BATAM (gokepri) – Kawasan transmigrasi bersiap berubah wujud menjadi pusat ekonomi hijau agar warga tidak sekadar pindah domisili, tetapi mampu mencapai kesejahteraan mandiri. Transformasi ini terwujud lewat rancangan tata ruang terpadu di wilayah Batam-Rempang-Galang (Barelang) berbekal riset gabungan lintas negara.
Kementerian Transmigrasi (Kementrans) menggandeng Technical University of Munich (TUM) Jerman dan Universitas Diponegoro (Undip) untuk menyusun strategi tersebut. Kolaborasi bergulir lewat program Summer Course bertajuk Transformative Transmigration Planning Towards Green Barelang pada 1-10 Oktober 2026 di Tanjung Banon.
Perubahan konsep ini bertujuan meramu rancangan kawasan yang lebih ramah lingkungan, mandiri, dan berkelanjutan secara jangka panjang. Integrasi tata ruang, ekonomi, pelestarian lingkungan hidup, serta pemberdayaan masyarakat menjadi kunci utama perancangan wilayah baru ini.
Baca Juga: Mentrans: Program Transmigrasi Rempang Fokus Tingkatkan Pendapatan Masyarakat
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan arah baru program ini berfokus membangun wilayah pendorong ekonomi kerakyatan. “Kami membangun ekosistem ekonomi tempat masyarakat dapat bekerja, berkembang, dan mencapai kesejahteraan,” ucap Iftitah.
Visi tersebut sejalan dengan target Kementrans merevitalisasi 45 kawasan transmigrasi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Langkah strategis ini bertujuan memangkas ketimpangan antarwilayah sekaligus mendongkrak angka pertumbuhan ekonomi daerah terluar.
Pada hari ketiga kegiatan, perwakilan lintas disiplin ilmu mulai dari geografi hingga teknik lingkungan turun mengobservasi kawasan Rempang Eco City. Mereka mengumpulkan data lapangan dan menjaring aspirasi warga sebagai landasan pembangunan empat sektor pilar masyarakat.
Keempat pilar tersebut mencakup tata ruang dan ekonomi, penataan lahan, pelestarian pesisir, serta kemandirian warga asli. Upaya pemetaan ini juga mendapat sokongan data riset dari empat Tim Ekspedisi Patriot (TEP) lintas kampus tertanggal 3 Oktober 2026.
Tim dari ITB, IPB, UI, dan ITS sebelumnya sudah mengkaji potensi penguatan rantai komoditas lokal, bisnis rumput laut, dan pertanian perkotaan di Barelang. Hasil survei terpadu mereka turut mematangkan gagasan pembangunan wilayah yang selaras dengan potensi asli warga Tanjung Banon.
Keterlibatan perguruan tinggi asing dalam proyek ini juga memunculkan optimisme baru bagi pengembangan kawasan sosial-ekologi. Delegasi TUM, Jacob, menilai integrasi aspek ekologis, ekonomis, serta sosial akan menghadirkan manfaat dan peluang besar bagi masyarakat.
Pertukaran ilmu antarnegara terbukti memperkaya sudut pandang para peneliti muda saat membedah tata cara hidup masyarakat lokal. “Mungkin ke depannya bisa ada pertukaran balik ke Jerman, sehingga kedua negara saling terhubung dan belajar satu sama lain,” kata delegasi TUM lainnya, Alina.
Masyarakat pesisir pun antusias menyambut ruang diskusi interaktif bersama para akademisi mancanegara tersebut. Warga Rempang Eco City, Garim, bangga bisa berbagi ilmu dan pengalaman hidup meski berasal dari kawasan yang cukup pedalaman.
Hingga Mei 2026, Badan Pengusahaan (BP) Batam mencatat 242 kepala keluarga atau 842 jiwa sudah menempati hunian baru di Rempang Eco City. Perpindahan warga ini merupakan wujud implementasi konsep transmigrasi lokal yang terus bergulir di kawasan perbatasan. ANTARA
Baca Juga: 3.000 Rumah Dibangun, Barelang Jadi Model Transmigrasi







