Oleh: Zaid, ST., Kasi Bimas Islam Kemenag Lingga dan Pengajar di STISIP Bunda Tanah Melayu
Setiap tahun, menjelang Hari Raya Idul Fitri, seluruh pekerja yang terima gaji termasuk ASN dan Penyelenggara Negara menerima Tunjangan Hari Raya (THR). Momentum ini selalu dinanti, karena menjadi kesempatan untuk memenuhi berbagai kebutuhan: membeli pakaian baru, menyiapkan hidangan terbaik, hingga berbagi dengan keluarga. Namun sering kali, tanpa disadari, seluruh THR habis dalam waktu singkat. Padahal, beberapa bulan setelah Idul Fitri, umat Islam kembali menyambut hari besar lain yang tak kalah agung yaitu Idul Adha.
Idul Adha bukan sekadar perayaan, tetapi momentum ibadah qurban yang sarat makna pengorbanan dan kepedulian sosial. Sayangnya, tidak sedikit umat Islam yang memiliki niat berkurban tetapi terhalang oleh alasan ekonomi ketika waktunya tiba. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya perencanaan keuangan sejak jauh hari.
Disinilah pentingnya mengubah cara pandang terhadap THR. Sebagian dari THR sebaiknya tidak hanya diprioritaskan untuk kebutuhan konsumtif saat lebaran, tetapi juga disisihkan sebagai tabungan qurban. Jika sejak awal kita menyisihkan sebagian dana, maka ketika Idul Adha tiba, kita sudah lebih siap untuk melaksanakan ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam ini.
Ibadah qurban sendiri memiliki dasar yang kuat dalam syariat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS Surah Al-Kautsar: 2)
Ayat ini menunjukkan bahwa qurban merupakan ibadah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang memiliki kemampuan. Selain sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, qurban juga menjadi sarana berbagi dengan sesama, terutama masyarakat yang jarang menikmati daging.
Menariknya, jika dihitung secara sederhana, harga satu ekor kambing kurban sebenarnya tidak terlalu berat apabila dipersiapkan sejak awal. Misalnya, jika seseorang menyisihkan sebagian kecil dari THR atau mulai menabung setelah Idul Fitri, maka dalam beberapa bulan ke depan dana tersebut dapat terkumpul. Bahkan kini banyak lembaga masjid dan lembaga sosial yang menyediakan program tabungan kurban untuk memudahkan masyarakat.
Kita perlu menyadari bahwa Idul Fitri dan Idul Adha adalah dua momentum besar yang saling melengkapi. Idul Fitri mengajarkan kemenangan setelah menahan diri selama Ramadan, sementara Idul Adha mengajarkan keikhlasan berkorban sebagaimana keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
Oleh karena itu, bijaklah dalam menggunakan THR. Tidak ada yang salah dengan memenuhi kebutuhan hari raya, tetapi akan jauh lebih bernilai jika sebagian rezeki tersebut juga dipersiapkan untuk ibadah kurban. Dengan begitu, kebahagiaan yang kita rasakan saat Idul Fitri tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi berlanjut pada kebahagiaan orang lain saat Idul Adha.
Mari, mulai sekarang, jangan habiskan semua THR di Idul Fitri. Sisihkan sebagian untuk qurban. Karena sejatinya, keberkahan harta tidak hanya terletak pada apa yang kita nikmati, tetapi juga pada apa yang kita korbankan. Wallahu a’lam bishawab.**








