Gabungan keduanya akan menghadirkan frekuensi sebesar 30 MHz di pita 1800 MHz dan 2100 Mhz. Jumlah tersebut belum terlalu cukup untuk mencapai batas minimum 5G – 40 MHz, kecuali kedua perusahaan merger bekerja sama berbagi spektrum frekuensi dengan operator seluler lainnya.
“4G mungkin belum sempat balik modal dan sekarang sudah mau masuk ke 5G, agar modalnya kuat maka merger,” kata Kartika.
Dia mengatakan dengan melebur menjadi satu perusahaan, pemilik modal akan melihat efisiensi dari sisi operasional perusahaan dan peningkatan dari sisi jumlah pelanggan.
Dengan merger, sambungnya, persaingan dalam perebutan pelanggan juga akan makin sehat. Jumlah pelanggan yang besar akan mendorong keduanya untuk meningkatkan kualitas layanan dibandingkan harus jual murah layanan untuk mendapat pelanggan.
“Secara spektrum juga lebih rapih dan efisiensi. Pelanggan dua kali lipat tapi direksinya hanya satu, jadi lebih sehat. Kalau sudah hemat bisa kuat gelar 5G,” kata Kartika.
(can)
Sumber: Reuters
|Baca Juga: Musim Merger Start Up, Taipan Hongkong Incar Tokopedia







