JAKARTA (gokepri) – Kawasan Ekonomi Khusus Johor-Singapura atau SEZ-JS dinilai Dewan Ekonomi Nasional (DEN) sebagai alarm bagi Indonesia. Daya saing 24 KEK di dalam negeri perlu dievaluasi agar tidak kalah menarik di mata investor.
Wakil Ketua DEN, Mari Elka Pangestu, mengatakan KEK Johor-Singapura diluncurkan dengan berbagai insentif untuk menarik investasi asing. Ia mengingatkan, pembentukan KEK ini secara langsung meningkatkan persaingan bagi KEK-KEK di Indonesia.
“Ini wake up call bagi kita untuk benar-benar memastikan kebijakan KEK di bidang industri maupun bidang lainnya. Kita harus cermati apakah insentif yang ditawarkan sudah baik dan comparable dengan apa yang ditawarkan Malaysia dan Singapura,” katanya, dikutip dari DDTC, portal berita perpajakan, pada Kamis, 16 Januari 2025.
Mari Elka menjelaskan KEK Johor-Singapura sebenarnya bukan hal baru. Pada era 1990-an, Indonesia bersama Malaysia dan Singapura pernah membentuk Segitiga Pertumbuhan SIJORI yang mencakup Singapura, Johor, dan Kepulauan Riau.
Melalui KEK Johor-Singapura, Malaysia dan Singapura bekerja sama untuk menarik lebih banyak investasi. Meski begitu, Indonesia tetap memiliki keunggulan yang bisa menjadi daya tarik investasi, terutama yang berkaitan dengan sumber daya alam dan tenaga kerja.

Ia menjelaskan, insentif fiskal memang menjadi pertimbangan investor dalam menentukan tujuan investasi. Namun, berbagai kemudahan nonfiskal juga turut menentukan. “Kita harus lebih agresif dalam mencari investor yang mau masuk dengan membawa supply chain-nya,” ujarnya.
Sementara itu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai inisiatif Malaysia tersebut meniru keberhasilan Indonesia dalam membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Namun, di balik potensi manfaat regional, JS-SEZ juga menghadirkan tantangan baru bagi Indonesia dalam menarik investasi.
“Mereka melihat kita sudah membangun beberapa KEK, terutama Malaysia melihat itu sebagai salah satu keberhasilan Indonesia mengembangkan kritikal mineral,” kata Airlangga, Senin, 13 Januari 2025. “Mereka ingin meniru untuk bidang inovasi digital, termasuk kecerdasan buatan (AI), cloud computing, dan lain-lain.”
Airlangga menilai Indonesia tidak bisa melarang negara lain meniru kebijakan. Kuncinya, kata dia, Indonesia harus siap bersaing. “Ancaman ada di mana-mana, tapi kita harus bersaing, itu saja kuncinya,” ujarnya.
Kehadiran JS-SEZ menjadi tantangan bagi Indonesia dalam menarik investasi asing, terutama di sektor pusat data (data center). Penasihat Khusus Presiden Prabowo Subianto di bidang Ekonomi dan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro, mengakui persaingan semakin ketat.
Ia mencontohkan, Indonesia tertinggal jauh dari Malaysia dalam investasi pusat data, bahkan dibandingkan Johor sekalipun. “Indonesia punya aspirasi menggaet lebih banyak Foreign Direct Investment (FDI) ke pusat data, ternyata kita ketinggalan jauh. Tak usah bandingkan dengan Singapura. Dibanding Johor saja, kita sudah jauh tertinggal,” kata Bambang dalam acara Mindialogue, Jumat, 10 Januari 2025.
Zona Ekonomi Johor-Singapura
Singapura dan Malaysia resmi menandatangani perjanjian pembentukan JS-SEZ pada pertemuan puncak pemimpin kedua negara ke-11 atau Leaders’ Retreat di Putrajaya, Malaysia, Selasa, 7 Januari 2025. Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, dan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, hadir dalam seremoni tersebut.
Wong menegaskan JS-SEZ bertujuan menciptakan lapangan kerja dan memperluas peluang ekonomi bagi masyarakat kedua negara, serta menarik investasi global melalui kekuatan komplementer kedua negara. Anwar Ibrahim menyoroti keunikan inisiatif ini dan menekankan stabilitas politik serta kebijakan ekonomi yang jelas di kedua negara sebagai daya tarik bagi investor.
JS-SEZ, yang pertama kali diumumkan pada Oktober 2023, dirancang untuk mempermudah pergerakan barang dan orang antara Johor dan Singapura.
Malaysia telah mengumumkan serangkaian insentif pajak untuk memikat investor ke KEK Johor-Singapura. Pemangkasan pajak menjadi andalan utama, salah satunya tarif khusus 5 persen bagi perusahaan yang berinvestasi di sektor bernilai tinggi.
Kementerian Keuangan Malaysia dan Pemerintah Negara Bagian Johor, dalam pernyataan bersama pada 8 Januari 2025, menyebutkan tarif 5 persen ini berlaku selama 15 tahun. Insentif ini menyasar perusahaan di bidang manufaktur dan jasa tertentu. Rantai pasok kecerdasan buatan (AI) dan komputasi kuantum, perangkat medis, serta manufaktur kedirgantaraan, menjadi prioritas.
Tak hanya perusahaan, pekerja terampil di JS-SEZ pun mendapat insentif. Mereka akan dikenai pajak penghasilan 15 persen selama 10 tahun. Semua insentif ini berlaku surut sejak 1 Januari. Pemerintah Johor juga memangkas bea hiburan sejak awal tahun.
JS-SEZ membentang seluas 3.571 kilometer persegi di selatan Johor, dari pantai timur hingga barat. Wilayah yang empat kali lebih luas dari Singapura ini terbagi dalam sembilan zona unggulan: Pusat Kota Johor Bahru, Iskandar Puteri, Forest City, Kompleks Minyak Terpadu Pengerang, Tanjung Pelepas-Tanjung Bin, Pasir Gudang, Senai-Skudai, Sedenak, dan Desaru.
Pada 2030, JS-SEZ diproyeksikan memberikan kontribusi 117,1 miliar ringgit per tahun bagi perekonomian Malaysia dan menciptakan 20 ribu lapangan kerja terampil melalui 100 proyek.
Baca Juga:
Zona Ekonomi Johor-Singapura, Alarm Berbenah bagi Kepri
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









