“Dahulu Dia Kerap Beri Makan Kawan-kawan”

Fery Heriyanto. (istimewa)

Cerpen: Fery Heriyanto

Kehadiran Munap saat kawan-kawan ngopi kerap menimbulkan candaan yang kadang tidak enak didengar telinga. Namun, candaan itu hanya dilontarkan ketika lelaki itu telah pergi.

“Si Munap datang hanya untuk ngopi”
“Dia lebih banyak nyusahin.”
“Tiga hari lalu dia WA aku minta beli bensin.”
“Tak gunalah kawan tu.”

HBRL

Demikian sedikit ungkapan yang kerap dilontarkan sebagian kawan tentang si Munap. Namun, pria itu tidak pernah mengetahui hal itu karena memang diucapkan di belakangnya.

Setiap kali gabung dengan kawan-kawan, dia hanya pesan secangkir kopi. Kalau ditawarkan makan, dia sering menolak. Namun, menurut kawan-kawan, usai dia pergi, ada saja WA yang masuk ke salah seorang teman. Isi WA-nya minta dukungan untuk beli bensin, rokok, atau beli sedikit kuota.

**

“Kenapa abang begitu memanjakan dia. Dia kerap menyusahkan abang,” ucap seorang teman saat kami jumpa.
“Memanjakan dia bagaimana?” balasku.
“Setiap dia datang, abang selalu menyalaminya, menyuruhnya pesan kopi dan makan. Kalau dia tak ada, abang telpon dia untuk gabung,” ucap kawan itu lagi.
“Ah, biasa saja itu. Tidak salah kan jika aku ngajak dia ngopi?”
“Memang tak salah, tapi sifatnya itu yang banyak kawan tak suka,” balasnya.
“Santai saja, tiap kita punya nasib dan rezeki masing-masing,” ujarku menimpali.

Teman itu menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Saya percaya, dia pasti sering minta uang ke abang kan?”

Aku diam.

“Setiap dia pinjam uang, tak pernah balik, Bang. Memang pinjamnya tak banyak, tapi kalau sering-sering, kawan-kawan juga terganggu,” lanjutnya.
“Abang tahu, sekali seminggu atau sekali sepuluh hari dia pasti datang ke tempat kerjaku. Saat pulang, seperti biasa, dia minta beli rokok,” tambahnya lagi.
“Itulah tanda berteman…Itu tanda dia merasa dekat dengan kamu,” ucapku mengomentari.

Kawan tersebut menghembuskan asap rokoknya.

“…itulah, di hp ini aku ganti namanya jadi Si Munap Keliling,” ujarnya tertawa.

Sosok Munap memang telah menjadi perbincangan sejumlah kawan sejak beberapa waktu terakhir. Banyak teman yang merasa terganggu kalo dia muncul. Walaupun kehadirannya dengan penuh senyum dan sedikit informasi tentang hal-hal baru, namun, jika dia sudah gabung, sejumlah kawan merasa tak nyaman.

**

“Aku terima kasih sama, Bung. Bung lah orang yang sering menelpon dan mengajak aku ngopi. Kawan-kawan yang lain tak tahu lagi kemana sekarang,” ucapnya suatu kali.
“Aku kadang merasa sudah hilang dari mereka,” tuturnya.

“Sebenarnya aku malu juga sama kawan-kawan tersebut, Bung… Tapi, bagaimana lagi, saat ini kondisi ku tidak baik. Makanya, kalau aku gabung-gabung dengan kawan-kawan itu, aku hanya minta kopi cangkir saja, tidak pernah lebih,” ucapnya lagi.

“Namum, saat Bung yang telpon, tidak hanya kopi, tapi Bung juga suruh pesan makan dan rokok. Tak jarang saat aku pulang, Bung selipkan pula untuk beli bensin,” lanjutnya. “Aku benar-benar tak enak hati sama Bung,” ujar lagi.

“Sudah, santai saja…,” jawabku singkat.

“Aku kerap menyusahkan, Bung,” ucapnya lagi dengan intonasi pelan.

“Aku sering telpon teman-teman dahulu, tapi, sangat sedikit yang menjawab. Apakah nomor hpku tidak dikenalinya lagi? Atau memang aku sudah tak dianggap oleh kawan-kawan itu?” lanjutnya.

“Berprasangka baik sajalah. Mungkin yang lain itu lagi sibuk,” ucapku menghiburnya.

Dia senyum tipis. “Memang aku tak pikirkan itu, Bung. Tapi, sesekali aku juga merasa jika aku tidak pernah ada di tengah mereka seperti dahulu,” terangnya lagi.

**

Aku sebenarnya belum lama juga akrab dengan dia. Komunikasi kami terjalin baik tanpa disengaja. Saat itu ada sebuah acara, lalu kami ngobrol dan nyambung. Sejak itu aku kerap jumpa dia dan terlibat diskusi tentang sejumlah hal.

Dahulu, saat masih bergelimang kerja di lapangan, aku sudah tahu banyak tentang dirinya. Namanya kerap disebut kawan-kawan. Baik pagi, siang, malam, maupun tengah malam.

**

“Abang kerap aku lihat ngopi sama si Munap,” ucap salah seorang teman yang lain saat kami santai usai pulang kantor.

“Biasa saja,” balasku.

“Apa kegiatan dia sekarang?”

“Aku tak tahu persis,” jawabku.

“Aku dengar dari kawan-kawan, dia kini banyak mengukur jalan. Banyak teman yang mengatakan begitu.”

“Ya, aku juga dengar itu,” jawabku sambal menyeruput kopi.

“Tapi, banyak juga teman-teman yang tidak tahu tentang dia,” ujarku lagi.

“Kenapa dia, Bang.”

“Jauh sebelum teman-teman itu kenal dia, aku sudah sering melihat dan dapat informasi sepak terjangnya,” ucapku memulai cerita.

“Dahulu, semasa dia memiliki finansial kuat, dia kerap memberi makan kawan-kawan. Ada atau tidak dia di lapangan, kalau mendengar teman susah, dia langsung datang. Atau kalau dia tidak tak sempat datang, pasti disuruhnya kawan yang lain untuk membelikan logistik untuk kawan-kawan tersebut,” paparnya.

“Dia tidak pernah kenal pagi, siang, malam, atau tengah malam. Baginya, hari itu sama. Jika ada teman yang butuh bantuan, dia akan tolong,” beberku lagi sambil menyesap kopi hitamku.

“Tapi, dia tidak pernah bercerita tentang itu. Hanya kawan-kawan dahulu saja yang menyampaikan jika Si Munap yang tolong mereka.”

“Intinya, saat itu, belasan tahun lalu, ketika ada kawan-kawan yang susah, dia orang yang pertama membantu.”

Aku menghela nafas.

“Jadi, kalau kini kondisinya lagi tidak baik, harap dimaklumi saja. Kalo hari ini dia datang saat kita ngopi, biarlah dia ikut merasakan juga apa yang dimakan kawan-kawan.”

“Aku tidak bisa menghilangkan jejak dia dahulu. Bagi ku, dia tetap kawan yang tidak perlu dibincangkan. Seberapalah kopi secangkir, nasi sepiring, rokok sebungkus, atau seliter minyak? Aku rasa itu tidak akan membuat kawan-kawan miskin,” ucapku. *

Belian, 5 – 5- 2026

*) Fery Heriyanto, Jurnalis di Kepri

Pos terkait