BATAM (gokepri.com) — Indonesia Aircraft Maintenance Services Association (IAMSA) mendorong percepatan penguatan industri perawatan pesawat nasional (Maintenance, Repair and Overhaul/MRO) agar mampu menjadi pusat layanan MRO di kawasan Asia
Ketua IAMSA sekaligus Direktur Utama GMF AeroAsia, Andi Fahrurrozi, mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi pemain utama industri MRO regional, namun masih menghadapi sejumlah tantangan mulai dari regulasi, investasi, hingga kapasitas perawatan komponen dan mesin pesawat.
Hal tersebut disampaikan dalam pembukaan Indonesia MRO Summit (IMROS) 2026 yang digelar di Batam.
“Pertumbuhan saja tidak cukup. Untuk tetap kompetitif, kita harus membangun industri yang tangguh, inovatif, dan kolaboratif,” ujar Andi.
Menurut dia, tema IMROS 2026 yakni Strengthening Indonesia’s Position as Asia MRO Hub menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi Indonesia di sektor kedirgantaraan.
Terkait kebijakan larangan dan pembatasan (lartas) serta kendala klasifikasi HS Code yang selama ini menjadi perhatian industri, Andi menyebut proses penyederhanaan regulasi untuk sektor perawatan pesawat telah berjalan.
Ia menjelaskan bahwa kebijakan pengecualian lartas untuk industri penerbangan telah dibahas sejak dua tahun terakhir. Saat ini, industri juga tengah menunggu terbitnya aturan lanjutan dari pemerintah terkait fasilitas impor suku cadang pesawat.
“Untuk spare part pesawat, bea masuk saat ini diarahkan menjadi 20 persen. Tahapan pembahasannya sudah selesai dan sebelumnya juga telah diumumkan pemerintah. Sekarang prosesnya masih tahap simbolisasi dan kami menunggu Peraturan Menteri Keuangan (PMK) diterbitkan,” katanya.
Menurut Andi, regulasi tersebut diharapkan dapat segera terealisasi guna meningkatkan daya saing industri penerbangan nasional.
IAMSA juga menyoroti besarnya potensi pasar MRO nasional yang saat ini belum sepenuhnya dinikmati pelaku usaha dalam negeri.
Andi menyebut industri MRO terbagi dalam empat segmen utama. Untuk segmen hanggar dan perawatan struktur pesawat (airframe), sekitar 90 persen pekerjaan disebut sudah mampu dikerjakan di dalam negeri.
Namun tantangan terbesar masih berada pada sektor komponen dan mesin pesawat.
“Kendala kita ada di komponen dan engine. Investasinya sangat besar. Banyak OEM sekarang membangun fasilitas MRO sendiri sehingga semakin eksklusif. Untuk engine, sekitar 70 persen masih dikerjakan di luar negeri,” ujarnya.
Dalam lima tahun ke depan, lanjut dia, belum terlihat adanya investasi besar untuk pengembangan fasilitas perawatan mesin baru di Indonesia.
Karena itu, IAMSA akan lebih fokus mendorong penguatan kapasitas perawatan komponen dan mesin sebagai langkah strategis untuk menarik kembali sekitar 46 persen pasar perawatan pesawat nasional yang saat ini masih mengalir ke luar negeri.
Selain itu, Andi juga memberikan perkembangan terkait rencana ekspansi GMF AeroAsia di proyek Kertajati Aerospace Park.
Ia menyebut saat ini perseroan masih berada pada tahap persiapan dan pematangan rencana pengembangan.
Pada kesempatan tersebut, Andi menegaskan bahwa Indonesia memiliki sejumlah keunggulan untuk menjadi hub MRO regional, mulai dari pasar penerbangan yang besar, pertumbuhan armada domestik, tenaga kerja yang kompeten, hingga posisi geografis yang strategis. Meski demikian, menurutnya transformasi industri tidak dapat dilakukan sendiri.
“Keberhasilan bergantung pada kekuatan ekosistem. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, regulator, maskapai, penyedia MRO, OEM, pemasok, institusi pendidikan, dan investor,” kata Andi.*
Penulis: Engesti








