Hari Keenam, Nepal Berpacu dengan Waktu Mencari Korban Banjir

Tim penyelamat Nepal menggali lumpur dan reruntuhan untuk mencari korban banjir glasial di kawasan terdampak.
Rumah-rumah yang rusak di Nuwakot, Nepal. Foto: AFP

Banjir glasial menewaskan sedikitnya 919 orang. Ribuan lainnya masih hilang di Nepal dan Tibet.

BIDUR, Nepal (gokepri) — Enam hari setelah banjir glasial menerjang perbatasan China-Nepal, tim penyelamat masih berpacu dengan waktu untuk mencari korban yang tertimbun lumpur dan reruntuhan. Sedikitnya 919 orang tewas, sementara jumlah orang yang belum ditemukan di Nepal dan Tibet mendekati 5.000 orang.

Gelombang air dingin bercampur batu dan material longsoran menerjang desa-desa serta kota pada 26 Agustus. Arus besar itu menghancurkan jalan, jembatan, pembangkit listrik, dan permukiman di sepanjang jalurnya.

Baca Juga: Banjir Bandang Nepal-Tibet, Ribuan Masih Hilang, Tewas Capai 691 Orang

Di Nepal, badan penanggulangan bencana mencatat 4.247 orang masih hilang dan 903 jenazah telah ditemukan. Di Tibet, China, pemerintah melaporkan 16 orang tewas dan 546 lainnya hilang.

Sebagian korban yang ditemukan bahkan belum dapat dikenali. Karena kamar jenazah mulai penuh, otoritas Nepal mengambil sampel DNA dari jenazah sebelum sebagian di antaranya dimakamkan di kuburan massal. Cara itu memungkinkan keluarga mencari kerabat mereka apabila identitas korban kelak terungkap.

Pemerintah Nepal meminta bantuan internasional untuk menyediakan lebih dari 1.000 unit pendingin jenazah. Di sejumlah pusat komunitas, keluarga yang kehilangan anggota keluarganya menatap foto-foto jenazah melalui layar dengan harapan menemukan orang yang mereka cari.

Shobha Adhikary, warga Bharatpur, meyakini salah satu foto menunjukkan sahabat masa kecilnya, Rajkumar. Rajkumar dan istrinya, Geeta, belum ditemukan sejak banjir menerjang pada 26 Agustus.

“Sepertinya dia, pasti dia,” kata Shobha saat menunjukkan foto seorang pria paruh baya yang tersenyum.

Di tengah pencarian itu, kabar tentang seorang anak perempuan berusia enam tahun memberi sedikit harapan. Polisi menemukan anak tersebut pada 28 Agustus, empat hari setelah banjir, dalam kondisi sebagian tubuhnya tertimbun lumpur.

“Tubuhnya terjebak di lumpur, tetapi kepalanya berada di luar,” kata juru bicara Kepolisian Bersenjata Nepal, Netra Bahadur Karki.

Anak itu kemudian dibawa ke rumah sakit dan dipertemukan kembali dengan orang tuanya. Polisi menyebut kondisinya sudah tidak membahayakan.

Namun, bagi tim penyelamat, medan yang dihadapi jauh lebih berat. Puluhan pekerja pembangkit listrik diyakini masih terjebak di dalam sejumlah terowongan yang dipenuhi lumpur dan material banjir.

Tentara Nepal menyebut sekitar 100 pekerja masih mungkin bertahan hidup di dalam beberapa terowongan. Mereka merupakan bagian dari 933 pekerja pembangkit listrik di Nepal yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.

Di lokasi pembangkit Upper Trishuli 3A, tim penyelamat berhasil menembus bagian atas terowongan yang tertutup lumpur. Mereka memompa udara ke dalam terowongan sembari menggali dengan mesin bor dan ekskavator.

Tim kemudian menurunkan personel menggunakan tali dan memanggil pekerja yang mungkin berada di dalam. Belum ada jawaban.

“Ketika anggota tim turun dan memanggil mereka yang berada di dalam, tidak ada respons,” kata Perdana Menteri Nepal Balendra Shah.

Sejauh ini, tiga jenazah telah ditemukan dari dua terowongan. Jalur menuju bagian lain masih tertutup lumpur.

Pekerjaan penyelamatan juga menghadapi ancaman baru. Runtuhan akibat keruntuhan gletser membentuk danau-danau besar yang tertahan material tidak stabil. Kondisi itu berpotensi membahayakan tim penyelamat maupun wilayah di sekitarnya.

Di Tibet, lebih dari 2.000 personel dikerahkan untuk pencarian dan penyelamatan. Akses menuju pusat bencana di Pelabuhan Gyirong sangat sulit; media pemerintah China melaporkan tim penyelamat pada 30 Agustus baru mampu bergerak sekitar 285 meter.

Wilayah Tibet juga sulit diakses wartawan asing sehingga informasi mengenai operasi penyelamatan sebagian besar bersumber dari otoritas China.

Bencana tersebut bermula dari runtuhnya gletser, menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS). Penyebab pasti keruntuhan masih belum diketahui, tetapi mencairnya gletser akibat kenaikan suhu global meningkatkan risiko bencana serupa di kawasan Himalaya.

“Rakyat Nepal adalah salah satu korban utama perubahan iklim dan dampaknya,” kata Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal.

Pegunungan Himalaya, rangkaian pegunungan tertinggi di dunia, mengalami pencairan yang semakin cepat seiring kenaikan suhu global. Bagi Nepal, dampaknya kini bukan lagi sekadar perubahan bentang alam, tetapi bencana yang menghancurkan permukiman dan infrastruktur.

Jalan yang terputus membuat sejumlah wilayah sempat terisolasi. Polisi bahkan menggunakan drone untuk mengirim pesan ke daerah yang belum terjangkau. Seiring komunikasi membaik, tim penyelamat kini telah mencapai sebagian besar wilayah terdampak melalui jalur darat dan helikopter.

“Kami terus bekerja untuk pencarian, penyelamatan, dan bantuan,” kata Karki.

Banjir juga menghantam perekonomian Nepal yang sudah berada dalam tekanan. Pemerintah memperkirakan kebutuhan pembangunan kembali infrastruktur yang rusak dapat mencapai miliaran dolar, sementara sejumlah negara telah menjanjikan bantuan kemanusiaan.

Di antara daftar orang hilang terdapat 592 warga asing. Mereka termasuk wisatawan yang datang untuk mendaki pegunungan Nepal serta umat Hindu yang menuju Gunung Kailash di Tibet untuk berziarah. AFP

Baca Juga: Kemlu RI Sebut Belum Dapat Laporan WNI Terdampak Banjir Bandang di Nepal-Tibet

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait