Perusahaan manufaktur mengalihkan produksi dari Cina ke Batam. Insentif, tenaga kerja, energi, dan kedekatan Singapura memperkuat daya tarik.
BATAM (gokepri) – Batam mulai dipilih sebagai basis produksi ketika perang dagang Amerika Serikat-Cina memaksa perusahaan mendiversifikasi rantai pasok. Perusahaan datang bukan hanya karena tarif, tetapi juga karena tenaga kerja, insentif, energi, dan kedekatan Batam dengan Singapura.
Perubahan itu terlihat dari keputusan Dongguan Welson Plastic Hardware Products, produsen mainan asal Cina yang memasok Walt Disney dan Crayola. Pada Juli lalu, anak usahanya, Welson Group Indonesia, membuka pabrik pertama di luar Cina di Batam.
Baca Juga: Ekspor Batam ke AS Terancam, HKI Minta Pengecualian Tarif Trump
Dikutip dari Bloomberg, pabrik tersebut memproduksi lebih dari 30 produk cenderamata untuk toko di taman hiburan Disney. Di antaranya wadah popcorn berbentuk kereta labu Cinderella serta figur Olaf dari Frozen dan Sulley dari Monsters, Inc..
General Manager Welson Andy Yao mengatakan perusahaan terpaksa mencari lokasi produksi baru setelah pelanggan meminta diversifikasi rantai pasok. Biaya produksi di Cina yang meningkat memperkuat keputusan tersebut.
“Kami tidak punya pilihan selain melakukan diversifikasi,” kata Yao saat mengunjungi Batam untuk memeriksa spesifikasi akhir pabrik.
Keputusan itu muncul setelah tarif Liberation Day Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada April 2025 memperbesar tekanan terhadap perusahaan yang bergantung pada produksi Cina. Welson khawatir kehilangan pesanan jika seluruh produksinya tetap berada di Cina.
Batam awalnya tidak masuk daftar Yao. Ia bahkan belum mengetahui keberadaan pulau itu ketika mulai mencari lokasi alternatif.
Welson lebih dulu meninjau Malaysia, Thailand, Kamboja, dan Vietnam. Seorang kenalan kemudian menyarankan Batam, yang dikunjungi Yao pada Juli tahun lalu.
Tiga bulan setelah kunjungan itu, Welson menandatangani kontrak sewa. Batam memenuhi sejumlah kebutuhan yang dicari perusahaan.
Pulau itu hanya sekitar 40 menit perjalanan feri dari Singapura. Jarak tersebut memudahkan pengiriman barang sekaligus memungkinkan pelanggan datang untuk mengaudit fasilitas produksi.
Faktor lain adalah tenaga kerja. Lebih dari separuh penduduk Batam berusia di bawah 30 tahun, menyediakan basis pekerja muda ketika sejumlah negara Asia Tenggara mulai menghadapi kekurangan tenaga kerja.
Welson akan mempekerjakan 300 orang pada tahap awal dan menargetkan jumlahnya mencapai 600 pekerja pada akhir 2027.
Status kawasan perdagangan bebas Batam juga menjadi pertimbangan. Perusahaan mendapat pembebasan pajak atas impor bahan baku dan mesin, sementara barang jadi tidak dikenai bea keluar.
Kombinasi faktor itu membuat Batam tidak sekadar menjadi tempat pelarian produksi dari Cina. Relokasi yang dipicu perang dagang bertemu dengan infrastruktur dan kebijakan yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Ekspor Berlipat
Dampaknya mulai terlihat pada skala ekonomi. Sejak masa jabatan pertama Trump pada 2017, nilai ekspor Batam lebih dari dua kali lipat hingga mencapai sekitar US$19,6 miliar pada 2025.
Pertumbuhan ekonomi Batam juga melampaui Indonesia sejak pandemi, ditopang ekspor, manufaktur, dan investasi. Pada 2025, ekonomi Batam tumbuh 6,8 persen, sedangkan ekonomi nasional tumbuh 5,1 persen.
Pada kuartal pertama tahun ini, ekonomi Batam masih tumbuh 5,8 persen, sedikit di atas pertumbuhan nasional sebesar 5,6 persen.
Batam juga memiliki keunggulan energi yang jarang dibicarakan. Lebih dari 80 persen listrik di pulau itu berasal dari gas alam, menurut Mardika Parama, Direktur Energi, Iklim, dan Sumber Daya BowerGroupAsia Indonesia.
Komposisi tersebut dinilai lebih sesuai bagi industri dibandingkan pasokan listrik berbasis batu bara yang mendominasi Jawa dan sebagian besar wilayah Indonesia. Batam juga relatif terlindung dari bencana alam karena berada di luar kawasan Cincin Api Pasifik.
Kawasan ekonomi khusus dan berbagai fasilitas investasi turut membuat pulau itu lebih tahan terhadap tekanan ekonomi yang terjadi di wilayah lain Indonesia.
Perubahan itu tidak hanya menarik produsen manufaktur. Dalam 12 bulan terakhir, Apple membangun pabrik AirTag yang kini memasok sekitar 70 persen kebutuhan global produk tersebut.
Oracle dan Gaw Capital Advisors asal Hong Kong juga menanamkan investasi pada fasilitas cloud dan pusat data. Firmus Technologies kemudian mengumumkan rencana membangun pusat data berkapasitas 360 megawatt melalui kemitraan dengan Nvidia.
Pemerintah Mengejar Momentum
Pemerintah mulai memperlakukan pertumbuhan Batam sebagai peluang investasi yang perlu dipertahankan. Kementerian Investasi dan Hilirisasi mendirikan kantor permanen di Batam pada Juni 2025 untuk mempermudah investasi dan menangani kebutuhan perusahaan.
Presiden Prabowo Subianto juga membahas percepatan transformasi Batam bersama pemimpin daerah pada Juli lalu. Salah satu arahannya ialah pengembangan pelabuhan internasional untuk menekan biaya logistik dan memperkuat daya saing ekspor.
Bagi investor, keberhasilan perusahaan yang lebih dulu masuk justru menjadi promosi paling efektif. Pengalaman perusahaan di Batam dapat menyebar melalui jaringan bisnis global.
“Pengalaman perusahaan yang sudah beroperasi menjadi alat pemasaran terkuat Batam,” kata Parama.
Menurut dia, investor akan membawa cerita tentang manfaat Batam kepada perusahaan lain jika investasi dan rantai pasok mereka benar-benar menghasilkan keuntungan.
Dibangun Sebelum Trump
Keunggulan Batam hari ini bukan sepenuhnya produk perang dagang. Fondasinya dibangun sejak puluhan tahun lalu, ketika pulau itu masih dipenuhi kampung nelayan dan hutan mangrove.
Pada awal 1970-an, Pertamina menjadikan Batam sebagai basis logistik untuk kegiatan minyak dan gas lepas pantai. Dari sektor itu, Batam perlahan menarik produsen asing di bidang elektronik dan produk rekayasa.
Perjalanan tersebut antara lain tercermin dari perkembangan Citramas Group, konglomerasi berbasis Batam yang dipimpin pengusaha Kris Taenar Wiluan. Bisnisnya merambah properti dan pariwisata serta menjadi pengembang Nongsa Digital Park, salah satu dari lima kawasan ekonomi khusus di Batam.
Citramas sebelumnya membangun infrastruktur untuk mendukung perusahaan minyak dan gas. Pada 1980-an, grup tersebut mulai mengembangkan pariwisata ketika Batam dipandang sebagai tujuan akhir pekan murah bagi warga Singapura dan Malaysia.
Sejumlah resor kemudian dibangun, termasuk lapangan golf 18 lubang yang dirancang Jack Nicklaus.
Namun, Mike Wiluan, anak kedua sekaligus putra sulung Kris, melihat peluang berbeda pada ekonomi digital.
Mik Wiluan, yang juga pembuat film, mendirikan Infinite Studios di lahan lebih dari enam hektare. Kompleks itu memiliki berbagai set film yang digunakan untuk serial Westworld dan film Monkey Man, debut penyutradaraan aktor Hollywood Dev Patel.
Produksi film dan animasi dari studio tersebut kemudian ditayangkan melalui Netflix, HBO, dan Apple TV. Wiluan juga menjadi salah satu produser film Crazy Rich Asians.
Sebelum proyek-proyek Hollywood masuk, Wiluan mengaku harus meyakinkan calon mitra asing bahwa Batam mampu menjadi lokasi produksi film.
“Semua orang hanya mencoba membayangkan tempat seperti apa ini,” ujar Wiluan.
Infinite Studios kemudian menjadi cikal bakal Nongsa Digital Park yang diluncurkan pada 2018. Kawasan seluas 188 hektare itu diposisikan sebagai jembatan digital antara Indonesia dan Singapura.
Lahan untuk pusat data di kawasan tersebut kini telah terisi, antara lain oleh DayOne Data Centers Singapore dan BW Digital. Permintaan bahkan telah membentuk daftar tunggu, didorong keberadaan 14 sistem kabel bawah laut yang menghubungkan Batam dengan jaringan regional.
Batam tetap menghadapi pesaing. Malaysia dan Thailand sama-sama membangun posisi sebagai pusat pusat data, sementara Kawasan Ekonomi Khusus Johor-Singapura yang diluncurkan pada 2025 membidik investasi digital dan manufaktur.
Mike Wiluan melihat Batam masih mempunyai ruang untuk bersaing. Di Nongsa, Citramas menyiapkan pengembangan infrastruktur hijau serta proyek energi terbarukan, termasuk tenaga surya, air, dan pembangkitan listrik.
Transformasi itu mulai menyentuh tenaga kerja lokal. Apple dan IBM memiliki akademi di Nongsa yang mengajarkan teknologi digital kepada warga Batam.
Infinite Studios juga menyediakan pelatihan perangkat lunak animasi gratis selama satu bulan. Peserta dengan hasil terbaik mendapat kesempatan bekerja di perusahaan tersebut.
Program yang dimulai pada 2016 itu kini memasuki angkatan ke-19. Tommy Bagasdame, 31 tahun, merupakan salah satu lulusan yang kemudian bekerja di studio tersebut sejak delapan tahun lalu.
Menurut Bagasdame, keberadaan perusahaan kreatif memberi pilihan baru bagi pekerja lokal yang sebelumnya harus memilih pekerjaan pabrik dan administrasi atau pindah ke kota besar seperti Jakarta.
Pendapatan per kapita Batam pada 2025 juga tercatat lebih tinggi daripada Jakarta. Tingkat pengangguran di Batam turun menjadi 7,6 persen pada 2025 dari 11,8 persen pada 2020.
Dari AirTag hingga Mainan Disney
Di selatan Nongsa, perkembangan manufaktur terlihat di kawasan industri Tunas Prima seluas 100 hektare. Pabrik AirTag Apple berdiri di kawasan tersebut.
Luxshare Precision Industry telah mempekerjakan sedikitnya 2.000 warga lokal di fasilitas itu dan berencana meningkatkan jumlah pekerja menjadi 6.000 dalam beberapa bulan mendatang, menurut sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut.
Apple dan Luxshare tidak memberikan tanggapan.
Kawasan yang dikembangkan Tunas Group itu kini terisi sekitar 60 persen. Selain Welson, terdapat pabrik furnitur luar ruang yang produknya dijual melalui Walmart dan Costco Wholesale.
Tunas Group memiliki dua kawasan industri lain yang seluruh lahannya telah terisi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa permintaan industri di Batam tidak hanya berasal dari satu gelombang relokasi.
Kepala Pengembangan Bisnis Tunas Group Chrispin Andereas menilai perang dagang hanya mempercepat tren yang sudah berkembang di Asia Tenggara.
“Saya kira Trump tidak menyadari bahwa kebijakannya ikut mendorong kebangkitan Batam,” kata Andereas.
Menurut dia, gangguan rantai pasok telah menguntungkan bukan hanya Batam, melainkan banyak negara di Asia Tenggara. Tren diversifikasi produksi itu diperkirakan terus berlangsung. BLOOMBERG
Baca Juga: Tarif Nol Persen AS, Industri Batam Siap Ekspansi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









