JAKARTA (gokepri) – Bandara Kertajati disiapkan menjadi pusat pemeliharaan pesawat tempur TNI AU untuk mengurangi ketergantungan pada fasilitas asing. Pengembangan itu bertumpu pada kemampuan industri dan tenaga teknis Indonesia yang mulai teruji.
Rencana tersebut merupakan pengembangan dari pembangunan Kertajati sebagai pusat Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) pesawat angkut Hercules se-Asia. Pemerintah belum menetapkan jenis pesawat tempur maupun skema MRO yang akan dikembangkan.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal TNI Rico Ricardo Sirait mengatakan Kertajati akan dikembangkan bertahap. Kemampuan pemeliharaan yang semula ditujukan untuk pesawat angkut diarahkan mencakup pesawat tempur TNI AU. “Kertajati ke depan dikembangkan untuk memperkuat kemampuan pemeliharaan pesawat TNI AU,” kata Rico, Rabu, 19 Agustus 2026.
Baca Juga: Incar Penumpang ke Jabar, Bandara Kertajati Diperkenalkan di Batam
Pengembangan fasilitas di dalam negeri dinilai dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pihak asing untuk pemeliharaan dan pembaruan teknologi pesawat. Selain itu, proses tersebut membuka ruang transfer teknologi kepada perusahaan pertahanan nasional.
Transfer teknologi diharapkan meningkatkan kemampuan industri pertahanan dan sumber daya manusia yang terlibat. Pengetahuan tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk memperkuat kemampuan pemeliharaan alat utama sistem senjata Indonesia.
Namun, Kementerian Pertahanan belum menetapkan bentuk fasilitas MRO pesawat tempur di Kertajati. Pengembangan kemampuan tersebut masih berada pada tahap arah kebijakan, berbeda dengan fasilitas Hercules yang sudah masuk tahap pembangunan.
Rico mengatakan belum ada keputusan mengenai jenis pesawat tempur yang akan masuk dalam skema tersebut. Konsep teknis MRO juga masih menunggu pengembangan lebih lanjut.
Di sisi lain, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin melihat kemampuan industri dirgantara nasional sudah memiliki modal untuk mengembangkan MRO pesawat tempur. Salah satu indikatornya adalah keberhasilan perusahaan nasional merawat pesawat Hercules dalam pekerjaan pemeliharaan kelas berat.
PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk atau GMF menjadi perusahaan dalam negeri yang mengerjakan pemeliharaan kelas berat Hercules untuk pertama kalinya. Keberhasilan itu dinilai menunjukkan peningkatan kemampuan teknologi dan sumber daya manusia industri nasional.
Bagi Sjafrie, capaian tersebut menjadi dasar untuk melibatkan GMF bersama PT Dirgantara Indonesia dalam pengembangan MRO Kertajati. Kedua perusahaan itu diproyeksikan mendukung pemeliharaan pesawat TNI AU di fasilitas tersebut.
Namun, pemerintah belum menyebut waktu operasional MRO Kertajati untuk pesawat tempur. Penyelesaian fasilitas yang kini dikembangkan untuk Hercules menjadi tahap yang lebih dekat sebelum kemampuan MRO diperluas.
Harapannya, fasilitas itu kelak dapat digunakan PT DI dan GMF untuk merawat alutsista pesawat tempur maupun pesawat angkut TNI AU. Dengan demikian, kemampuan pemeliharaan tidak berhenti pada penguasaan fasilitas, tetapi berkembang menjadi kapasitas teknis nasional.
“Kami berupaya pengembangan kekuatan pertahanan dengan kemampuan awak teknis dari putra-putri bangsa Indonesia,” ujar Sjafrie.
Pengembangan MRO domestik juga memberi konsekuensi bagi industri pertahanan. Semakin banyak jenis pekerjaan pemeliharaan yang dapat ditangani di dalam negeri, semakin besar ruang bagi perusahaan nasional dan tenaga teknis untuk menguasai teknologi pesawat.
Karena itu, Kertajati tidak hanya diposisikan sebagai fasilitas perawatan pesawat. Pemerintah mengarahkannya sebagai bagian dari pembangunan ekosistem industri pertahanan yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap layanan asing.
Tahap awalnya tetap berfokus pada Hercules untuk kebutuhan MRO se-Asia. Setelah kemampuan dan fasilitas tersebut terbentuk, pemerintah membuka arah pengembangan menuju pemeliharaan pesawat tempur TNI AU.
Belum adanya jenis pesawat dan skema MRO menunjukkan proyek pesawat tempur masih berada pada tahap perencanaan. Tantangan berikutnya adalah memastikan kesiapan fasilitas, teknologi, industri, dan tenaga teknis sebelum kemampuan tersebut diterapkan pada alutsista tempur.
Jika tahapan itu terpenuhi, Kertajati dapat menjadi salah satu simpul pemeliharaan alutsista TNI AU sekaligus tempat penguatan kemampuan industri pertahanan nasional. ANTARA
Baca Juga: Perawatan Pesawat Nasional Didorong Pulang ke Dalam Negeri
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









