Batam (gokepri.com) – Hujan telah menghajar Batam, Bintan dan Tanjungpinang dengan banjir bertubi-tubi. Dampak genangan air lebih parah akibat drainase kota yang buruk. Tapi tabiat membuang sampah sembarangan juga turut dikritik.
Hujan dua hari berturut-turut mengakibatkan volume air berlimpah sehingga Batam, Bintan dan Tanjungpinang banjir dan sejumlah titik terjadi longsor.
Anggota DPRD Kepri Rudy Chua menuding Pemerintah Kota di Tanjungpinang tak punya konsep dalam menanggulangi banjir.
“Drainase dari dahulu sampai sekarang menjadi permasalahan yang belum terselesaikan, ditambah lagi kebiasaan buruk membuang sampah tidak pada tempatnya,” ujar Rudy di sela meninjau sejumlah lokasi banjir di Tanjungpinang, Sabtu (2/1/2021).
Rudy mengatakan drainase yang dibangun pemerintah daerah di kawasan perkotaan berukuran kecil dan terbatas. Sistem pembuangan air pun di sejumlah kawasan juga tidak jelas, sehingga menyebabkan air meluap hingga ke jalan raya.
Kondisi itu diperburuk dengan sampah-sampah yang menyumbat drainase. Selain itu, lumpur dari lahan di kawasan yang agak tinggi juga tidak dibendung dengan batu miring, sehingga terbawa arus air ketika hujan lebat dan masuk ke parit. Sedangkan parit berukuran kecil dan ketika hujan lebat tidak mampu menampung air.
“Cuaca ekstrem dalam dua hari ini memang jarang terjadi, sementara sistem drainase kita belum siap menghadapinya, sehingga banjir terjadi di mana-mana,” kata legislator dari daerah pemilihan Tanjungpinang.
Selain drainase, menurut dia, kawasan hijau di Tanjungpinang juga sudah berubah menjadi perumahan. Kawasan hutan bakau pun sudah ditimbun menjadi daratan yang dibangun rumah-rumah.
Kondisi ini menyebabkan air laut saat pasang tinggi tidak terbendung. Air laut bercampur air hujan menggenangi jalan dan rumah warga.
“Penataan kawasan perkotaan yang sudah lama terbangun mungkin sulit dilakukan, karena sudah banyak bangunan, tetapi seharusnya di kawasan baru dibangun dengan baik. Seharusnya ada kawasan hijau dan sistem drainase yang baik,” ucapnya.
Sementara terkait banjir di sejumlah perumahan, Rudy mendesak pemerintah untuk meningkatkan pengawasan, tidak hanya sekadar memberikan izin. Fasilitas perumahan harus memadai, salah satunya ketersediaan drainase.
Perumahan seharusnya dibangun di kawasan yang layak, bukan di kawasan yang rentan terjadi erosi.
“Secara teori mungkin tidak ada permasalahan perizinan, tetapi praktiknya banyak permasalahan yang ditemukan, sehingga salah satu akibatnya adalah banjir,” katanya.
Lebarkan Drainase

Di Batam, drainase yang buruk juga dituding menjadi penyebab banjir.
Sejumlah jalan utama di Kota Batam Kepulauan Riau terendam banjir setinggi pinggang orang dewasa, setelah hujan mengguyur kota kepulauan itu dalam dua hari terakhir sejak Jumat(1/1).
Jalan utama yang terendam di antaranya Jalan Jenderal SUdirman dan Jalan Yos Sudarso yang menghubungkan Pelabuhan Batuampar dan Bandara Hang Nadim.
Petugas kepolisian yang berjaga melarang mobil kecil melintas pada Sabtu, hanya kendaraan besar saja yang boleh satu-satu secara bergantian.
Melihat kondisi itu, Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, menyatakan akan melebarkan drainase di dua jalan utama yang banjir.
“Setelah kami cek, drainasenya tidak mampu menampung volume air,” kata Rudi saat meninjau lokasi banjir di Simpang Baloi, Lubukbaja.
Pria yang juga menjabat Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Batam itu mengakui beberapa ruas jalan selalu menjadi lokasi genangan air saat hujan, antara lain di depan Gogo Bengkong, Simpang Bandara, Bida Asri 2, dan Simpang Kabil.
Menurut dia, drainase di sepanjang jalan itu memang tidak mampu menampung luapan air saat hujan.
Ia menyampaikan, saat ini lebar drainase hanya sekitar satu hingga dua meter. Maka rencananya akan dilebarkan hingga tujuh sampai delapan meter agar mampu menampung volume air.
Rudi optimistis, apabila drainase dilebarkan, maka air tidak akan meluap ke jalan lagi.
Rencananya, pembongkaran drainase akan dimulai tahun ini juga.
Sedangkan untuk langkah sementara, ia menginstruksikan pihak kecamatan setempat, Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air, Satpol PP dan Ditpam bersama-sama masyarakat membersihkan drainase agar tidak menyumbat jalan air.
“Besok harus mulai bekerja bersama masyarakat juga yang berada di lingkungan masing-masing,” kata dia.
Dalam kesempatan itu, ia mengakui lokasi banjir di Batam bertambah, akibat pembukaan lahan baru dan drainase yang kecil.
Gubernur Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Isdianto menyampaikan hampir seluruh wilayah di daerah itu terdampak cuaca ekstrem dan tergenang banjir pada awal tahun 2021.
“Kita minta masyarakat agar berhati-hati dengan kondisi cuaca ekstrem ini. Ada beberapa wilayah kita yang terkena musibah,” ujar Isdianto di Tanjungpinang, Sabtu (2/1).
Isdianto mengaku telah menerima laporan dari Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepri menyangkut bencana banjir telah meluas di beberapa tempat.
Seperti Kota Batam, kata dia, rumah masyarakat di kawasan pesisir Tanjung Uma habis tersapu ombak ditambah lagi dihantam tongkang hanyut hingga menimbulkan kerusakan parah.
Kemudian, di Kabupaten Lingga, rumah warga juga roboh disapu ombak. Sedangkan di Kota Tanjungpinang, ada beberapa wilayah yang hingga kini masih tergenang air bahkan sejumlah rumah warga terdampak longsor.
Isdianto menyebut petugas BPBD dan tangguh bencana telah disiapkan untuk membantu masyarakat yang tertimpa musibah.
“Saya perintahkan petugas agar membantu dan mengevakuasi masyarakat ke tempat yang kondusif dan mendata kerusakan yang diderita masyarakat,” tuturnya.
(can/ard/ant)
|Baca Juga:
- Hujan Reda, Genangan Air di Sejumlah Wilayah di Kepri Surut
- Kepri dalam Kepungan Banjir: Musim Kemarau Air Kering, Musim Hujan Banjir Datang








