NATUNA (gokepri) – El Nino diprakirakan bertahan hingga awal 2027 dan mulai menekan ketersediaan air di Natuna. Ancaman yang perlu diperhatikan bukan hanya kekeringan, tetapi efek lanjutannya. Vegetasi mengering dan risiko karhutla meningkat. Pemkab Natuna mulai menyiapkan sumber air, satgas, hingga distribusi air gratis.
Natuna mulai bersiap menghadapi ancaman kekeringan setelah BMKG memprakirakan fenomena El Nino bertahan hingga awal 2027. Penurunan curah hujan telah terjadi di sejumlah kecamatan dan mulai mengurangi pasokan air sekaligus meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Natuna Rafael Alesandro Marbun mengatakan kondisi tersebut perlu diantisipasi karena kekeringan membuat vegetasi lebih mudah terbakar.
Baca Juga: Benih Kelapa Natuna Jadi Peluang Ekonomi Baru
“BMKG memprediksikan bahwa kondisi El Nino sangat kuat, diprakirakan masih bertahan dari Agustus hingga awal 2027. Artinya, ini perlu menjadi bahan monitor kita bersama,” kata Rafael di Natuna, Senin (24/8/2026).
BMKG mencatat sejumlah kecamatan di Natuna mengalami penurunan curah hujan selama belasan hari pada Agustus. Kondisi itu berdampak pada berkurangnya pasokan air dan telah memicu kebakaran lahan di sejumlah titik.
Rafael mengatakan BMKG juga menemukan beberapa titik panas berdasarkan pemantauan pada Senin (24/8).
Ancaman tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Natuna menyiapkan langkah antisipasi. Bupati Natuna Cen Sui Lan mengatakan pemerintah daerah telah menerbitkan Surat Edaran tentang Kesiapsiagaan Menghadapi Potensi Kekeringan dan Karhutla pada awal Agustus 2026.
Surat edaran tersebut mengatur pelibatan berbagai pihak dalam pemantauan, pencegahan, dan penanganan kekeringan serta karhutla.
Untuk mengatasi kekurangan air, Pemkab Natuna mengerahkan Perumda Air Minum untuk mendistribusikan air secara gratis kepada warga terdampak menggunakan mobil tangki.
“Untuk mengatasi kekeringan kita sudah mengerahkan Perumda Air Minum untuk mendistribusikan air secara gratis ke warga yang terdampak menggunakan mobil tangki,” ujar Cen.
Pemkab Natuna juga menggelar rapat bersama pemangku kepentingan pada Senin pagi untuk menyusun langkah menghadapi potensi kekeringan dan karhutla.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah memanfaatkan sumber air di Bukit Berangin untuk mendukung operasi pemadaman karhutla. Pemerintah juga menyiapkan air baku dari Embung Sebayar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga, dengan pengecualian untuk konsumsi.
Selain itu, Pemkab Natuna akan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Karhutla. Pemerintah juga akan mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Bagi petani, pemerintah daerah akan menerbitkan surat edaran yang mengatur penyediaan pompa pemadam sebagai langkah antisipasi jika terjadi kebakaran di lahan masing-masing.
Pemkab Natuna juga akan meminta dukungan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatra untuk menyediakan sumur bor di wilayah rawan. Sumber air tersebut diharapkan dapat digunakan untuk mendukung operasi pemadaman apabila terjadi karhutla.
Langkah tersebut disiapkan untuk menghadapi kondisi yang berpotensi berlangsung cukup lama. Dengan prakiraan El Nino bertahan hingga awal 2027, pemerintah daerah perlu menjaga ketersediaan air sekaligus memperketat pencegahan kebakaran ketika vegetasi semakin kering. ANTARA
Baca Juga: Prime Natuna EP Siapkan Pengeboran Blok A Natuna
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







