Singapura-Australia Sepakati Jalur Aman Pasokan Energi

Menteri Singapura dan Australia menandatangani protokol perdagangan barang esensial di Adelaide.
Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Tan See Leng serta Menteri Perdagangan dan Pariwisata Australia Don Farrell menandatangani protokol ketahanan ekonomi dan perdagangan barang esensial di Adelaide, Australia, Senin (27/7/2026). Foto: MTI Singapura

SINGAPURA (gokepri) – Singapura dan Australia menyepakati protokol baru untuk menjaga kelancaran perdagangan barang-barang esensial, termasuk bahan bakar minyak dan gas alam cair (LNG), sebagai respons atas meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan gangguan rantai pasok global.

Kesepakatan itu ditempuh dengan memasukkan komitmen baru ke dalam Perjanjian Perdagangan Bebas Singapura-Australia agar kedua negara memiliki kepastian pasokan pada masa krisis.

Protokol tersebut ditandatangani Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Tan See Leng bersama Menteri Perdagangan dan Pariwisata Australia Don Farrell dalam Pertemuan Komite Menteri Bersama Singapura-Australia ke-15 di Adelaide, Australia, Senin, 27 Juli 2026. Aturan itu akan berlaku setelah masing-masing negara menyelesaikan prosedur domestiknya.

Baca Juga: Bagaimana Singapura Menyiapkan Energi Masa Depan

Kesepakatan itu diberi nama Protocol to the Singapore-Australia Free Trade Agreement on Economic Resilience and Essential Supplies. Pemerintah Singapura menyatakan protokol tersebut akan menjadi bagian dari Perjanjian Perdagangan Bebas Singapura-Australia untuk memperkuat ketahanan rantai pasok barang-barang penting.

Protokol baru lahir ketika tekanan terhadap rantai pasok global terus meningkat akibat ketegangan geopolitik. Karena itu, kedua negara sepakat memperkuat jaminan perdagangan komoditas strategis agar tetap mengalir meski terjadi gangguan internasional.

Dalam protokol tersebut, Singapura dan Australia berkomitmen mengupayakan agar tidak memberlakukan atau mempertahankan pembatasan ekspor terhadap barang-barang esensial yang telah disepakati. Komoditas itu antara lain minyak bumi olahan seperti solar serta gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).

Selain itu, kedua negara menyepakati mekanisme pemberitahuan dini, konsultasi, peninjauan, hingga pencabutan kebijakan apabila muncul langkah yang berpotensi mengganggu perdagangan barang esensial.

Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Tan See Leng mengatakan kesepakatan itu memperkuat komitmen kedua negara menjaga kelancaran perdagangan pada masa penuh ketidakpastian. “Protokol ini menegaskan komitmen bersama untuk menjaga arus barang-barang esensial tetap berjalan saat terjadi gangguan,” katanya.

Menurut Tan, kesepakatan tersebut juga memperkuat transparansi dan memungkinkan konsultasi lebih cepat apabila muncul persoalan yang memengaruhi perdagangan kedua negara.

Sebagai tindak lanjut, kedua negara membentuk Australia-Singapore Economic Resilience Dialogue. Forum itu akan menjadi wadah koordinasi dalam memperkuat ketahanan ekonomi dan memastikan perdagangan barang esensial tetap terjaga.

Dalam komunike bersama setelah pertemuan menteri, Singapura dan Australia juga mengakui pentingnya peran masing-masing dalam menjaga keamanan energi. Singapura tercatat sebagai pemasok terbesar produk minyak olahan bagi Australia, sedangkan Australia merupakan salah satu pemasok utama LNG bagi Singapura.

Kesepakatan tersebut merupakan kelanjutan dari pengumuman Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese pada April 2026. Saat itu, kedua negara menyatakan akan memperkuat ketahanan rantai pasok energi di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar global.

Belakangan, kedua negara mengumumkan perundingan protokol telah mencapai penyelesaian substansial sebelum akhirnya ditandatangani dalam pertemuan tingkat menteri di Adelaide. Setelah prosedur domestik masing-masing negara rampung, protokol itu akan resmi berlaku sebagai bagian dari perjanjian perdagangan bebas kedua negara. AFP

Baca Juga: Ekspor Listrik ke Singapura Dimulai Bertahap, Harga Masih Dirundingkan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait