Otak-otak dibakar menggunakan daun kelapa langsung di atas gerobak tersebut. Aromanya juga menyengat saat wisatawan melintasi deretan gerobak itu.
Satu bungkus otak-otak dibandrol Rp1.000 sampai Rp1.500, kebanyakan pengunjung membeli satu kotak ukuran besar untuk dijadikan oleh-oleh. Satu kotak itu seharga Rp50.000 dengan isi 50 bungkus otak-otak.
Kota Tanjungpinang tidak hanya menyuguhkan berbagai destinasi wisata. Tetapi banyak jajanan kuliner yang menggugah selera, salah satunya “otak-otak”. Makanan ini menjadi oleh-oleh khas tanah Melayu.
Melihat potensi wisata kuliner otak-otak, Pemerintah Provinsi Kepri akan menyulap Kawasan Sei Enam Kijang, Kabupaten Bintan menjadi kampung kawasan wisata kuliner otak-otak.
Gubernur Ansar Ahmad menyampaikan penataan tersebut, bertujuan untuk menarik kunjungan wisatawan mancanegara ke Kepri khususnya ke Kabupaten Bintan.
“Tempat-tempat seperti inilah yang disenangi dan dikunjungi oleh turis-turis. Sekarang kita sedang mendesain supaya nanti benar-benar menarik,” katanya, saat meninjau lokasi penataan kampung wisata kuliner otak-otak di Sei Enam Kijang, Kabupaten Bintan pada awal Desember 2021.
Dia menegaskan penataan kawasan itu akan direalisasikan di tahun anggaran 2022. Selain itu, nantinya daerah tersebut juga akan dikonsep menjadi kawasan yang modern, namun tidak menghilangkan kearifan lokal.
“Jadi penataan kampung ini menjadi wisata kuliner khas Sei Enam seperti otak-otak beserta dengan ornamen bangunannya Melayu yang menjadi penunjang dan spot berswafoto,” jelasnya yang waktu itu didampingi Ketua TP PKK Provinsi Kepri, Dewi Kumalasari Ansar.
Asal-Usul Otak-Otak
Makanan ini dinamakan otak-otak karena teksturnya. Konon, warnanya yang putih dan teksturnya yang lembut membuat makanan ini menyerupai otak. Alhasil, orang-orang menyebutnya dengan otak-otak.
Otak-otak sebenarnya sudah ada dan populer sejak lama di daerah pulau Sumatera dan sekitarnya, seperti Kepulauan Riau, Palembang, dan Bangka Belitung. Di Singapura dan Malaysia, otak-otak juga terkenal. Namun, di setiap daerah memiliki keunikan masing-masing, terutama pada sausnya.
Beda daerah, beda sausnya. Otak-otak di Jakarta atau sebagian besar di Pulau Jawa disajikan bersama dengan saus kacang.
Di Bangka, saus otak-otak adalah sambal tauco. Sedangkan di Palembang, otak-otak disajikan dengan kecap cabai, atau bisa juga dengan cuko merah, yaitu gabungan cabai, tauco, garam, dan gula.
(Penulis: Candra Gunawan)









