Tren Fusion Food, Harus Bijak Menikmati Agar Tetap Sehat

Ilustrasi. Fusion food sedang tren dan digemari, tapi harus bijak mengonsumsinya agar tetap sehat. Foto: Pexels.

JAKARTA (gokepri.com) – Fusion food atau konsep penggabungan bahan atau cara masak lebih dari satu budaya lagi tren. Tapi masyarakat harus bijak saat menikmatinya agar tetap sehat.

Tren fusion food sangat digemari karena selain mengkreasikan bahan dan bumbu juga disajikan dengan tampilan yang menarik.

Di Indonesia misalnya fusion food yang populer misalnya Kebab Nasi Padang, Burger Rendang, Pizza Rendang, Rendang Spring Rolls, hingga Steik Tempe.

Selain itu, ada makanan fusion yang menggabungkan antara dua masakan tradisional misalnya Soto Rawon dan Sate Buntel Bumbu Maranggi.

Tidak hanya di Indonesia, fusion food ini juga ramai di luar negeri. Ada banyak hidangan yang dibuat dengan inovatif misalnya menggabungkan sajian klasik Amerika dengan masakan Asia.

Misalnya Korean Kimchi BBQ Burgers, yang memiliki paduan rasa manis khas saus BBQ Korea dan kimchi pedas dengan burger daging dan kentang goreng.

Ada juga Roti Mochi Pisang, Thai Spring Pea Soup alias sup kental nan lembut dengan sedikit rasa dari serai segar dan kari kuning, hingga Buffalo Peanut Inside-Out Sushi yang memadukan cita rasa Jepang dan Amerika yakni sayuran segar dan kacang dibungkus dengan nasi berbumbu lalu disiram dengan saus krim yang terbuat dari biji bunga matahari.

Demikian juga di Korea Selatan, tren fusion food sangat disukai kalangan millenial. Salah satunya yaitu Konchijeu alias Korean corn cheese berbahan utama berupa jagung dan keju.

Ada juga Yeoptteok Together. Makanan ini adalah campuran dari tteokbokki, yaitu kue beras pedas khas Korea Selatan yang dicampur dengan es krim vanilla.

Sedangkan untuk minuman, ada Chicken Mu Saida atau Chicken Radish Ade, yaitu merupakan gabungan antara acar lobak Korea dengan air soda.

Aneka kuliner kekinian ini sebenarnya membantu eksistensi masakan tradisional di masyarakat, khususnya generasi milenial dan Gen Z.

Namun demikian, masyarakat juga perlu memperhatikan kandungan gizi dan nutrisinya agar terhindar dari berbagai macam penyakit.

Dokter ilmu gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, Sp. GK mengatakan bahwa masyarakat dapat mengonsumsi makanan dengan tetap menerapkan pola makan gizi seimbang, yaitu terdiri dari makanan pokok sebagai sumber karbohidrat, lauk pauk sebagai sumber protein hewani dan nabati, serta sayuran dan buah.

Selain komposisi makanan, juga perlu diperhitungkan jumlah makanan yang dikonsumsi agar tidak kekurangan atau kelebihan.

“Oleh karena itu, harus diperhitungkan dengan baik saat memesan makanan saat berkuliner,” katanya.

Ia mengatakan, jenis makanan mempunyai peran yang sangat penting dalam meningkatkan kesehatan masyarakat, khususnya status nutrisi penduduk Indonesia yang sering dijumpai yaitu masalah status nutrisi kurus dan berat badan berlebih (obesitas).

Dokter dan ahli gizi masyarakat, DR. dr. Tan Shot Yen, M.Hum mengimbau masyakarat agar selektif dalam mengonsumsi fusion food, terutama soal kandungan nutrisi dalam makanan itu.

“Biasakan memilih masakan yang diolah tradisional tanpa produk kemasan seperti saos, aneka kecap, dan lainnya. Bumbu dapur dan rempah sudah cukup,” kata Tan, yang mendapatkan gelar Doktor Ahli Gizi Komunitas dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.

Pemilihan bahan persiapan, produksi dan penyajian fusion food perlu mempertimbangkan nutrisi, misalnya makanan yang menggunakan bahan makanan ultra proses tentu memiliki kandungan nutrisi berbeda dibandingkan dengan yang menggunakan bahan alami.

“Makan ubi kukus atau singkong rebus dicocol sambal ikan roa masih lebih logis ketimbang brownies ubi ungu bersalut krim keju olahan,” kata Tan.

Baca Juga: Inilah Deretan Brand Kuliner Termahal di Dunia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: Antara

Pos terkait