Kabut Asap Memburuk, Singapura Perketat Perlindungan Kesehatan

Kabut asap singapura
Kabut asap menyelimuti wilayah Singapura setelah PSI 24 jam di kawasan tengah mencapai 107 pada 4 September 2026. Foto: CHANNEL NEWS ASIA

PSI wilayah tengah Singapura mencapai 107. Sekolah, rumah sakit, dan tempat kerja memperkuat langkah perlindungan.

SINGAPURA (gokepri) — Kualitas udara di wilayah tengah Singapura masuk kategori tidak sehat pada Jumat, 4 September 2026, untuk pertama kalinya sejak Oktober 2023. Kondisi itu mendorong pemerintah Singapura memperkuat perlindungan kesehatan dan menerbitkan peringatan kabut asap harian bagi masyarakat.

Indeks Standar Polutan atau Pollutant Standards Index (PSI) 24 jam menembus angka 101 pada pukul 07.00. Angka itu kemudian meningkat menjadi 107 pada pukul 14.00.

Baca Juga: Kabut Asap, Pesawat yang Ditumpangi Menhut Gagal Mendarat di Pontianak

Rentang PSI 101-200 masuk kategori tidak sehat. Adapun PSI 201-300 tergolong sangat tidak sehat, sedangkan angka di atas 300 masuk kategori berbahaya.

Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) mulai menerbitkan haze advisory atau peringatan kabut asap harian sejak Jumat malam. Peringatan itu memuat prakiraan PSI 24 jam yang dapat digunakan masyarakat untuk merencanakan kegiatan dan aktivitas pada hari berikutnya.

Pemerintah Singapura juga mengaktifkan langkah perlindungan melalui Haze Task Force, yang beranggotakan 28 lembaga pemerintah. Setiap lembaga menjalankan respons sesuai tingkat kualitas udara dan prakiraan kondisi kabut asap.

Bagi masyarakat umum, NEA menyarankan pengurangan aktivitas dan aktivitas fisik di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Masyarakat juga dianjurkan minum cukup air untuk menjaga hidrasi.

Masker N95 tidak diperlukan untuk paparan singkat, seperti perjalanan dari rumah ke sekolah atau tempat kerja. Namun, orang sehat yang harus berada di luar ruangan selama beberapa jam dapat menggunakan N95 ketika prakiraan kualitas udara masuk kategori berbahaya.

Kelompok rentan, seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, serta orang dengan penyakit jantung dan paru-paru kronis, disarankan menghindari atau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara masuk kategori sangat tidak sehat.

Orang dengan kondisi jantung atau paru-paru kronis juga diminta memastikan obat yang diperlukan selalu tersedia. Mereka yang mengalami gejala atau merasa tidak sehat disarankan segera mencari pertolongan medis.

Menteri Negara untuk Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura Grace Fu mengingatkan masyarakat agar menggunakan dua indikator kualitas udara sesuai kebutuhan aktivitas.

“Gunakan PM2.5 untuk merencanakan kegiatan dalam satu jam dan PSI 24 jam untuk kegiatan hari berikutnya,” kata Fu melalui Facebook.

Sekolah menyiapkan ruang berpenjernih udara

Dampak kabut asap juga diantisipasi di lingkungan pendidikan. Badan Pengembangan Anak Usia Dini (ECDA) meminta prasekolah memantau kualitas udara dan mengikuti pedoman kesehatan yang berlaku.

Ketika kualitas udara masuk kategori tidak sehat, prasekolah akan mengurangi aktivitas luar ruangan yang berlangsung lama serta aktivitas fisik berat di dalam ruangan. Anak dengan penyakit jantung dan paru-paru kronis dikecualikan dari aktivitas tersebut.

Seluruh prasekolah dilengkapi penjernih udara. Setidaknya satu ruangan tertutup juga tersedia sebagai tempat sementara bagi anak yang merasa tidak sehat atau mengalami gangguan pernapasan akibat kabut asap.

Sekolah juga harus memastikan anak dengan asma serta gangguan jantung atau pernapasan membawa obat yang diresepkan. Kondisi kesehatan anak dipantau dan orang tua akan diberi tahu jika anak mengalami gangguan pernapasan atau merasa tidak sehat.

Penjernih udara juga tersedia di seluruh ruang kelas sekolah dasar, sekolah menengah, junior college, Millennia Institute, taman kanak-kanak Kementerian Pendidikan, dan sekolah pendidikan khusus.

Sekolah telah menyiapkan ruang ujian tertutup dengan penjernih udara apabila kualitas udara masuk kategori tidak sehat atau memburuk.

Perguruan tinggi juga diminta memantau kondisi kabut asap dan menerapkan langkah pengurangan risiko sesuai pedoman Kementerian Kesehatan.

Tempat kerja diminta mengurangi paparan

Di tempat kerja, Kementerian Tenaga Kerja Singapura meminta perusahaan mengikuti pedoman kabut asap dan saran tripartit. Perusahaan juga diminta menyesuaikan pekerjaan dengan kondisi kualitas udara.

Pekerjaan luar ruangan yang berlangsung lama atau membutuhkan aktivitas fisik berat perlu dikurangi, terutama bagi pekerja rentan seperti lansia dan perempuan hamil.

Untuk pekerja dengan penyakit jantung dan paru-paru kronis, pekerjaan luar ruangan yang berlangsung lama atau berat perlu dihindari. Pekerja juga perlu mendapat perlengkapan pelindung yang sesuai.

Pengendara kendaraan bermotor diminta menyalakan lampu utama ketika jarak pandang menurun dan berkendara dengan hati-hati.

Kabut asap juga memengaruhi pengaturan kegiatan Singapore Armed Forces. Tingkat dan intensitas latihan serta aktivitas luar ruangan disesuaikan dengan PSI 24 jam dan konsentrasi PM2.5 satu jam.

Penyelenggara dan peserta kegiatan olahraga juga diminta memantau kualitas udara serta mengikuti pedoman kesehatan.

Rumah sakit siapkan langkah antisipasi

Fasilitas kesehatan turut memperkuat kesiapan menghadapi dampak kabut asap. Kementerian Kesehatan telah berkoordinasi dengan rumah sakit umum, poliklinik, dan fasilitas perawatan jangka panjang.

Langkah yang tersedia antara lain penggunaan penjernih udara dan kipas serta penurunan suhu ruangan dengan pendingin portabel jika diperlukan.

Fasilitas kesehatan juga memantau pasien untuk melihat kemungkinan dampak kabut asap dan memberikan penanganan medis sesuai kondisi.

Informasi kualitas udara dan peringatan terbaru dapat diakses melalui situs NEA, microsite kabut asap, serta aplikasi myENV.

NEA dan Haze Task Force akan terus memantau kondisi. Pemerintah akan mengeluarkan peringatan tambahan jika kabut asap memburuk.

Haze Task Force yang diketuai NEA biasanya berkumpul setiap tahun sebelum musim kemarau yang dimulai pada Juni. Tahun ini, forum tersebut telah bertemu dua kali, yakni pada akhir Januari setelah terjadi kebakaran lahan gambut dan vegetasi di Johor bagian timur serta pada April. CHANNEL NEWS ASIA

Baca Juga: Kabut Asap Mulai Selimuti Batam, Dinkes Imbau Warga Waspadai ISPA

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait