Peta Wisata Bergeser Tak Lagi Bertumpu di Bali, Daerah Baru Kian Diminati

Pulau penyengat
Upaya pengembangan pariwisata di Pulau Penyengat telah menunjukkan hasil positif dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan baik mancanegara maupun domestik. (DOKUMEN DISKOMINFO KEPRI)

Destinasi tak lagi terpusat di Bali. Batam, Bintan, Manado hingga Labuan Bajo diminati.

BATAM (gokepri) – Wisatawan mancanegara dari Asia tidak lagi terkonsentrasi di Bali dan Jakarta. Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, pilihan destinasi mereka semakin beragam, mulai dari Batam dan Bintan di Kepulauan Riau hingga Manado, Lombok, dan Labuan Bajo.

Perubahan pola kunjungan itu menjadi sinyal bahwa daya tarik pariwisata Indonesia mulai menjangkau lebih banyak daerah. Di saat kunjungan wisatawan dari sejumlah kawasan dunia melambat, pasar Asia justru menunjukkan pertumbuhan yang konsisten.

Baca Juga: Pariwisata Bali setelah Tertatih-Tatih

Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini mengatakan, tren tersebut terlihat dari peningkatan kunjungan wisatawan asal Korea Selatan, Tiongkok, Singapura, dan Malaysia dalam beberapa waktu terakhir.

“Mereka tidak datang ke negara lain, tapi ke Indonesia karena nyaman. Sudah bisa banyak belanja oleh-oleh untuk keluarga dan lain sebagainya,” ujar Made saat ditemui ANTARA di Jakarta, Jumat 5 Juni 2026.

Menurut Made, wisatawan Malaysia banyak menghabiskan waktu di Jakarta, Bandung, Bali, Bintan, dan Batam. Selain berwisata, mereka juga gemar berbelanja cendera mata untuk dibawa pulang.

Sementara itu, wisatawan Singapura cenderung mencari destinasi yang menawarkan pengalaman berbeda, terutama lokasi yang menarik untuk fotografi dan wisata alam. Kawasan pegunungan di Jawa Timur menjadi salah satu tujuan yang banyak diminati.

Karakter serupa juga terlihat pada wisatawan asal Tiongkok. Mereka tertarik pada lanskap pegunungan tropis yang tidak banyak ditemukan di negara asalnya.

“Karena mereka tidak punya gunung yang seperti kita yang tropik. Jadi itu juga menambah nilai pariwisata kita. Makanya Bromo dan Ijen jadi terkenal untuk segmen di Tiongkok,” kata Made.

Selain Jawa Timur, Manado di Sulawesi Utara mulai menarik lebih banyak wisatawan Tiongkok setelah dibukanya penerbangan langsung Guangzhou-Manado. Kementerian Pariwisata memperkirakan jumlah kunjungan masih berpotensi meningkat karena wisatawan Tiongkok juga menyukai wisata bahari dan pemandangan laut.

Made menambahkan, Labuan Bajo, Lombok, dan kawasan Gili juga semakin sering masuk dalam daftar tujuan wisatawan asing. Kondisi ini menunjukkan diversifikasi destinasi yang semakin kuat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Menurut dia, perluasan destinasi tersebut tidak terlepas dari peran media sosial dan promosi pariwisata Indonesia melalui berbagai pameran internasional. Informasi mengenai destinasi baru kini lebih mudah diakses wisatawan sebelum mereka memutuskan perjalanan.

Kementerian Pariwisata juga melihat peluang lain dari pergerakan nilai tukar rupiah. Made menilai kondisi itu dapat mendorong wisatawan meningkatkan pengeluaran selama berlibur di Indonesia, terutama untuk berbelanja produk lokal dan cendera mata.

“Dan yang terpenting lagi kalau bisa tinggalnya lebih lama. Untuk wisatawan yang dekat-dekat ini, kami inginnya mereka lebih banyak lagi menginap,” ujarnya.

Selain meningkatkan lama tinggal wisatawan, pemerintah juga mendorong agen perjalanan dan operator tur menyusun paket wisata yang lebih beragam. Paket tersebut diharapkan mampu memperkenalkan destinasi baru sekaligus mendorong wisatawan menjelajahi lebih banyak daerah.

Di tengah pertumbuhan pasar Asia, Kementerian Pariwisata mencatat kunjungan wisatawan dari sejumlah kawasan lain masih menghadapi tekanan.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan, kunjungan wisatawan Timur Tengah selama Januari-April 2026 turun 1,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Maret-April 2026, penurunannya mencapai 20,65 persen.

Kunjungan wisatawan asal Eropa juga menurun 6,5 persen pada periode Januari-April 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sebaliknya, kunjungan wisatawan dari Asia Tenggara meningkat 11,38 persen. Kunjungan dari kawasan Asia lainnya naik 15,27 persen, sedangkan Oseania dan Afrika masing-masing tumbuh 6,84 persen dan 5,59 persen.

Data tersebut menunjukkan pasar Asia masih menjadi penopang utama pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Tantangan berikutnya adalah memastikan wisatawan tidak hanya datang, tetapi juga tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak uang di berbagai destinasi di dalam negeri. ANTARA

Baca Juga: Rute Baru, Harapan Baru Pariwisata Batam

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait