Kualitas Udara di Singapura Mulai Tak Sehat

Kualitas udara singapura
Warga Singapura menggunakan payung untuk menghindari cuaca panas. (foto: Channel News Asia)

Batam (Gokepri.com) – Kualitas udara di Singapura mulai mencapai ambang batas mengkhawatirkan. Kabut asap dari kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan menjadi penyebabnya.

Badan Lingkungan Nasional Singapura atau National Environment Agency (NEA) menyebutkan Indeks Standar Polusi (Pollutant Standards Index/PSI) di negaranya melebihi ambang batas sehat karena melampaui angka 100 pada Sabtu 27 Februari 2021. Di Indonesia, PSI dikenal dengan indeks standar pencemaran udara (ISPU).

Dilansir Channel News Asia, pada Sabtu malam ambang PSI menyentuh 102 lalu naik menjadi 108 pada pukul 8 malam waktu setempat dan baru turun pada angka 90 pada jam 10 malam.

HBRL

Angka PSI jika berada dalam rentang 50 ke bawah menunjukkan kualitas udara dalam kondisi baik atau sehat, 51-100 sedang dan 101-200 tidak sehat alias merugikan bagi manusia.

Indeks Standar Polutan (PSI) dihitung berdasarkan enam polutan udara – PM2.5, PM10, ozon, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan karbon monoksida.

Menurut situs web NEA, sub-indeks ozon berada dalam rentang Tidak Sehat antara jam 7 malam dan 9 malam. Sub-indeks untuk pembacaan PM2.5 dan PM10 masing-masing berada dalam kisaran sedang dan baik.

Menurut laporan langsung cuaca dan kabut asap terbaru di situs web NEA sekitar pukul 6 sore pada hari Sabtu, menunjukkan hotspot atau titik panas yang terdeteksi di sebagian besar sub-wilayah.

“Kabut asap tipis hingga sedang terlihat di sebagian besar sub-wilayah, dengan kabut asap tebal terlihat di Myanmar, Thailand dan Kamboja. Namun, di daerah dengan tutupan awan, kabut asap tidak dapat sepenuhnya dilihat sepenuhnya,” kata NEA di situs webnya.

“Sebagian besar stasiun kualitas udara di bagian tengah sub-wilayah Mekong melaporkan nilai kualitas udara ‘Tidak Sehat’, dengan beberapa di timur laut Thailand dan wilayah dataran tinggi tengah melaporkan kualitas udara ‘Sangat Tidak Sehat’,” tambahnya.

Titik api terdeteksi di Semenanjung Malaysia, Sumatera bagian utara dan Kalimantan Barat.

“Kabut asap tipis hingga sedang terlihat di sebagian Kalimantan barat daya, dengan kabut asap tebal terpantau berasal dari sekelompok titik api di Kalimantan Barat,” kata NEA.

“Namun, situasi kabut asap secara keseluruhan di Sumatera dan Semenanjung Malaysia tidak dapat dilihat karena tutupan awan.”

NEA mengatakan di situsnya bahwa cuaca tanpa hujan diperkirakan akan bertahan di sub-wilayah Mekong selama beberapa hari ke depan. Dengan demikian, situasi hotspot dan kabut asap kemungkinan akan tetap tinggi.

Cuaca panas ini diperkirakan akan tetap muncul di Semenanjung Malaysia, Singapura, bagian utara dan tengah Sumatera, serta bagian barat dan selatan Pulau Kalimantan, sehingga berpotensi meningkatkan risiko aktivitas titik api di daerah-daerah tersebut.

(Can)

|Baca Juga: Batam Bertarung Melawan Serbuan Api

Pos terkait