Keketuaan ASEAN 2027 mulai dipersiapkan. Konektivitas, sentralitas, dan komunitas menjadi fokus utama.
SINGAPURA (gokepri) – Singapura mulai mematangkan arah kepemimpinannya menjelang menjadi Ketua ASEAN pada 2027. Pemerintah Singapura menempatkan penguatan konektivitas kawasan, posisi sentral ASEAN, serta hubungan antarmasyarakat sebagai tiga agenda utama untuk menjaga daya saing kawasan di tengah persaingan geopolitik dan perlambatan ekonomi global.
Komitmen itu disampaikan Menteri Negara Singapura untuk Luar Negeri sekaligus Kementerian Pembangunan Sosial dan Keluarga Zhulkarnain Abdul Rahim dalam dialog bersama jurnalis peserta Indonesian Journalists’ Visit Programme (IJVP) di Kementerian Luar Negeri Singapura, Rabu, 16 Juli 2026.
Baca Juga: Memahami Visi Negara Digital Singapura dari Wawancara Menteri Josephine Teo
Arah tersebut muncul ketika berbagai tantangan membayangi kawasan. Rivalitas Amerika Serikat dan Cina belum mereda, konflik di sejumlah wilayah dunia mengganggu rantai pasok, sementara negara-negara ASEAN dituntut mempertahankan pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga persatuan.
Zhulkarnain mengatakan Singapura akan mengusung tiga prioritas yang disebut tiga C, yakni Connectivity, Centrality, dan Community. Ketiga agenda itu disiapkan untuk memperkuat posisi ASEAN sebagai kawasan yang terintegrasi sekaligus tetap terbuka terhadap dunia.
“Tiga prioritas kami adalah Connectivity, Centrality, dan Community,” kata dia.
Agenda pertama adalah memperkuat konektivitas di berbagai sektor. Singapura ingin mendorong kemudahan perdagangan, sistem pembayaran, arus investasi, transportasi, hingga perpindahan masyarakat di kawasan ASEAN.
Konektivitas itu dinilai penting karena pasar ASEAN terus berkembang dengan jumlah penduduk sekitar 700 juta jiwa. Integrasi yang lebih erat diyakini akan meningkatkan daya tarik kawasan bagi investor global.
Zhulkarnain juga menilai Indonesia memiliki peran sentral dalam agenda tersebut. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di ASEAN, Indonesia menjadi penghubung penting bagi perdagangan dan investasi kawasan.
Selain arus barang dan jasa, Singapura juga ingin memperkuat konektivitas digital dan energi. Pengembangan jaringan kabel serat optik bawah laut, interkoneksi listrik, hingga infrastruktur digital dipandang menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi baru di Asia Tenggara.
Menjaga Sentralitas ASEAN
Agenda kedua adalah mempertahankan sentralitas ASEAN di tengah meningkatnya persaingan geopolitik. Singapura ingin memastikan ASEAN tetap menjadi mitra yang relevan bagi berbagai kawasan tanpa harus berpihak pada kekuatan tertentu.
Zhulkarnain menilai hubungan dengan berbagai kawasan, mulai dari Afrika, Eropa, hingga Timur Tengah, perlu terus diperluas. Pendekatan tersebut diharapkan membuka pasar baru sekaligus memperkuat posisi ASEAN dalam percaturan ekonomi global.
Ia mencontohkan meningkatnya perhatian negara-negara Afrika terhadap ASEAN sebagai mitra ekonomi. Kawasan dengan ratusan juta penduduk itu dipandang memiliki potensi kerja sama yang semakin besar pada masa mendatang.
Selain memperkuat hubungan eksternal, Singapura juga ingin memastikan seluruh anggota ASEAN tumbuh bersama. Dukungan terhadap negara anggota yang masih berkembang, termasuk Timor-Leste, dipandang penting agar integrasi kawasan berjalan lebih merata.
Membangun Komunitas ASEAN
Agenda ketiga berfokus pada penguatan hubungan antarmasyarakat. Singapura menilai integrasi kawasan tidak cukup hanya dibangun melalui perdagangan dan investasi, tetapi juga melalui pertukaran pelajar, pemuda, tenaga profesional, dan komunitas bisnis.
Zhulkarnain menyampaikan dukungan terhadap berbagai program peningkatan kapasitas sumber daya manusia di Indonesia, termasuk Young Farmers Development Programme dan Garuda Schools. Program-program tersebut dinilai dapat membuka ruang kolaborasi pendidikan antara Indonesia dan Singapura.
“Bersatu kita teguh, bercerai kita roboh,” ujar Zhulkarnain.
Ia menilai generasi muda ASEAN perlu memiliki lebih banyak kesempatan belajar lintas negara agar memahami keberagaman kawasan sekaligus siap bersaing di tingkat global.
Batam disebut sebagai salah satu wilayah yang memiliki peluang besar memperluas kerja sama tersebut. Letaknya yang berdekatan dengan Singapura membuat mobilitas tenaga kerja, pelajar, dan pelaku usaha berlangsung lebih intensif dibanding banyak wilayah lain di ASEAN.
Zhulkarnain menegaskan Singapura telah memulai konsultasi dengan negara-negara anggota menjelang keketuaan ASEAN pada 2027. Pendekatan yang ditempuh akan mengedepankan musyawarah dan kolaborasi agar setiap kebijakan mencerminkan kepentingan bersama.
Di tengah meningkatnya fragmentasi global, Singapura menilai kekuatan ASEAN justru terletak pada kemampuannya membangun kerja sama lintas negara. Tiga agenda yang disiapkan diharapkan menjadi landasan untuk memperkuat posisi ASEAN sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dunia.
Baca Juga: Mengapa Kabel Laut Nongsa-Changi Penting bagi Batam dan Singapura
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









