Tertipu

Fery Heriyanto. (istimewa)

Cerpen: Fery Heriyanto

Rumah keluarga Liswar yang sebelumnya ramai, tiba-tiba terlihat sepi sejak beberapa waktu terakhir. Dari informasi yang diperoleh, dia sekeluarga sudah pindah.

“Kabarnya dia pindah,” ujar salah seorang warga
“Kemana?”
“Nggak tahu.”

Tidak lama setelah itu, tiba-tiba kami melihat ada spanduk “RUMAH INI DIJUAL” terpampang di pagar rumahnya.

Hal itu menjadi tanya besar bagi sebagian warga. “Ada apa?” Kepindahannya juga tidak diketahui perangkat RT juga RW. Beredar juga kabar jika tiga unit mobilnya sudah dijual. Beberapa warga coba menghubungi via telepon, tapi hpnya tidak aktif.

“Mungkin beliau sudah beli rumah di tempat lain,” ucap seorang warga.
“Mungkin juga beliau ingin suasana baru,” timpal yang lain.

Selama ini Liswar dinilai memiliki status sosial yang cukup baik. Dia punya usaha sendiri. Orderan di perusahaannya terbilang banyak. Karyawannya cukup lumayan. Meski begitu, dia juga aktif di lingkungan perumahan. Kalo ada kegiatan warga, dia selalu hadir dan berpartisipasi.

**

Suatu hari aku jumpa Liswar di dekat parkiran di salah satu pusat keramaian di kota kami.

“Bang, apa kabar? Lama tak jumpa?” ucapku menyapanya.
“Baik,” balasnya seraya menyambut jabat tanganku. Dia tampak agak kurus dari biasanya.
“Tinggal dimana sekarang, Bang?” tanyaku.
Dia tersenyum tipis.
“Kami pindah di kawasan dekat sekolah anak,” jawabnya.
“Ayo kita ngopi, lama tak ngobrol-ngobrol sama abang,” ajakku.
“Maaf, saya ada janji. Lain Waktu lah ya..Biar saya telpon nanti,” balasnya.

Kamipun berpisah sambil berjabat tangan erat. Beberapa hari kemudian, kami jumpa lagi. Kebetulan waktunya aku lagi istirahat sambil minum di warung langganan.

“Ayo, Bang, ngopi.”

Di sela-sela berbincang, tiba-tiba dia menawarkan rumahnya yang dijual itu.
“Kalo ada yang minat, kabari ya, Bang,” ucapnya.
“Saya jual sesuai pasaran di komplek kita. Kami jual sekalian perabotannya,” tambahnya lagi.
“Siap, nanti saya tawarkan pada warga atau kawan. Mana tahu ada jodohnya,” balasku.

Dua bulan setelah pertemuan itu, tiba-tiba rumah tersebut terlihat sudah dibersihkan beberapa orang. Menurut orang yang bersih-bersih itu, rumah Liswar sudah dibeli keluarganya.

Menjelang akhir tahun, tanpa sengaja, kami jumpa lagi. Kali ini aku “paksa” dia untuk ngopi bareng. Di tengah-tengah ngobrol kami, tanpa sengaja terucap jika dia terpaksa menjual rumahnya itu.

“Sejak pandemi usai, saya jarang dapat orderan proyek. Lalu, saya coba buka usaha lain,” ucapnya mulai bercerita.

“Lalu, satu hari, relasi lama tiba-tiba telepon memberi kabar jika ada proyek. Saat itu saya berpikir ini rezeki yang sudah lama ditunggu. Apalagi setelah saya hitung-hitung, nominal proyeknya lumayan besar. Dan lagi, hampir lima tahun terakhir, itulah proyek yang lumayan besar ditawarkan pada saya,” paparnya.

“Lalu saya menjumpai relasi itu dan membahas proyek tersebut. Setelah diskusi banyak, saya sepakat untuk mengerjakannya. Mulailah saya beli bahan baku, tambah karyawan, dan lainnya,” terangnya lagi.

“Singkat cerita, sesuai kesepakatan, proyek selesai,” ucapnya.

“Saya pun memasukan invoice pada mereka. Seperti yang sudah-sudah, biasanya mereka membayar setelah 60 hari proyek selesai,” lanjutnya.

“Sampai waktunya, saya tagih. Namun, mereka minta Waktu. Tak lama setelah itu, mereka bayar sekitar 5 persen dari total proyek. Lalu dibayar lagi yang jumlahnya sekitar lima persen,” tuturnya.

“Setelah saya tunggu beberapa waktu, pembayaran lanjutan tidak ada sama sekali. Setiap saya tagih, saya dimintanya bersabar. Begitu jawabannya sampai beberapa bulan. Sementara, saya juga terdesak untuk bayar gaji karyawan, bayar supplyer, rekanan, dan lainnya,” terangnya melanjutkan.

“Hampir setiap hari saya minta, tapi tetap saja tak cair. Lalu, saya sampai minta tolong pihak ketiga untuk menagih. Hasilnya tetap sama,” ucapnya melanjutkan cerita.

“Setiap kali saya tagih dan datang ke kantornya bersama pihak ketiga, relasi itu sampai menangis. Dia mengaku juga dapat perintah dari Bosnya di Pusat. Sementara pembayaran tersentral di Pusat. Dia pun mengaku invoice sudah dikirimkan ke kantor pusat perusahaannya,” lanjutnya.

“Hampir setahun, tagihan selanjutnya tidak juga cair, sementara gaji karyawan harus terus dibayar, begitu pula operasional, dan lainnya. Akhirnya, mobil dan rumah terpaksa saya jual,” terangnya lagi.

“Disamping itu, pihak lain yang selama ini supporting bahan baku juga mendesak pembayaran. Untuk menjaga hubungan baik, Saya sampai minta karyawan menjual sebagian asset perusahaan sembari terus menagih pembayaran proyek itu,” lanjutnya.

“Lama-lama, harapan saya tagihan itu bisa dilunasi, tidak sejalan dengan kenyataan. Semua berantakan,” ucapnya dengan wajah yang tampak lelah.

“Untung keluarga selalu memberi dukungan dan ikhlas mengatakan jual saja asset barang yang kami miliki, mulai dari rumah dan perabotnya, mobil, termasuk tanah. Sampai saya minta tolong karyawan jual sebagian mesin di gudang untuk bayar gaji mereka,” lanjutnya bercerita.

Saya dengarkan setiap kalimat yang diucapkannya. Lalu, kami sama-sama terdiam sejenak.

“Sampai kini, tagihan yang dijanjikan tidak juga terealisasi. Dan kerjasama saya pada pihak ketiga dalam penagihan pun terpaksa distop karena tak sanggup membayar mereka,” kata Liswar lagi.

**

Di tengah kondisi yang serba sulit itu, suatu hari Liswar mendatangi seorang kawan seprofesinya dan menceritakan masalah yang dialami. Kawannya itu pun kaget.

“Apa? Jadi Bung kena olah juga sama dia?” ucap temannya itu dengan wajah terkejut.
“Maksudnya?”
“Sebelumnya, bos itu juga pernah minta mengerjakan proyek yang sama pada kami. Setelah pengerjaan selesai, pembayarannya tersendat. Hampir setahun juga saya tagih. Dari total tagihan, yang dibayar tidak sampai 25 persen hingga sekarang. Sudah berbagai cara saya lakukan untuk menagih, tapi hasilnya tetap nihil!”

“Lalu, tiba-tiba dia pernah minta dibuatkan barang lagi seperti yang Bung kerjakan itu, dengan janji seluruh invoice akan dibayar sekalian dengan yang sebelumnya. Permintaan itu saya tolak! Saya tak mau tertipu dua kali,” ucap temannya itu menambahkan.

Liswar pun terdiam mendengar itu.

“Bung, kalo kita jumpa saat awal proyek itu dia tawarkan, saya pasti sudah halangi Bung untuk mengerjakannya!” tegas kawannya itu.**

Batam Centre, Mei 2026

*)  Fery Heriyanto, alumni Fakultas Sastra (Budaya) USU Medan, kini jurnalis di Kepri

Pos terkait