Apa yang Bisa Kita Pahami dari Dinamika Pilkada Batam?

amsakar li claudia
Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra. Grafis: gokepri/Candra Gunawan

BATAM (gokepri) – Pilkada Batam tahun ini hampir bisa dipastikan hanya ada satu poros koalisi. 11 partai politik sudah menggulirkan satu pasangan calon yaitu Amsakar Achmad-Li Claudia Chandra. Apa yang kita pelajari dari dinamika politik di Batam sejauh ini?

Apakah Amsakar-Li Claudia sudah bisa maju di Pilwako Batam?

Dukungan untuk Amsakar-Li Claudia untuk maju sebagai calon wali kota-wakil wali kota di Pilkada Batam 2024 sudah bisa dipastikan setelah 11 partai politik memutuskan mengusung mereka.

HBRL

Wakil Wali Kota Batam dan Ketua DPC Gerindra Tangerang Selatan itu menjadi satu-satunya paslon yang mengantongi tiket maju ke pemilihan kepala daerah 2024. Sesuai jadwal, pendaftaran paslon ke KPU dibuka pada 27 Agustus dan ditutup 29 Agustus.

Amsakar-Li Claudia telah memperoleh tiket dari Nasdem, Golkar, Gerindra, PKS, PKB, Demokrat, PAN, Hanura, PSI, PKN dan PPP. Hampir semua partai peraih kursi di DPRD Batam, kecuali PDIP.

Sokongan dari 11 parpol itu sudah jauh dari cukup bahkan gemuk bagi Amsakar-Li untuk maju di Pikada Batam karena gabungan raihan kursi semua partai itu sebanyak 43 kursi atau 86 persen dukungan. Jumlahnya melampaui ambang batas pencalonan 10 kursi.

Bahkan, dukungan bisa bertambah jika PDIP ikut mengusung Amsakar-Li karena dua nama itu juga diserahkan ke DPP PDIP oleh pengurus daerah.

Seberapa besar kans Amsakar-Li Claudia terpilih?

Sudah memegang tiket pencalonan dan didukung 11 parpol, kans Amsakar-Li Claudia terbilang besar. Mengacu survei terbaru (8-15 Juli 2024) dari Indikator Politik Indonesia, Amsakar Achmad-Li Claudia unggul.

Lembaga survei itu memotret Amsakar Achmad dominan. Ia memperoleh elektabilitas sebesar 50,8 persen, unggul dari Marlin Agustina yang meraih 40,2 persen. Sementara itu, sebanyak 9,0 persen pemilih belum menentukan pilihan mereka.

Dalam simulasi pasangan calon, Amsakar Achmad-Li Claudia Chandra mendapatkan elektabilitas sebesar 49,5 persen, unggul dari Marlin Agustina-Jefridin Hamid yang meraih 38,3 persen. Pemilih yang belum menentukan pilihan tercatat sebanyak 12,3 persen.

Li Claudia Chandra saat konferensi pers 16 Juli lalu sempat menyebut ia berharap bersama Amsakar bisa menang 90 persen, selisih tipis dari total dukungan 11 parpol yang mencapai 86 persen.

Faktor sosok Amsakar, ia nilai berpengaruh bagi kalkulasi kemenangan. Hasil survei Gerindra pun, memotret sosok Amsakar diterima dengan baik oleh masyarakat sehingga Li Claudia percaya diri bertarung di pilkada Batam. Amsakar juga punya kapasitas karena bertahun-tahun sebagai birokrat.

“Ini yang jadi alasan saya percaya diri bertemu masyarakat Batam. Doakan saja bisa menang 90 persen,” tambahnya.

Sebagai perbandingan di Pilkada 2020, pasangan Muhammad Rudi-Amsakar Achmad disokong delapan partai politik dengan total 30 kursi. Rudi-Amsakar pada pemilihan 2020 menang telak 73 persen (267.497 suara). Lawannya yaitu Lukita Dinarsyah Tuwo-Abdul Basyit Haz yang diusung PDIP, PKB dan Gerindra.

Bagaimana respons parpol lain?

PDIP hanya akan menjadi penonton di Pilwako Batam 2024 setelah Amsakar Achmad-Li Claudia Chandra mengantongi tiket dari 11 partai politik.

“Istilahnya game over,” ungkap Ketua DPD PDIP Batam, Nuryanto, saat dihubungi, Rabu 31 Juli.

PDIP menganggap kontes pilkada Batam sudah berakhir. Konstelasi pemilihan wali kota Batam hampir bisa dipastikan hanya akan ada satu pasangan calon.

“Saya kira ada pembicaraan dengan PKS bahwa seharusnya kontestasi politik itu harus ada lawannya,” kata Nuryanto. “Yang kami pikirkan kemarin, kalau demokrasi kita ini bisa ada pasangan lain lebih baik lagi. PDIP inginnya ada lawan, tapikan faktanya teman-teman partai lain berpikiran berbeda,” kata Cak Nur, sapaan akrabnya.

PDIP juga memberikan selamat kepada Amsakar dan Li Claudia. Baginya, secara keikutsertaan partai, Pilkada Batam sudah selesai. Namun, semua itu tetap bergantung kepada masyarakat.

“Secara keikutsertaan peserta Pilkada, itu sudah game over. Tapi kembali kepada masyarakat, tinggal masyarakat yang menentukan pilihan. Selamat kepada seluruh teman-teman partai yang sudah menentukan pilihannya mendukung pasangan Pak Am dan Li Claudia,” papar Cak Nur.

Ketua DPC Partai Gerindra ucap Nyanyang Haris Pratamura yang menjadi penggerak dan pengusung pasangan Amsakar Ahmad dan Li Claudia Chandra mengungkapkan rasa syukurnya atas besarnya dukungan dan kepercayaan partai terhadap pasangan Amsakar Ahmad–Li Claudia Chandra.

Terkait adanya isu melawan kotak kosong di Pilwakot Batam, Ketua DPD PKS Batam Yusuf menilai hal tersebut merupakan salah satu bagian dari realitas dinamika politik. “Kita tidak menyangka dari awal, tiba-tiba di perjalanannya mengerucut ke satu paslon,” ujarnya pekan lalu. PKS juga berharap dan berupaya agar pesta demokrasi ini berjalan baik. Bagaimana nanti akhirnya, itulah realitanya. Kotak kosong pun dianggap PKS juga pilihan.

Apakah Amsakar-Li Claudia akan melawan kotak kosong?

Setelah diusung 11 partai, Amsakar-Li Claudia menjadi satu-satunya bakal calon walikota-wakil walikota yang telah memegang tiket menuju pilkada Batam satu bulan jelang pendaftaran yang dibuka pada 27 Agustus 2024.

Namun, skenario calon tunggal Amsakar-Li melawan kotak kosong baru bisa dipastikan saat pendaftaran ditutup. Sesuai jadwal, pendaftaran pasangan calon di KPU pada 27-29 Agustus 2024.

Peta dukungan masih bisa berubah jika belajar dari Pilkada Bintan 2020. Ketika perpanjangan masa pendaftaran, PDIP menarik dukungan dari Apri Sujadi-Roby Kurniawan lalu berkoalisi dengan NasDem demi mengusung Alias Wello-Dalmasyri Syam. Nama terakhir kalah dari koalisi kuat yang digalang Demokrat ketika itu.

Bagaimana kans kotak kosong?

Tercatat ada tiga daerah yang menyelenggarakan Pilkada dengan calon tunggal pada tahun 2015. Hasilnya dimenangkan oleh calon tunggal dengan selisih suara yang besar. Pada Pilkada serentak berikutnya tahun 2017, jumlah calon tunggal justru bertambah menjadi 9 pasang. Suara calon tunggal masih unggul dari suara kotak kosong.

Selanjutnya, Pilkada 2018 jumlahnya bertambah menjadi 16 calon tunggal. Namun kini hasilnya semakin variatif. Di beberapa daerah, sejumlah kandidat terlihat mendominasi hasil Pilkada, bahkan di Kabupaten Jayawijaya calon tunggal berhasil memenangkan Pilkada dengan presentase 99 persen.

Hal yang sama juga terjadi di Kabupaten Puncak, calon tunggal berhasil memperoleh suara di atas 90 persen. Berbeda dengan Pilkada yang terjadi di Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar, Kotak Kosong justru berhasil mengalahkan calon tunggal.

Kemenangan kotak kosong ini merupakan yang pertama dalam sejarah Pilkada serentak di Indonesia. Pada Pilkada tahun 2020 kontestan calon tunggal terus mengalami kenaikan, jumlahnya menjadi 25 calon tunggal dengan perolehan hasil seluruhnya menang. Fenomena ini semakin meningkat drastis dari Pilkada ke Pilkada berikutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Baca: 

 

Pos terkait