Gangguan pasokan energi memicu penyesuaian sumber impor. Indonesia dan Australia memperkuat kerja sama energi.
JAKARTA (gokepri) — Gangguan rantai pasok energi akibat krisis di Timur Tengah mendorong Indonesia dan Australia memperkuat kerja sama sektor energi. Salah satu dampak yang mulai terlihat ialah meningkatnya pasokan liquefied petroleum gas (LPG) dari Australia untuk memenuhi kebutuhan Indonesia.
Peningkatan pasokan tersebut muncul ketika distribusi energi global menghadapi tekanan akibat terganggunya jalur perdagangan di kawasan Timur Tengah. Kondisi itu membuat sejumlah negara mencari sumber pasokan alternatif untuk menjaga ketahanan energi domestik.
Baca Juga: CNG Dikaji untuk Kurangi Ketergantungan LPG Impor
Duta Besar Australia untuk Indonesia Rod Brazier mengatakan hubungan kedua negara menunjukkan pentingnya kemitraan strategis dalam menghadapi ketidakpastian global.
“Ketika gangguan di Timur Tengah memengaruhi rantai pasok global, Indonesia dan Australia saling mendukung dengan meningkatnya ekspor urea Indonesia ke Australia serta bertambahnya pasokan LPG Australia ke Indonesia,” ujar Brazier dalam keterangan Kedutaan Besar Australia di Jakarta, Senin (22/6/2026).
Menurut Kedutaan Besar Australia, peningkatan pasokan LPG berlangsung dalam beberapa bulan terakhir. Tambahan pasokan itu membantu menutup kekurangan yang muncul akibat terganggunya distribusi energi dari Timur Tengah.
Gangguan tersebut berkaitan dengan penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Selat itu menjadi pintu keluar utama ekspor minyak dan LPG dari negara-negara Teluk.
Terganggunya jalur tersebut berdampak langsung terhadap rantai pasok energi global. Sejumlah negara pengimpor, termasuk Indonesia, menghadapi risiko berkurangnya pasokan dari sumber tradisionalnya.
Berdasarkan keterangan Kedutaan Besar Australia, jumlah kargo LPG Australia yang dikirim ke Indonesia sepanjang 2026 meningkat sedikitnya tiga kali lipat dibandingkan dengan 2025.
Tambahan pengiriman tersebut dinilai penting karena terjadi pada periode ketika pasar energi global menghadapi ketidakpastian. Diversifikasi sumber pasokan menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas kebutuhan energi dalam negeri.
Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI Vahd Nabyl Achmad Mulachela menilai kerja sama itu mencerminkan eratnya hubungan kedua negara.
“Hal ini menunjukkan bagaimana kedua negara dapat bekerja sama memperkuat ketahanan energi, meningkatkan resiliensi rantai pasok, serta mendorong kepentingan ekonomi bersama,” kata Vahd.
Kerja sama tersebut tidak hanya berkaitan dengan perdagangan energi. Hubungan kedua negara juga tercermin dalam rantai industri yang saling terhubung.
Pasokan tambahan LPG berasal dari Ichthys Project yang beroperasi di Australia Barat dan Northern Territory. Proyek itu dikelola oleh perusahaan energi INPEX.
Menariknya, sebagian infrastruktur utama proyek tersebut diproduksi di Batam, Kepulauan Riau. Fakta ini menunjukkan hubungan ekonomi Indonesia dan Australia tidak terbatas pada perdagangan komoditas, tetapi juga mencakup sektor manufaktur dan industri penunjang energi. ANTARA
Baca Juga: PGN Targetkan 150 Ribu Sambungan Jargas di Batam, Subsidi LPG Bisa Hemat Rp79 Miliar per Bulan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








