Kebutuhan air Batam terus meningkat. Lingga dikaji sebagai sumber jangka panjang.
BATAM (gokepri) – Kebutuhan air Batam terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, permukiman, ekonomi, dan investasi. BP Batam kini mengkaji sumber air baku dari Lingga sebagai salah satu pilihan pasokan jangka panjang, selain memaksimalkan waduk dan memperbaiki jaringan perpipaan yang sudah berusia puluhan tahun.
Kepala BP Batam Amsakar Achmad mengatakan kajian tersebut menjadi bagian dari penyusunan roadmap tata kelola air Batam. Perencanaan itu diperlukan agar penyediaan air tidak hanya merespons persoalan ketika muncul, tetapi juga memperhitungkan kebutuhan Batam dalam jangka panjang. “Kami minta dibuat secepat mungkin roadmap tentang tata kelola air di Batam,” kata Amsakar di Batam, Rabu (7/10/2026).
Baca Juga: BP Batam Buka Opsi Tarik Air dari Lingga untuk Atasi Ancaman Krisis Air
Amsakar mengatakan BP Batam telah menggelar tiga kali pertemuan bersama jajaran deputi BP Batam, Air Batam Hilir (ABH), dan pengelola Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Pertemuan itu membahas rencana tata kelola air untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan Batam.
Saat ini Batam memiliki delapan waduk sebagai sumber air baku, tetapi satu di antaranya sudah tidak beroperasi yakni Waduk Baloi. Sistem yang ada terhubung dengan sejumlah instalasi pengolahan air (IPA) untuk memasok kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah Batam.
Peta suplai air minum BP Batam mencatat Waduk Duriangkang memiliki kapasitas 3.000 liter per detik (Lps) yang terhubung dengan sejumlah IPA. Sistem itu memasok Baloi, Bengkong, Nagoya, Sengkawang, Batu Merah, Batam Center dan sekitarnya, Sagulung, Marina, hingga Tanjung Riau.
Selain Duriangkang, peta tersebut mencatat IPA yang terhubung dengan Waduk Sei Harapan berkapasitas 245 Lps dan melayani Sekupang, Tanjung Riau, Tiban, serta Sei Harapan. Waduk Sei Ladi memiliki kapasitas IPA 295 Lps untuk memasok Tiban dan Tanjung Uma.
Waduk Muka Kuning memiliki kapasitas IPA 950 Lps yang terbagi antara IPA MK 1 sebesar 600 Lps untuk Batu Aji dan IPA MK 2 sebesar 350 Lps untuk Tangki Sukajadi di Batam Center. Sementara IPA Tembesi tercatat berkapasitas 230 Lps untuk memasok Tangki Kepayang di kawasan Tanjung Uncang. Lalu IPA Nongsa memiliki kapasitas 60 Lps untuk melayani Nongsa dan sekitarnya.
Berdasarkan data BP Batam tersebut, jika kapasitas IPA dijumlahkan, totalnya mencapai 4.780 Lps. Tetapi angka ini merupakan kapasitas pengolahan yang tercantum pada sistem, bukan volume produksi efektif yang seluruhnya masuk ke jaringan distribusi.
Di sisi lain, hingga 2026 belum ada tambahan waduk yang beroperasi untuk memperkuat sistem tersebut. Waduk Tembesi dengan kapasitas 600 Lps dan Waduk Sei Gong berkapasitas 400 Lps juga belum dioperasikan.
Produksi air bersih Batam secara keseluruhan saat ini masih berada di atas kebutuhan rata-rata masyarakat. Dengan tingkat kehilangan air sekitar 16 persen, volume air efektif yang masuk ke sistem distribusi mencapai sekitar 3.780 Lps.
Per 2026, kebutuhan rata-rata masyarakat berada di kisaran 3.700 Lps. Dengan demikian, sistem saat ini masih memiliki margin sekitar 80 Lps di atas kebutuhan rata-rata. Haya saja, dengan pertumbuhan penduduk sebesar 7,4 persen per tahun, idealnya kapasitas waduk ditingkatkan menjadi 6.000 liter per detik.
Namun, margin tersebut bukan berarti persoalan sumber air Batam telah selesai. BP Batam tetap memantau kondisi waduk, terutama yang menjadi sumber air baku bagi wilayah dengan tingkat muka air yang terus berubah.
Kondisi tersebut menjadi salah satu konteks dalam perencanaan sumber air Batam. Sebab, meskipun pasokan efektif saat ini masih sedikit di atas kebutuhan rata-rata, kebutuhan air diperkirakan terus meningkat.
Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam Denny Tondano mengatakan perhatian khusus diberikan kepada wilayah yang sumber air bakunya berasal dari waduk dengan kondisi tinggi muka air (TMA) yang terus dipantau. Wilayah tersebut antara lain Nongsa dan Sei Harapan.
“Penurunan tampungan air baku memang terjadi seiring rendahnya intensitas hujan,” ujar Denny.
BP Batam terus mengevaluasi kondisi waduk dan menyiapkan sejumlah skenario untuk menghadapi kemungkinan berlanjutnya kondisi minim hujan. Langkah tersebut diarahkan agar kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi.
Salah satu skenario ialah koordinasi tambahan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk meningkatkan potensi hujan di kawasan tangkapan air. BP Batam juga menyiapkan pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) baru berkapasitas 50 Lps di Sei Ladi untuk menambah daya dorong dan kontinuitas pasokan air.
BP Batam juga mengkaji pemanfaatan sejumlah embung sebagai sumber air alternatif. Air dari embung dapat dipompa untuk membantu mengisi waduk terdekat atau diolah melalui fasilitas pengolahan air baru di sekitar embung sebelum dimanfaatkan untuk mendukung sistem distribusi.
Pengaturan suplai secara bergilir juga masuk dalam skenario yang dikaji. Namun, penerapannya akan mempertimbangkan kondisi jaringan perpipaan dan dampaknya terhadap masyarakat.
“Kami tidak ingin menunggu sampai kondisi menjadi lebih sulit,” kata Denny.
BP Batam akan terus mengevaluasi berbagai skenario berdasarkan perkembangan kondisi waduk di lapangan. Evaluasi tersebut diarahkan untuk menjaga pelayanan air kepada masyarakat.
Tiga opsi sumber air
Amsakar mengatakan peningkatan kebutuhan air membuat Batam perlu memiliki sumber air baku alternatif. BP Batam kini mempertimbangkan tiga pilihan, yakni mencari sumber air baku dari luar Batam, membangun waduk baru di Batam, dan merevitalisasi jaringan perpipaan yang ada.
Untuk sumber air dari luar Batam, kajian sebelumnya menyebut Lingga dan Bintan sebagai dua pilihan yang memungkinkan. Lingga memiliki sumber air dengan debit lebih besar, sedangkan Bintan memiliki sumber air yang lebih terbatas dengan biaya pengembangan relatif lebih rendah.
“Lingga memiliki sumber air dengan debit lebih besar sehingga lebih menjamin ketersediaan jangka panjang,” kata Amsakar.
Menurut Amsakar, Lingga menjadi pilihan jika pemerintah atau investor mampu menyediakan anggaran yang dibutuhkan. Sumber air dari wilayah itu nantinya dapat dialirkan ke Batam melalui jaringan pipa.
“Kalau anggaran cukup atau investor sanggup, kita harus memilih Lingga,” katanya.
BP Batam telah bertemu Bupati dan Wakil Bupati Lingga untuk membahas kemungkinan pengembangan sumber air baku tersebut. Pembahasan juga mencakup skema pembiayaan dan peluang keterlibatan mitra.
Rencana membawa air dari Lingga ke Batam bukan gagasan baru. Kajian mengenai opsi serupa telah muncul sejak 1991 dan kini perlu disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan, serta harga pembangunan infrastruktur saat ini.
Besarnya kebutuhan investasi menjadi salah satu pertimbangan jika proyek tersebut melibatkan investor. Investor perlu menghitung kemampuan proyek mengembalikan modal atau break-even point.
“Angkanya cukup besar. Kalau menggandeng investor, mereka juga pasti akan cermat tentang break-even point atau pengembalian modalnya,” kata Amsakar.
Selain mencari sumber air dari luar Batam dan membangun waduk baru, BP Batam mengembangkan konsep Batam Integrated Total Water Management. Konsep tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan air dan mengurangi ketergantungan pada sumber air baku konvensional.
Pengembangan sumber air alternatif mencakup teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), air daur ulang, embung, dan stormwater atau limpasan air hujan. Sumber-sumber tersebut masuk dalam proyeksi pasokan air Batam untuk jangka panjang.
BP Batam menargetkan kontribusi SWRO sebesar 2.500 Lps dan air daur ulang 500 Lps. Pemanfaatan embung dan stormwater ditargetkan memberikan tambahan 500 Lps.
Secara teknis, BP Batam juga mengkaji pengembangan waduk laut dan pemanfaatan sumber air dari wilayah sekitar Batam. Total rencana kapasitas dari dua opsi tersebut mencapai 3.000 Lps.
Berbagai sumber alternatif itu disiapkan untuk menghadapi proyeksi kebutuhan air Batam yang mencapai 7.149 Lps pada 2045. Proyeksi tersebut memperhitungkan pertumbuhan penduduk, kawasan hunian, industri, pusat data, dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya.
“Ketahanan air merupakan kebutuhan bersama. BP Batam tidak hanya fokus pada kondisi hari ini, tetapi juga menyiapkan sumber air baru untuk masa mendatang,” kata Denny.
Sumber air dari Lingga menjadi salah satu pilihan dalam rencana jangka panjang tersebut. Pembangunan waduk baru dan revitalisasi jaringan pipa yang telah digunakan selama puluhan tahun juga tetap masuk dalam opsi BP Batam. ***
Baca Juga: Pusat Data Makin Marak, Pemerintah Diminta Buat Regulasi soal Air dan Listrik
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






