BATAM (gokepri) – Kasus infeksi saluran pernapasan akut di Batam meningkat 19,5 persen pada Agustus ketika kualitas udara menurun di tengah kabut asap. Kenaikan itu menambah kewaspadaan terhadap risiko gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita asma.
Data Dinas Kesehatan Kota Batam menunjukkan terdapat 7.245 kasus ISPA yang tercatat melalui laporan puskesmas pada Agustus 2026. Angka tersebut bertambah 1.184 kasus dibandingkan Juli yang mencatat 6.061 kasus.
Data itu berasal dari laporan bulanan puskesmas melalui aplikasi New All Record (NAR). Dinas Kesehatan kini memantau perkembangan kasus untuk melihat dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
Baca Juga: Abu Krakatau Meluas, Penderita Asma dan Penyakit Paru Perlu Waspada
“Berdasarkan pemantauan dan pelaporan dari Puskesmas, ditemukan adanya peningkatan kasus ISPA,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Batam Meldasari, Senin, 7 September 2026.
Kenaikan kasus tersebut muncul ketika Batam menghadapi kondisi udara yang menurun. Pada Agustus, kebakaran hutan dan lahan di kawasan Trans Barelang menghanguskan sekitar 20-35 hektare lahan.
Paparan asap dan partikel udara dapat menjadi perhatian kesehatan ketika kualitas udara memburuk, terutama bagi masyarakat yang rentan.
Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih adalah anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, dan masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu. Penderita asma termasuk kelompok yang perlu lebih berhati-hati ketika terpapar udara dengan kualitas buruk.
“Kelompok yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi antara lain anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu seperti asma,” ujar Meldasari.
Gangguan akibat paparan asap dan partikel udara dapat muncul melalui sejumlah gejala yang mudah dikenali. Batuk, sesak atau rasa tidak nyaman saat bernapas, tenggorokan gatal, iritasi mata atau hidung, serta sakit kepala menjadi beberapa keluhan yang perlu diperhatikan.
Gejala tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami ISPA akibat asap. Namun, ketika keluhan muncul atau memburuk di tengah kondisi udara yang tidak sehat, masyarakat disarankan tidak mengabaikannya.
“Jika masyarakat mengalami keluhan tersebut, segera ke fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, klinik, atau rumah sakit,” kata Meldasari.
Cara paling sederhana untuk mengurangi risiko adalah membatasi waktu berada di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Aktivitas luar ruang yang tidak mendesak dapat ditunda hingga kondisi udara membaik.
Bagi warga yang tetap harus keluar rumah, perlindungan pernapasan menjadi bagian penting dari upaya mengurangi paparan. Dinkes Batam menganjurkan penggunaan masker yang mampu menyaring partikel, seperti KF94, KN95, atau N95, sesuai kondisi.
Efektivitas masker tidak hanya bergantung pada jenisnya, tetapi juga cara pemakaiannya. Masker perlu menutup hidung dan mulut serta terpasang dengan baik agar perlindungannya optimal.
“Penggunaan masker yang tidak tepat dapat mengurangi manfaat perlindungannya,” ujar Meldasari.
Di tingkat layanan kesehatan, Dinkes Batam bersama puskesmas meningkatkan pemantauan kasus ISPA dan gangguan pernapasan. Pasien tetap mendapat penanganan berdasarkan kondisi klinis masing-masing.
Pemantauan juga disertai sosialisasi mengenai risiko paparan asap dan udara tidak sehat. Edukasi diarahkan terutama kepada kelompok rentan agar mereka dapat mengenali gejala lebih cepat dan mengurangi paparan ketika kondisi udara memburuk. ANTARA
Baca Juga: Karhutla, Kasus ISPA di Kalbar Capai 165 Ribu
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









