BATAM (gokepri) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menjadikan Balai Perikanan Budi Daya Laut (BPBL) Batam sebagai percontohan nasional pembesaran benih bening lobster (BBL) untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sebelum diekspor.
Model itu dikembangkan melalui pembesaran benih hingga ukuran konsumsi dengan dukungan fasilitas budidaya, sistem pakan, dan teknologi pendederan yang ditargetkan menghasilkan panen berikutnya pada September 2026.
Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP Tb Haeru Rahayu mengatakan selama ini potensi ekonomi lobster belum optimal karena sebagian besar masih berhenti pada tahap benih. Karena itu, KKP mengembangkan sistem pembesaran agar nilai ekonomi lobster dinikmati di dalam negeri sebelum masuk pasar ekspor.
Baca Juga: Gibran Panen Perdana Lobster di Batam, Dorong Industrialisasi Perikanan
“Kami ingin potensi BBL tidak berhenti sebagai benih,” kata Haeru dalam keterangan resmi, Senin, 27 Juli 2026.
Batam dipilih sebagai lokasi percontohan karena memiliki daya dukung lingkungan yang sesuai untuk budi daya lobster, dekat dengan pasar ekspor, serta didukung ketersediaan pakan dari pengembangan budi daya kekerangan yang melibatkan masyarakat pesisir.
Model tersebut dibangun di kawasan seluas tiga hektare yang dilengkapi fasilitas pendederan (nursery), ruang penyimpanan dingin (cold room), serta 172 unit Keramba Jaring Apung (KJA). Fasilitas itu terdiri atas 116 KJA berukuran besar dan 56 KJA berukuran sedang.
Program ini dimulai pada akhir 2024 melalui penebaran 33.143 benih bening lobster di unit pendederan. KKP mencatat tingkat kelangsungan hidup (survival rate) benih mencapai lebih dari 80 persen sebelum dipindahkan ke keramba pembesaran.
Dalam tahap pendederan, benih dibesarkan hingga mencapai bobot sekitar lima gram per ekor. Setelah itu, lobster dipindahkan ke keramba jaring apung untuk memasuki fase pembesaran hingga ukuran konsumsi.
Lobster yang dipelihara sejak Oktober 2025 kini memiliki bobot rata-rata 150–200 gram per ekor di KJA berukuran besar. Dengan pertumbuhan tersebut, KKP memperkirakan panen berikutnya dapat dilakukan pada September 2026.
Produktivitas program ini ditargetkan mencapai 40 kilogram lobster pada setiap lubang KJA berukuran 3 x 3 meter.
Untuk menjamin keberlanjutan produksi, BPBL Batam juga mengembangkan budi daya kerang kupang di perairan Tanjung Uma sebagai sumber pakan. Kapasitas produksinya mencapai 3.600 kilogram dalam setiap siklus.
Selain mendukung efisiensi budi daya, sistem itu melibatkan masyarakat pesisir dalam rantai produksi sehingga kebutuhan pakan tidak bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Program pembesaran lobster di Batam sebelumnya menghasilkan panen perdana sekitar 1,7 ton pada September 2025. Hasil tersebut menjadi dasar bagi KKP untuk mengembangkan model serupa di wilayah lain yang memiliki potensi budi daya.
Sementara itu, tren pasar juga menunjukkan peningkatan permintaan. Nilai ekspor lobster Indonesia naik dari 23,93 juta dolar AS dengan volume 1.144 ton pada 2023 menjadi 67,83 juta dolar AS dengan produksi 2.120 ton pada 2024. KKP menilai peningkatan nilai ekspor itu perlu diikuti dengan penguatan budi daya dalam negeri agar manfaat ekonomi tidak berhenti pada penjualan benih. ANTARA
Baca Juga: KKP Garap Ekosistem Lobster di Batam, Kerang Terbuang Jadi Solusi Pakan Murah
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









