Serap Tenaga Kerja hingga 21.000 Orang, Kawasan Transmigrasi Galang Dibidik Jadi Pusat Industri

Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman Suryanagara menjelaskan pengembangan kawasan transmigrasi menjadi pusat ekonomi.
Mentrans Iftitah Sulaiman Suryanagara (kanan) dan Deputi I Bidang Strategi dan Sistem Komunikasi Bakom RI Fahd Pahdepie dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu (12/8/2026). ANTARA/Prisca Triferna

Kementrans menggeser orientasi transmigrasi dari permukiman menuju ekosistem investasi. Batam, Galang, dan Mamuju menjadi kawasan yang disiapkan.

BATAM (gokepri) – Kementerian Transmigrasi menyiapkan kawasan transmigrasi di Batam, Rempang, dan Galang sebagai pusat ekonomi berbasis industri. Pemerintah mengarahkan transformasi kawasan untuk menciptakan investasi dan lapangan kerja.

Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan pemerintah tidak lagi melihat kawasan transmigrasi sebatas permukiman dan lahan pertanian. Kawasan tersebut mulai diarahkan untuk menampung kegiatan industri dan energi.

Baca Juga: Kesempatan Bekerja Menjadi Harapan Warga Galang

Batam, Rempang, dan Galang menjadi salah satu lokus yang disiapkan untuk perubahan orientasi tersebut. Di Galang, Kementerian Transmigrasi mendapat hak pengelolaan atas lahan seluas 350 hektare.

“Fokusnya industri dan beberapa juga sudah diberikan hak pengelolaan untuk 350 hektare di Galang,” kata Iftitah dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2026.

Rencana tersebut mulai mendapat bentuk melalui minat investor terhadap sebagian lahan di Galang. Iftitah menyebut seorang investor datang untuk memanfaatkan lahan itu bagi pembangunan galangan kapal.

Nilai investasi yang dibicarakan mencapai triliunan rupiah. Selain nilai modal, pemerintah menempatkan penyerapan tenaga kerja lokal sebagai salah satu alasan pengembangan kawasan tersebut.

Kementrans menyebut pemanfaatan lahan seluas 150 hektare dapat menyerap sekitar 21 ribu tenaga kerja. Angka itu menjadi salah satu dasar pemerintah melihat kawasan transmigrasi sebagai ruang pengembangan ekonomi baru.

Namun, pengembangan kawasan tersebut tidak berhenti pada penyediaan lahan bagi industri. Pemerintah ingin menghubungkan kawasan transmigrasi dengan aktivitas ekonomi yang memberi nilai tambah bagi masyarakat setempat.

Iftitah mengatakan perubahan itu merupakan bagian dari transformasi transmigrasi di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Orientasi pemerintah kini bergeser dari mengejar jumlah kawasan dan perpindahan penduduk menuju peningkatan kualitas kawasan.

Menyasar Logam Tanah Jarang

Selain Batam dan Galang, Kementrans mengarahkan pengembangan ekonomi kawasan transmigrasi ke sektor sumber daya strategis. Salah satunya eksplorasi logam tanah jarang atau LTJ di Mamuju, Sulawesi Barat.

Iftitah mengatakan telah bertemu PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) untuk membahas potensi eksplorasi LTJ di wilayah tersebut. Kementrans juga telah berdialog dengan sejumlah kementerian dan lembaga mengenai eksplorasi di kawasan transmigrasi Mamuju.

Pengembangan LTJ menunjukkan sektor yang dibidik Kementrans tidak lagi terbatas pada pertanian. Kawasan transmigrasi mulai ditempatkan sebagai bagian dari rantai industri yang lebih luas.

Menurut Iftitah, pemerintah ingin membangun ekosistem investasi yang menghubungkan potensi kawasan dengan kegiatan ekonomi. Dengan pola tersebut, kawasan transmigrasi diharapkan menghasilkan nilai tambah dan memperluas kesempatan kerja.

Perubahan orientasi itu masuk dalam agenda pemerintah melalui revitalisasi 45 kawasan transmigrasi prioritas nasional. Program tersebut menjadi salah satu agenda utama dalam RPJMN 2025–2029.

Kementrans juga menyiapkan pengembangan kawasan yang terintegrasi serta digitalisasi data kawasan. Dua pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperbaiki perencanaan dan pengelolaan kawasan transmigrasi.

Pemerintah tidak lagi menjadikan pembukaan lahan dan perpindahan penduduk sebagai titik utama pembangunan transmigrasi. Fokusnya bergeser pada pembentukan ekosistem investasi yang menciptakan nilai tambah, membuka pekerjaan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Kami bangun satu pembangunan ekonomi yang juga terintegrasi,” ujar Iftitah. ANTARA

Baca Juga: Bagaimana Kolaborasi RI-AS Membangun Ekosistem Semikonduktor di Pulau Galang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait