Batam (gokepri.com) – Metode link and match dan program Teaching Factory atau kelas industri menjadi strategi agar lulusan SMK tak ada lagi yang menganggur. Perlu diperluas tak hanya di Batam.
Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Kepri Wahyu Wahyudin mengatakan sekolah kejuruan atau SMK harus lebih memperluas link and match dan membuka program teaching factory atau kelas industri. Hal ini agar lulusan SMK tidak ada lagi yang menganggur dan menghilangkan paradigma di masyarakat bahwa kontribusi pengangguran terbesar didominasi dari lulusan SMK.
Namun demikian diakui Wahyu, bila SMK di Kota Batam ini rata-rata telah melakukan program link and match tersebut. Hanya saja untuk kabupaten/kota lainnya di Provinsi Kepri dinilai Wahyu, masih terlihat lemah untuk program tersebut. Maka harus meniru pola-pola kurikulum SMK yang diterapkan di Kota Batam.
“Kalau dari pradigma masyarakat menilai kontribusi pengangguran terbesar dari lulusan SMK dan SMK di Indonesia adanya di Kepri,” ujar Wahyu usai menghadiri peluncuran gedung SMK Pusat Keunggulan di SMKN 6 Batam, Jumat 11 Februari 2022.
Disadari Wahyu, bila kelemahan SMK ini terletak dari sarana dan prasarana dimiliki dalam menunjang pembelajaran praktik para siswa. Akan tetapi saat ini secara bertahap kebutuhan sarana pendidikan SMK sudah mulai terpenuhi. Namun kata dia masih ada sebagian SMK yang masih keterbatasan sarana pendidikan dimiliki, sehingga skill didapat para siswa kurang mumpuni.
“Tidak semua SMK di Batam ini memiliki sarana dan prasarana yang memadai, masih ada beberapa SMK yang masih minim,” kata Wahyu lagi.
Maka dari itu, untuk meningkatkan mutu lulusan SMK ini, kata wahyu, harus ada political will dari pemerintah daerah dalam membantu melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan SMK.
“Saya juga mengimbau kepada pelaku usaha dan industri agar memberikan kontribusinya, baik itu berupa sarana dibutuhkan maupun tenaga ahli sebagai guru tamu mengajar di SMK ini,” ucapnya lagi.
Penulis: Arment Aditya









