Qatar vs Swiss: Menakar Kualitas Wakil Asia

Prediksi Qatar vs swiss piala dunia 2026
Grafik ilustrasi pertandingan penyisihan Grup B Piala Dunia 2026 antara Qatar melawan Swiss yang dijadwalkan berlangsung di Stadion Levi's, San Francisco, California, Amerika Serikat, Sabtu (13/6/2026) waktu setempat. ANTARA INFOGRAFIK/Vintan Rahmadanti

BATAM (gokepri) — Qatar menghadapi Swiss pada laga kedua Grup B Piala Dunia 2026, Minggu (14/6/2026) dini hari WIB. Pertandingan ini menjadi kesempatan pertama bagi Qatar untuk menunjukkan bahwa mereka telah berkembang sejak tampil mengecewakan pada Piala Dunia 2022.

Empat tahun lalu, Qatar mencatat debut yang sulit dikenang. Sebagai tuan rumah, mereka kalah dalam tiga pertandingan fase grup. Qatar kebobolan tujuh gol dan hanya mencetak satu gol.

Catatan itu menjadi salah satu debut terburuk tim Asia di putaran final Piala Dunia. Jepang memang juga kalah dalam tiga laga fase grup pada Piala Dunia 1998. Namun, Jepang hanya kebobolan empat gol dan mencetak satu gol.

Baca Juga: Brasil dan Maroko Berebut Momentum Awal

Perbandingan dengan Jepang kerap muncul dalam pembahasan mengenai Qatar. Setelah gagal pada debutnya, Jepang bangkit ketika menjadi tuan rumah bersama Korea Selatan pada Piala Dunia 2002. Saat itu, Samurai Biru lolos ke babak 16 besar setelah memenangi dua pertandingan fase grup.

Kini pertanyaannya bukan lagi soal sejarah buruk Qatar. Yang menjadi perhatian adalah apakah mereka mampu menunjukkan kemajuan dalam partisipasi keduanya di putaran final Piala Dunia.

Sorotan terhadap Qatar juga muncul dari jalur yang mereka tempuh menuju Piala Dunia 2026. Bersama Arab Saudi, Qatar lolos setelah menjalani babak penentuan kualifikasi zona Asia di kandang sendiri.

Situasi itu memunculkan perdebatan mengenai aspek kompetitif dalam proses kualifikasi. Sejumlah pihak menilai format tersebut memberi keuntungan lebih dibanding penggunaan venue netral atau sistem kandang dan tandang.

Karena itu, laga melawan Swiss di Levi’s Stadium, Santa Clara, California, memiliki makna lebih luas. Qatar tidak hanya memburu poin. Mereka juga berusaha menjawab keraguan yang mengiringi langkahnya ke putaran final.

Tugas itu tidak mudah. Swiss datang sebagai salah satu tim paling konsisten dari Eropa.

Piala Dunia 2026 menjadi partisipasi ke-13 Swiss di putaran final. Dalam tiga edisi terakhir, mereka selalu mencapai babak 16 besar. Prestasi terbaik Swiss adalah lolos ke perempat final pada 1934, 1938, dan 1954.

Tim asuhan Murat Yakin juga tiba dengan kepercayaan diri tinggi. Mereka menjuarai grup kualifikasi zona Eropa tanpa sekali pun kalah.

Performa Swiss dalam enam laga terakhir juga cukup stabil. Mereka menang 4-1 atas Swedia pada kualifikasi Piala Dunia 2026. Mereka juga mengalahkan Yordania dengan skor yang sama dalam laga persahabatan.

Swiss bermain imbang melawan Kosovo, Norwegia, dan Australia. Satu-satunya kekalahan mereka terjadi saat menghadapi Jerman dengan skor 3-4.

Sebaliknya, Qatar belum menemukan performa terbaik. Dalam enam pertandingan terakhir, tim asuhan Julen Lopetegui tidak pernah menang.

Qatar kalah dari Zimbabwe, Palestina, Tunisia, dan Irlandia. Mereka juga bermain imbang melawan Suriah serta El Salvador.

Perbandingan itu membuat Swiss lebih diunggulkan. Apalagi, mereka hanya sekali kalah dalam 14 pertandingan terakhir.

Swiss juga memiliki kepentingan besar untuk meraih tiga poin. Granit Xhaka dan kawan-kawan tidak ingin kehilangan momentum sebelum menghadapi Bosnia-Herzegovina dan Kanada.

Kedua tim itu sebelumnya bermain imbang 1-1 pada laga pembuka Grup B. Hasil tersebut membuat persaingan menuju babak berikutnya terbuka lebar.

Meski lebih diunggulkan, Swiss tidak bisa menganggap enteng Qatar. Kedua tim pernah bertemu dalam laga persahabatan di Lugano, Swiss, pada 14 November 2018.

Saat itu Qatar menang 1-0. Gol tunggal kemenangan dicetak Akram Afif.

Pertemuan tersebut masih menyisakan jejak dalam skuad kedua tim. Afif termasuk sembilan pemain Qatar yang tampil pada laga itu dan masih bertahan hingga Piala Dunia 2026.

Lopetegui diperkirakan kembali mengandalkan sebagian besar pemain tersebut. Afif menjadi salah satu tumpuan utama di lini depan.

Di kubu Swiss, tujuh pemain yang tampil pada laga 2018 juga masih masuk skuad. Dua di antaranya adalah Granit Xhaka dan Remo Freuler.

Keduanya kini menjadi pusat permainan Swiss. Mereka juga ingin membalas kekalahan yang dialami delapan tahun lalu.

Swiss memiliki catatan lain yang patut diperhatikan. Sejak kalah 0-5 dari Jerman pada Piala Dunia 1966, mereka tidak pernah kalah dalam pertandingan pertama pada putaran final Piala Dunia.

Di lini depan, Murat Yakin mengandalkan Breel Embolo. Striker Rennes itu menjadi salah satu pemain paling berbahaya dalam skuad Swiss.

Embolo merupakan pencetak gol terbanyak Grup B kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa. Ia telah mengoleksi 24 gol untuk tim nasional Swiss.

Produktivitasnya juga terjaga. Embolo selalu mencetak gol dalam tiga dari enam pertandingan terakhir Swiss.

Catatan lain membuat namanya menonjol. Embolo termasuk lima pemain Eropa yang mencetak lebih dari satu gol pada Piala Dunia 2022 dan Euro 2024. Empat pemain lainnya adalah Harry Kane, Kai Havertz, Niclas Füllkrug, dan Cody Gakpo.

Swiss diperkirakan tetap memakai formasi 4-2-3-1. Xhaka dan Freuler akan menjadi penghubung antarlini. Manuel Akanji memimpin pertahanan.

Di kubu Qatar, Lopetegui kemungkinan menurunkan formasi 4-3-3. Afif akan membentuk trisula bersama Edmilson Junior dan Almoez Ali.

Ali merupakan pencetak gol terbanyak kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Ia mengoleksi 12 gol sepanjang fase kualifikasi.

Afif juga menjadi sumber kreativitas utama Qatar. Ia mencatat 11 assist dalam 16 pertandingan terakhir tim nasionalnya.

Meski memiliki lini depan yang produktif, Qatar diperkirakan lebih sulit mengendalikan permainan. Swiss memiliki kualitas yang lebih merata di semua lini.

Pengalaman Swiss di panggung Piala Dunia juga lebih panjang. Faktor itu membuat mereka lebih difavoritkan untuk menguasai jalannya pertandingan.

Namun, bagi Qatar, makna laga ini melampaui hasil akhir. Mereka membutuhkan bukti bahwa kegagalan pada 2022 tidak lagi menjadi gambaran kemampuan mereka saat ini. Swiss menjadi lawan pertama untuk menguji klaim tersebut. ANTARA

Baca Juga: Meksiko 2-0 Afrika Selatan: Awal Meyakinkan Tuan Rumah Piala Dunia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait