Vihara Dharma Sasana, Vihara Tertua di Tanjungpinang

Para pengunjung memadati Vihara Dharma Sasana di Senggarang pada libur Imlek. Foto: ANTARA

TANJUNGPINANG (gokepri.com) – Vihara Dharma Sasana merupakan vihara tertua di Tanjungpinang, saat ini usianya sudah mencapai sekitar 300 tahun.

Vihara ini terletak di kawasan pesisir Kelurahan Senggarang, Kecamatan Tanjungpinang Kota. Butuh waktu sekitar 30 menit dari pusat kota menuju vihara menggunakan jalan darat. Jika menggunakan jalur laut membutuhkan waktu sekitar 10 menit.

Pengurus Vihara Dharma Sasana A Hua mengatakan vihara tersebut ramai dikunjungi orang pada saat libur Imlek, Minggu dan Senin, 24 dan 23 Januari 2023.

Meskipun didominasi masyarakat Tionghoa, namun masyarakat lain bahkan dari umat beragama lain juga banyak yang datang untuk sekadar berliburan.

Pengunjung yang masuk ke kawasan vihara tidak dikenakan biaya alias gratis. Hanya saja A Hua mengimbau masyarakat tetap menjaga ketertiban dan keamanan, termasuk tidak membuang sampah sembarangan.

“Dari dulu, siapapun boleh datang ke sini. Tak hanya saat perayaan Imlek, hari-hari biasa juga ramai yang datang berkunjung guna melihat salah satu cagar budaya ini,” ujar A Hua, Senin 23 Januari 2023.

Peneliti Pusat Riset Kewilayahan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dedi Arman mengatakan Vihara Dharma Sasana diyakini sebagai vihara tertua di Tanjungpinang.

Vihara tersebut dibangun sekitar abad ke-18, semasa YMDR (Yang Dipertuan Muda Riau) II (Daeng Celak, 1728-1748).

Dedi mengatakan vihara dibangun sekitar 200-300 tahun yang lalu oleh imigran dari China daratan pada abad ke-18 M.

Terdapat empat bangunan utama di komplek vihara tersebut. Tiga di antaranya merupakan kelenteng dan merupakan bangunan awal, berada pada bagian depan kompleks menghadap ke laut.

Bangunan yang keempat berada di bagian belakang klenteng pada tanah lebih tinggi. Tiga bangunan klenteng pada bagian depan diperuntukkan bagi dewa-dewa China.

Nama ketiga klenteng tersebut antara lain, klenteng Fu De Zheng Shen, dewa yang terdapat pada klenteng ini adalah Dewa Phe Kong yaitu dewa bagi keselamatan di daratan, dalam hal ini bagi wilayah Senggarang.

Klenteng yang kedua adalah Tian Hou Sheng Mu, terdapat tiga buah dewa, berada di tengah adalah dewa Ma Chou yaitu dewa untuk keselamatan dalam perjalanan di laut.

Kemudian di kiri dan kanan adalah dewa Phe Kong dengan sebutan Lou Wei Sheng (berada di kanan diperuntukkan bagi keselamatan orang yang sudah mati) dan To Po Kong (di kiri diperuntukkan bagi keselamatan mereka yang di darat).

Bangunan yang ketiga adalah klenteng Yuan Tien Shang Di, di dalamnya juga terdapat dewa Phe Kong.

Sedangkan bangunan pada bagian belakang diperuntukkan bagi Sang Buddha Amitabbha, merupakan bangunan baru.

Kompleks Vihara Dharma Sasana terdiri dari 4 bangunan yang berupa 1 buah bangunan baru (Vihara Dharma Sasana) dan 3 buah bangunan lama (Klenteng Yuan Tiang Shang Di, Klenteng Fu De Zheng Shen, dan Klenteng Tian Hou Sheng Mu).

“Vihara Dharma Sasana didirikan tahun 1988, sedangkan 3 klenteng yang lama diperkirakan dibangun sekitar abad ke-18,” kata Dedi.

Arsitektur kolonial dan ragam hias China dengan atap berbentuk pelana ditampilkan dalam vihara tersebut. Keberadaan vihara ini menjadi bukti eksistensi warga China di daerah ini sejak zaman Kerajaan Riau dulu.

Baca Juga: Bupati Karimun dan Ketum Sangha Theravada Resmikan Vihara Buddharatana

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: ANTARA

Pos terkait