Jemaah Haji Meninggal akibat Cuaca Panas, Keluarga Cemas Menanti Kabar

suhu panas mekkah
Jemaah haji memakai payung untuk melindungi diri dari suhu panas ekstrem di Mina, Arab Saudi, 16 Juni. Foto: Reuters

Mekkah, Arab Saudi (gokepri) – Suhu panas ekstrem melanda Mekkah dan Madinah, Arab Saudi. Beberapa negara melaporkan jemaah haji mereka meninggal karena cuaca panas.

Ratusan jemaah haji dilaporkan hilang saat musim haji tahun ini yang dilangsungkan di tengah teriknya suhu Arab Saudi. Para keluarga pun dilanda kecemasan dan kesedihan, menyusul laporan korban meninggal akibat cuaca panas yang mencapai 51,8 derajat Celcius di Mekkah pada 17 Juni lalu.

Baca:

Sekitar 1,8 juta jemaah haji dari seluruh dunia, banyak di antaranya lanjut usia dan memiliki kondisi kesehatan tertentu, mengikuti rangkaian ibadah haji yang sebagian besar dilaksanakan di ruang terbuka. Seorang diplomat Arab mengatakan kepada AFP bahwa jumlah jemaah haji asal Mesir yang meninggal dunia melonjak menjadi sedikitnya 600 orang dari sebelumnya 300 orang, kebanyakan akibat cuaca panas yang ekstrem.

Angka tersebut membuat total kematian jemaah haji menjadi 922 orang, berdasarkan penghitungan AFP dari laporan berbagai negara.

Mabrouka Salem Shushana, jemaah haji asal Tunisia berusia 70-an tahun, dilaporkan hilang sejak puncak ibadah haji di Arafah pada 15 Juni lalu. Sang suami, Mohammed, mengatakan kepada AFP pada 19 Juni bahwa istrinya tidak memiliki izin resmi haji sehingga ia tak bisa mengakses fasilitas ber-AC yang disediakan untuk para jemaah beristirahat.

“Dia wanita tua. Lelah. Ia merasa kepanasan dan tidak punya tempat untuk beristirahat,” keluhnya. “Saya sudah mencarinya di semua rumah sakit, tapi sampai sekarang belum ada kabar.”

suhu panas mekkah
Petugas haji memeriksa jemaah haji yang terjatuh di Mekkah, 16 Juni. Foto: Reuters

Media sosial seperti Facebook dipenuhi dengan foto-foto jemaah haji yang hilang dan permintaan informasi keberadaan mereka. Salah satunya adalah Ghada Mahmoud Ahmed Dawood asal Mesir yang belum ditemukan sejak 15 Juni.

“Saya menerima telepon dari putrinya di Mesir yang memohon agar saya memposting informasi di Facebook untuk membantu melacak atau menemukan ibunya,” ujar seorang teman keluarga yang tinggal di Arab Saudi, yang enggan disebutkan namanya karena khawatir membuat marah otoritas Saudi.

“Kabar baiknya, sampai saat ini kami belum menemukan namanya dalam daftar jemaah haji yang meninggal. Ini memberi kami harapan bahwa dia masih hidup.”

Dampak Panas yang Menyengat

Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilakukan oleh umat Muslim yang mampu setidaknya sekali seumur hidup. Waktunya ditentukan oleh kalender Islam, yang setiap tahunnya bergeser maju dalam kalender Masehi.

suhu panas mekkah
seorang jemaah haji perempuan beristirahat di tengah teriknya suhu di Mina, 16 Juni. Foto: AFP

Selama beberapa tahun terakhir, pelaksanaan ibadah haji yang sebagian besar dilakukan di ruang terbuka ini kerap bertepatan dengan musim panas yang terik di Arab Saudi. Menurut penelitian yang dipublikasikan pada Mei lalu, suhu di wilayah tersebut meningkat 0,4 derajat Celcius setiap dekade.

Selain Mesir, jemaah haji yang meninggal dunia juga dilaporkan berasal dari Yordania, Indonesia, Iran, Senegal, Tunisia, dan Kurdistan Irak. Namun, dalam banyak kasus, otoritas belum menyebutkan penyebab kematian secara spesifik.

Belum Ada Informasi Resmi

Arab Saudi belum memberikan informasi resmi terkait jumlah kematian jemaah haji. Meski demikian, mereka melaporkan adanya lebih dari 2.700 kasus kelelahan akibat panas hanya pada 16 Juni lalu. Pada tahun 2023, dilaporkan lebih dari 200 jemaah haji meninggal dunia, kebanyakan berasal dari Indonesia.

Setiap tahun, puluhan ribu jemaah haji berupaya melaksanakan ibadah haji melalui jalur tidak resmi karena keterbatasan biaya untuk mendapatkan izin resmi yang harganya bisa sangat mahal. Hal ini menjadi lebih mudah sejak 2019, ketika Arab Saudi memperkenalkan visa pariwisata umum.

“Sebelumnya, hanya penduduk kerajaan yang bisa melakukannya, dan mereka sudah mengetahui situasinya,” kata Umer Karim, pakar politik Saudi dari University of Birmingham.

“Bagi para pemegang visa pariwisata ini, situasinya seperti berada di jalur migrasi tanpa mengetahui apa yang akan mereka hadapi.”

Menurut salah satu diplomat Arab yang diwawancarai AFP pada 19 Juni, banyak jemaah haji Mesir yang meninggal dunia adalah mereka yang tidak terdaftar secara resmi.

Bahkan jemaah haji yang memiliki izin resmi pun tetap rentan terhadap bahaya, seperti yang dialami Houria Ahmad Abdallah Sharif (70 tahun) asal Mesir yang hilang sejak 15 Juni.

Setelah berdoa di Arafah, ia memberi tahu seorang teman bahwa ia ingin pergi ke toilet umum untuk membersihkan abaya-nya, namun ia tidak pernah kembali.

“Kami sudah mencarinya ke mana-mana, tapi sampai sekarang belum ketemu,” ujar sang teman yang juga enggan disebutkan namanya.

“Kami tahu banyak orang yang masih mencari anggota keluarga mereka dan belum menemukannya. Kalau pun mereka menemukannya, mereka sudah meninggal,” tambah sumber itu. AFP

Cek Berita dan Artikel yang lain diĀ Google News