BRT Trans Batam Sudah Beroperasi, 10 Koridor Disiapkan

Sosialaisasi BRT oleh Dishub Batam dan DPRD Batam. (foto: engesti/gokepri.com)

BATAM (gokepri,com) – Pemerintah Kota Batam terus memperkuat layanan transportasi massal berbasis jalan melalui Bus Rapid Transit (BRT) Trans Batam. Setelah terintegrasi dengan Bandara Internasional Hang Nadim sejak 2 Juli 2026, jaringan transportasi tersebut akan dikembangkan melalui lajur khusus, 10 koridor utama, dan 10 rute feeder.

Kepala UPT Trans Batam Dinas Perhubungan Kota Batam Bambang Sucipto mengatakan, pengembangan BRT merupakan pilihan Kota Batam dalam membangun sistem angkutan perkotaan yang menyesuaikan kondisi infrastruktur dan arah pembangunan daerah.

Menurut dia, terdapat beberapa pilihan sistem angkutan massal perkotaan, di antaranya LRT, MRT, dan BRT. LRT dan MRT menggunakan jaringan berbasis rel, sedangkan BRT menggunakan jaringan jalan.

“Batam telah menentukan pilihannya dalam penyelenggaraan angkutan perkotaan berbasis jalan, yakni BRT atau Bus Rapid Transit yang kita namakan Trans Batam,” kata Bambang.

Ia mengatakan, pengembangan Trans Batam juga diarahkan untuk membangun integrasi antarmoda, baik dengan transportasi udara maupun laut.

Integrasi dengan moda udara diwujudkan melalui layanan Trans Batam yang masuk ke kawasan Bandara Hang Nadim sejak 2 Juli 2026. Sementara integrasi dengan moda laut dilakukan melalui sejumlah pelabuhan penumpang di Batam.

Bambang menyebut, masuknya Trans Batam ke Bandara Hang Nadim menjadi salah satu capaian penting dalam pengembangan transportasi umum di Batam.

“Alhamdulillah, Batam sudah mampu menghadirkan angkutan perkotaan yang masuk ke bandara. Masyarakat dapat menikmati layanan yang murah, aman, nyaman dan terjangkau,” ujarnya.

Setelah layanan berjalan, pemerintah kini menyiapkan penguatan jaringan BRT melalui pembangunan lajur khusus secara bertahap.

Menurut Bambang, konsep lajur khusus tersebut telah diterapkan di kawasan Bandara Hang Nadim. Ke depan, lajur Trans Batam akan ditata menggunakan sisi paling kiri jalan dan ditandai dengan warna merah.

“Kalau sudah pernah ke bandara menggunakan Trans Batam, kita sudah melihat lajur khusus Trans Batam warna merah. Ke depan semua lajur Trans Batam akan kita cat merah seperti itu,” katanya.

Pengembangan juga diarahkan agar layanan BRT tidak hanya melayani koridor utama, tetapi mampu menjangkau kawasan permukiman melalui layanan feeder atau angkutan pemumpan.

Bambang mengatakan, empat rute feeder direncanakan mulai diluncurkan pada 2027, yakni Dapur 12-Fanindo, Dapur 12-Pasar Melayu, Cipta, serta rute dari Sambau melalui Patam Lestari hingga Tiban 3 dan sebaliknya.

“Untuk mengintegrasikan sistem BRT dengan wilayah lingkungan, pada 2027 ada pola layanan feeder atau pemumpan. Tahun depan ada empat feeder yang akan kita luncurkan,” ujarnya.

Tidak berhenti pada empat rute tersebut, UPT Trans Batam telah menyusun rencana pengembangan 10 koridor utama dan 10 rute feeder.

Sejumlah rute tambahan yang disiapkan antara lain Batu Ampar-Sekupang, Batu Ampar-Batu Merah, kawasan SMU 3 menuju Rumah Sakit Bhayangkara hingga Sambau, serta rute Sekupang-GEP menuju Bagan.

Selain itu, terdapat rencana feeder dari Batu Aji menuju Putri Hijau dan Rumah Sakit Umum. Pengembangan rute tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan mobilitas masyarakat.

Untuk koridor utama, salah satu rute yang disiapkan menghubungkan Tembesi hingga Galang.

Bambang mengatakan, pengembangan hingga Galang menjadi penting seiring dengan pertumbuhan kawasan tersebut dan munculnya berbagai aktivitas ekonomi serta pembangunan baru.

“Galang sekarang sedang berkembang. Sebagai kewajiban pemerintah, kita wajib menghadirkan angkutan umum di sana,” katanya.

Sementara itu, Anggota DPRD Kota Batam Suryanto menyambut positif pengembangan BRT Trans Batam. Ia menilai transportasi massal merupakan bagian penting dalam membangun Batam sebagai kota modern.

Menurut Suryanto, masuknya Trans Batam ke Bandara Hang Nadim pada 2 Juli 2026 menjadi momentum penting dalam perkembangan transportasi massal di Batam.

“Kita sebagai anggota DPRD Kota Batam mengapresiasi langkah ini. Momentum Trans Batam mulai masuk ke bandara menjadi awal beroperasinya sistem Bus Rapid Transit di Kota Batam,” ujarnya.

Ia berharap, pengembangan Trans Batam tidak berhenti pada layanan yang sudah berjalan saat ini. Jaringan BRT, kata dia, perlu terus diperluas agar dapat menjangkau lebih banyak kawasan di Batam.

DPRD Kota Batam juga akan mendorong dukungan anggaran untuk mempercepat pembangunan fasilitas dan pengembangan layanan BRT, termasuk rencana feeder pada 2027.

“Kalau bisa kita percepat lagi. Tujuan utamanya adalah bagaimana kita mentransformasikan mindset masyarakat Kota Batam,” katanya.

Suryanto mengatakan, penguatan transportasi massal diperlukan untuk mengantisipasi pertumbuhan kendaraan pribadi yang berpotensi meningkatkan kemacetan di Batam.

Karena itu, ia mengajak masyarakat mulai menjadikan Trans Batam sebagai salah satu pilihan transportasi sehari-hari.

“Percuma pemerintah mempunyai program yang bagus kalau masyarakat tidak mendukung. Kami mengimbau masyarakat Kota Batam, ayo kita sama-sama menggunakan Trans Batam sebagai opsi transportasi kita,” ujarnya.

Pengembangan BRT Trans Batam diharapkan tidak hanya memperluas jaringan angkutan umum, tetapi juga mendorong perubahan pola mobilitas masyarakat sehingga ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dapat dikurangi.

Penulis: Engesti

Pos terkait