakah mereka mampu bertahan hingga pasar benar-benar pulih dan daya beli bisa kembali seperti semula. Harus diingat juga, pola konsumsi yang berubah ke online itu juga dapat mematikan eksistensi mal dan physical store. Apalagi konsumen dengan mudah mencari padanan produk sejenis di jagad online dengan harga bersaing,” papar Suyono.
Sebagian besar ritel asing seperti H&M, Zara hingga Starbucks di Batam bermuara di satu tangan, PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI). Raja ritel Tanah Air ini tampaknya belum akan berhenti berekspansi di Batam. Dalam dua tahun terakhir mereka memiliki tiga gerai Starbucks di kota ini, dua gerai H&M dan gerai pertama Zara. Dalam waktu dekat, mereka akan buka gerai ritel Genki Sushi di lantai dasar Grand Batam Mal. Peluncuran jadwalnya Kamis 22 April 2021. Genki Sushi menjadi gerai ritel terbaru MAP di Batam.
Gencar ekspansi di sana sini, PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAP) mengalami penurunan penjualan hingga akhir 2020 dikarenakan pandemi Covid-19. Perseroan mencatat penurunan pendapatan bersih hingga 31,4 persen menjadi Rp14,8 triliun dan rugi usaha sebesar Rp56,9 miliar.
Meski demikian, dikutip dari Bisnis.com, VP Investor Relations, Corporate Communications, and Sustainability Ratih D. Gianda mengatakan penjualan digital perseroan mencapai 10,3 persen dari total penjualan. Jumlah tersebut melesat hingga 236 persen dibandingkan dengan 2019 lalu. Ratih menyampaikan pada kuartal IV/2020, total penjualan MAP meningkat secara signifikan dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, tercermin dari pendapatan bersih yang tercatat sebesar Rp4,6 triliun, naik 36,5 persen dari kuartal sebelumnya.
Ratih menambahkan, konversi penjualan dengan harga normal yang lebih besar dan pengurangan beban usaha secara agresif yang terus berlanjut, membuat MAP kembali meraih laba bersih pada kuartal ke IV.
“Persentase penjualan yang memadai pada kuartal ke-IV berasal dari kontribusi anggota MAP CLUB, dan nilai penjualannya dapat terus meningkat, seiring dengan upaya kami menganalisa data untuk memaksimalkan program loyalty secara lebih menyeluruh,” jelasnya. Dengan kekuatan strategi multi-channel unified retail tersebut, Ratih mengatakan perseroan optimistis akan meningkatkan pangsa pasar dan pertumbuhan yang menguntungkan di tahun 2021.
Gurita MAP di Batam juga tak berhenti di Genki Sushi. Mereka digandeng korporasi real estate asal Singapura Tuan Sing Holdings yang meluncurkan tahap pertama proyek properti Opus Bay di Kota Batam. Proyek ini menawarkan hunian apartemen, mal dan hotel di tepi pantai kawasan Marina, Sekupang. Pusat perbelanjaan Opus Bay akan diisi jaringan ritel fesyen global hingga vendor ritel yang dibawa PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAP).
“Sebagai kawasan perdagangan bebas, Batam dikecualikan dari beberapa peraturan bea cukai dan pajak, sehingga membuka jalan bagi pasar properti dan investor berbisnis di Batam,” ungkap William Liem, Kepala Eksekutif Tuan Sing Holdings, dikutip dari Business Times baru-baru ini. (Can)









