Gempa Kumamoto, Puluhan Orang Diperkirakan Terjebak di Runtuhan Bangunan

AEON Mall Kumamoto di kota Kashima ambruk usai gempa. (internet)

JAKARTA (gokepri.com) – Banyak orang diperkirakan terjebak di runtuhan bangunan pasca gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,8 mengguncang Prefektur Kumamoto di Jepang selatan, Selasa, 28 Juli 2026.

Gempa itu menyebabkan sebuah pusat perbelanjaan ambruk sebagian, sehingga banyak orang dilaporkan terjebak di dalam bangunan.

Selain itu, sejumlah pekerja di sebuah pabrik kertas masih belum diketahui keberadaannya. Sebuah jembatan jalan raya juga mengalami deformasi akibat gempa, sehingga memicu kekhawatiran terhadap kondisi infrastruktur di wilayah terdampak.

Perdana Menteri Jepang menyatakan pemerintah akan bekerja “sepanjang malam” untuk mengoordinasikan operasi penyelamatan dan memastikan seluruh korban dapat segera dievakuasi.

Penyiar publik Jepang, NHK, melaporkan sedikitnya dua orang meninggal dunia akibat runtuhnya pusat perbelanjaan tersebut. Sebelumnya, stasiun televisi TV Asahi yang mengutip sumber kepolisian menyebut terdapat beberapa korban jiwa.

NHK juga melaporkan sekitar 20 hingga 30 karyawan yang berada di dalam pusat perbelanjaan belum dapat dihubungi setelah bangunan itu ambruk.

Selain korban jiwa, puluhan orang mengalami luka-luka. NHK melaporkan sedikitnya satu rumah sakit telah menerima lebih dari 50 korban cedera.

Surat kabar Nikkei juga melaporkan sejumlah penumpang kereta cepat (shinkansen) mengalami luka saat gempa mengguncang wilayah tersebut.

Badan Meteorologi Jepang (Japan Meteorological Agency/JMA) mengingatkan warga, terutama yang merasakan guncangan paling kuat, agar tetap waspada terhadap potensi gempa susulan selama sekitar satu pekan ke depan. Selain itu, hujan yang terjadi setelah gempa dapat meningkatkan risiko tanah longsor di kawasan terdampak.

Kumamoto bukan kali pertama dilanda gempa besar. Pada 2016, rangkaian gempa kuat di prefektur tersebut menewaskan 275 orang dan menjadi salah satu bencana alam paling mahal dalam sejarah Jepang dalam beberapa dekade terakhir.

Sedangkan Kyodo melansir, gempa bumi kuat yang mengguncang barat daya Jepang pada Selasa diduga dipicu oleh geseran sesar yang belum retak saat gempa kembar melanda wilayah yang sama satu dekade lalu.

Para ahli pun memperingatkan bahwa aktivitas gempa susulan yang kuat masih berpotensi berlanjut, demikian kantor berita Kyodo melaporkan, Selasa.

Pusat gempa terbaru berkekuatan magnitudo 7,1 yang berpusat di Prefektur Kumamoto tersebut berlokasi tidak jauh dari pusat gempa darat serupa berkekuatan M 6,5 pada 14 April 2016, serta M 7,3 dua hari setelahnya.

Ketiga gempa tersebut sama-sama mencatatkan skala intensitas seismik tertinggi, yakni level 7 pada skala Jepang, di sejumlah wilayah di prefektur tersebut.

Gempa pada tahun 2016 lalu merusak kawasan itu dan menewaskan lebih dari 270 orang.

Sejumlah zona sesar aktif, termasuk zona sesar Hinagu dan Futagawa yang memicu gempa 2016, membentang di wilayah tengah Kyushu.

Para ahli berulang kali mengingatkan bahwa bagian selatan zona sesar Hinagu—yang membentang hingga ke Laut Yatsushiro di sekitarnya—hampir tidak mengalami pergeseran pascagempa 10 tahun lalu.

Shinji Toda, Profesor Seismologi dari Universitas Tohoku, menemukan bahwa jumlah gempa berkekuatan magnitudo 1,5 atau lebih telah meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan sebelum gempa 2016

Temuan itu didasarkan pada analisis aktivitas seismik di dekat zona sesar Hinagu selama satu dekade terakhir.

Toda menjelaskan, gempa tahun 2016 diyakini telah memicu tegangan dan tekanan besar, yang akhirnya menyebabkan pergerakan di sepanjang zona sesar Hinagu kali ini.

Ia juga menambahkan bahwa kedua peristiwa tersebut memiliki mekanisme pemicu yang sama.

Menurut Badan Meteorologi Jepang, gempa pada Selasa pukul 16.27 waktu setempat itu terjadi pada kedalaman 16 kilometer di sepanjang sesar geser (strike-slip fault)—yaitu kondisi ketika dua lempeng berdekatan bergeser secara mendatar, serupa dengan karakteristik gempa 2016.

Meski demikian, Badan Meteorologi Jepang sejauh ini belum secara eksplisit mengaitkan gempa hari Selasa ini dengan rangkaian gempa besar yang terjadi satu dekade lalu.*

(sumber: republika.co.id)

Pos terkait