Produksi Migas di Natuna Meroket, Medco Siapkan Belanja Modal Rp2,34 Triliun

Produksi migas di Natuna
Fasilitas produksi dan penyimpanan terapung (Floating Production Storage and Offloading/FPSO) Belanak di South Natuna Sea Block B yang dikelola Medco E&P Natuna (MEPN). Istimewa - SKK Migas

BATAM (gokepri.com) – PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) melaporkan produksi minyak dan gas (migas) mencapai di angka 161 mboepd pada kuartal ketiga 2022 atau naik 73 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Adapun MedcoEnergi turut meningkatkan panduan produksi Migas setahun penuh di posisi 160 mboepd. Biaya produksi dipatok di kisaran USD7,2 per boe “Kemajuan yang baik juga dicapai pada pengembangan di Natuna dan Corridor termasuk penandatanganan Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) yang baru dengan Gas Supply Pte Ltd. (GSPL),” kata CEO MedcoEnergi Roberto Lorato melalui siaran pers, Kamis 1 Desember 2022.

Sementara itu, perseroan menetapkan belanja modal migas USD150 juta atau setara dengan Rp2,34 triliun, asumsi kurs Rp15.628, untuk sejumlah proyek pengembangan di South Natuna Sea Block PSC. Adapun, Roberto mengatakan, Lapangan Hiu telah beroperasi sejak Juni. Sementara, proyek Belida Extension diharapkan mengalirkan gas pertama pada akhir tahun ini. “Lapangan Hiu telah mulai beroperasi pada bulan Juni dan Proyek Belida Extension diharapkan akan mengalirkan gas pertama pada akhir tahun ini,” kata dia.

HBRL

Baca Juga: Medco Foundation Tangani Trauma Anak Korban Gempa Cianjur

Seperti diketahui, emiten Migas milik konglomerat keluarga Panigoro itu mencetak peningkatan kinerja hingga September 2022 dengan kenaikan pendapatan hingga USD1,80 miliar atau setara dengan Rp27,53 triliun dan laba bersih melesat 614 persen.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan di Bursa Efek Indonesia, sampai dengan September 2022 MEDC mencetak pendapatan mencapai USD1,80 miliar naik 89,11 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya senilai USD955,92 juta.

Pendapatan penjualan terbesar diraih dari kontrak penjualan minyak dan gas bumi sebesar US$1,71 miliar. Selanjutnya, kontrak penjualan listrik senilai US$24,15 juta, kontrak operasi dan jasa pelayaran US$20,19 juta, kontrak konstruksi menyumbang pendapatan US$12,371 juta, dan kontrak penjualan jasa lainnya senilai US$7,39 juta.

Di sisi lain, peningkatan pendapatan juga meningkatkan beban pokok MEDC naik dari US$580,11 juta menjadi USD902,96 juta. Hal ini membuat laba kotor MEDC masih mencatat kenaikan dari USD375,80 juta sampai September 2021 menjadi USD904,81 pada September 2022.

Dari catatan tersebut MEDC juga mampu meraup laba bersih yang diatribusikan ke pemilik entitas induk melesat 614,39 persen dari sebesar USD56,12 juta pada sembilan bulan 2021, menjadi sebesar USD400,92 juta pada sembilan bulan 2022 atau setara dengan Rp6,10 triliun, (kurs BI September 2022 Rp15.232 per dolar AS).

Perseroan juga mencetak kenaikan pada laba per saham menjadi senilai USD0,016 sampai September 2022, dari tahun sebelumnya senilai USD0,002.

Selanjutnya, total aset MEDC juga meningkat menjadi USD6,87 miliar sampai September 2022 dari catatan hingga Desember 2021 sebesar USD5,68 miliar. Adapun, total liabilitas sebesar USD5,23 miliar dan ekuitas USD1,64 miliar.

Direktur Keuangan MEDC Anthony Mathias menjelaskan meningkatnya aset minyak dan gas bumi sebesar 59,4 persen sampai 30 September 2022 sebagian besar diakibatkan oleh efek dari akusisi atas ConocoPhillips Indonesia Holding Ltd. (CIHL) dan entitas anaknya pada awal Maret 2022;

Demikian pula dengan peningkatan di investasi jangka panjang sebesar 28,5 persen menjadi USD1,38 miliar pada 30 September 2022, sebagian besar diakibatkan oleh efek dari akusisi atas ConocoPhillips Indonesia Holding Ltd. (CIHL) dan entitas anaknya pada awal Maret 2022, serta kontribusi laba dari entitas asosiasi dan ventura bersama.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis: Candra Gunawan

Pos terkait