JAKARTA (gokepri) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Senin (15/6/2026) dengan kenaikan 1,85 persen ke level 6.118,73. Penguatan pasar dipicu kesepakatan awal damai antara Amerika Serikat dan Iran yang meredakan kekhawatiran investor terhadap pasokan energi global dan risiko inflasi.
Sentimen tersebut tidak hanya mengangkat pasar saham Indonesia. Bursa saham Asia, Eropa, dan Amerika Serikat juga menguat, sementara harga minyak dunia turun tajam setelah kedua negara mengumumkan kerangka kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak Februari lalu.
Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan naik 2,24 persen ke posisi 601,83. Kenaikan ini mencerminkan membaiknya minat investor terhadap aset berisiko setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah menunjukkan tanda-tanda mereda.
Baca Juga: AS-Iran Sepakat Akhiri Perang, Selat Hormuz Akan Dibuka
“Membaiknya situasi geopolitik mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global dan langsung meningkatkan selera risiko investor,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Senin 15 Juni 2026.
Efek Selat Hormuz bagi Pasar Global
Perhatian pelaku pasar sepanjang akhir pekan tertuju pada pengumuman Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai kesepakatan damai dengan Iran. Kesepakatan itu dijadwalkan ditandatangani di Swiss pada Jumat (19/6/2026).
Menurut pernyataan kedua negara, kesepakatan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian blokade Amerika Serikat terhadap Iran. Jalur laut tersebut merupakan salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia karena menghubungkan negara-negara produsen energi di Teluk Persia dengan pasar internasional.
Selama beberapa bulan terakhir, gangguan lalu lintas di Selat Hormuz memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Karena itu, kesepakatan damai dipandang sebagai sinyal positif bagi stabilitas ekonomi dunia.
Harga minyak mentah Brent turun sekitar empat persen menjadi 83,80 dollar AS per barel pada perdagangan awal pekan. Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate turun 4,7 persen menjadi 80,89 dollar AS per barel.
Analis energi Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, memperkirakan harga minyak masih berpotensi turun apabila jalur pelayaran di Selat Hormuz kembali beroperasi normal.
“Kami melihat harga Brent berpotensi turun ke kisaran 80 dollar AS per barel pada akhir tahun jika Selat Hormuz tetap terbuka,” ujar Dhar.
Meski demikian, pasar masih mencermati rincian implementasi kesepakatan tersebut. Iran menyatakan pengaturan lalu lintas di Selat Hormuz tetap berada di bawah otoritas Iran dan Oman. Pernyataan itu memunculkan pertanyaan mengenai mekanisme pelayaran dan kemungkinan pungutan layanan navigasi.
Ruang Bernapas Bank Sentral
Meredanya tekanan harga energi memberi ruang lebih besar bagi bank-bank sentral dalam menentukan arah kebijakan moneter.
Pekan ini menjadi periode penting bagi pasar keuangan global karena sejumlah bank sentral utama menggelar rapat kebijakan, termasuk Federal Reserve Amerika Serikat, Bank of England, Bank of Japan, dan Swiss National Bank.
Pasar memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen dalam rapat yang dipimpin Ketua The Fed Kevin Warsh.
Menurut analis pasar ITC Markets, Sean Callow, turunnya harga energi dapat mengubah perhitungan bank sentral terhadap risiko inflasi.
“Prospek penurunan harga energi yang berkelanjutan mengubah percakapan bank sentral menjelang serangkaian keputusan kebijakan moneter pekan ini,” ujar Callow.
Harapan inflasi yang lebih terkendali mendorong investor membeli obligasi pemerintah Amerika Serikat. Imbal hasil obligasi tenor dua tahun turun enam basis poin menjadi 4,02 persen.
Sentimen Domestik
Di dalam negeri, pasar juga mencermati sejumlah perkembangan ekonomi. Bank Dunia memperkirakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Indonesia berada di kisaran 2,8 persen terhadap produk domestik bruto pada 2026 dan 2027.
Menurut Bank Dunia, tekanan fiskal berasal dari kebutuhan subsidi energi, pembiayaan program prioritas pemerintah, serta kenaikan pembayaran bunga utang.
Selain itu, Bank Indonesia dan Bank Sentral China memperluas kerja sama keuangan melalui peningkatan fasilitas pertukaran mata uang bilateral, penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan, dan integrasi sistem pembayaran lintas negara.
Pelaku pasar juga mencermati penerbitan obligasi global perdana oleh PT Danantara Investment Management senilai 1,5 miliar dollar AS. Langkah itu menjadi bagian dari upaya penghimpunan pendanaan internasional di tengah perhatian investor terhadap kondisi fiskal Indonesia dan stabilitas nilai tukar rupiah.
Reli Global
Optimisme pasar terlihat hampir di seluruh kawasan.
Di Asia, indeks Nikkei Jepang melonjak lebih dari lima persen. Indeks Shanghai naik 0,94 persen, Hang Seng Hong Kong menguat 0,43 persen, dan Straits Times Singapura bertambah 1,14 persen.
Di Amerika Serikat, kontrak berjangka S&P 500 naik 0,9 persen, sedangkan Nasdaq melonjak 1,5 persen.
Penguatan pasar menunjukkan bahwa kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran tidak hanya dipandang sebagai perkembangan politik, tetapi juga sebagai faktor yang berpotensi mengurangi tekanan inflasi global. Bagi investor, meredanya risiko gangguan energi membuka ruang bagi pemulihan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas pasar keuangan pada paruh kedua tahun ini. ANTARA/REUTERS
Baca Juga: Negosiasi Gagal, Blokade Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









