Pelabuhan Batam Kian Efisien, Industri Diuntungkan

Biaya logistik pelabuhan batam
Terminal Peti Kemas Batu Ampar. Foto: BP Batam

Modernisasi terminal Batu Ampar mengubah efisiensi pelabuhan. Pelayaran langsung memangkas biaya dan waktu pengiriman.

BATAM (gokepri) — Biaya logistik yang selama ini menjadi salah satu hambatan daya saing industri di Batam mulai menurun seiring meningkatnya efisiensi Terminal Peti Kemas (TPK) Batu Ampar. Modernisasi peralatan, perbaikan sistem operasional, dan bertambahnya layanan pelayaran langsung atau direct call membuat kapal lebih singkat berada di pelabuhan, ongkos angkut turun, serta arus ekspor bergerak lebih cepat.

Perubahan itu menunjukkan bahwa daya saing pelabuhan tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi, melainkan oleh kemampuan memangkas waktu dan biaya distribusi. Bagi kawasan industri seperti Batam, efisiensi logistik menjadi faktor penting untuk menarik investasi sekaligus menjaga daya saing produk ekspor.

Baca Juga: Dampak Positif Direct Call bagi Ekspor Batam

Transformasi TPK Batu Ampar dikelola PT Batam Terminal Petikemas (BTP) sebagai mitra BP Batam bersama PT Batu Ampar Container Terminal (BACT). Pengembangannya didukung investasi sekitar USD 85 juta yang dipakai untuk memperbarui alat bongkar muat, memperluas lapangan penumpukan peti kemas, meningkatkan kapasitas terminal, serta mempercepat digitalisasi layanan.

Dampak modernisasi tersebut mulai terlihat pada kinerja operasional pelabuhan. Produktivitas bongkar muat peti kemas (Container Handling Productivity) meningkat dari 18 box crane per hour (BCH) menjadi 24 BCH, atau naik sekitar 33 persen.

Perbaikan yang lebih besar terjadi pada produktivitas penanganan kapal (Ship Handling Productivity). Angkanya melonjak dari 12 box ship per hour (BSH) menjadi 40 BSH, sehingga proses bongkar muat kapal berlangsung lebih cepat.

Kenaikan produktivitas itu berpengaruh langsung terhadap waktu pelayanan kapal. Vessel Turnaround Time, yakni waktu sejak kapal sandar hingga meninggalkan pelabuhan, turun dari rata-rata 20 jam menjadi tujuh jam.

Waktu tunggu kapal sebelum memperoleh pelayanan juga menyusut. Waiting Time berkurang dari 1,4 jam menjadi 0,6 jam, atau turun sekitar 57 persen.

Efisiensi tersebut menjadi fondasi bertambahnya layanan pelayaran langsung atau direct call. Semakin singkat waktu sandar, semakin menarik pula Batu Ampar bagi perusahaan pelayaran karena biaya operasional kapal ikut menurun.

Kini frekuensi kapal berkapasitas 1.200-2.000 TEUs meningkat dari enam hingga tujuh kali menjadi 10-13 kali setiap bulan. Terminal juga melayani kapal berkapasitas 1.000-1.900 TEUs sebanyak dua kali setiap bulan serta kapal 1.000 TEUs satu hingga dua kali setiap bulan.

Bertambahnya pelayaran langsung mengurangi ketergantungan Batam pada pelabuhan transit di Singapura. Barang ekspor kini dapat dikirim langsung ke sejumlah tujuan internasional tanpa harus melalui proses pemindahan muatan yang memerlukan waktu dan biaya tambahan.

Dampaknya mulai dirasakan pelaku usaha. Ongkos pengiriman kontainer rute Batam-Shanghai turun menjadi sekitar USD 650-800 untuk kontainer 20 kaki.

Sebelumnya, biaya pengiriman melalui kapal pengumpan dan transshipment di Singapura mencapai USD 950-1.100 per kontainer. Dengan layanan langsung, biaya logistik dapat dihemat hingga USD 300 per kontainer atau sekitar 30-50 persen.

Selain biaya, waktu pengiriman juga menjadi lebih singkat. Perjalanan menuju Shanghai kini sekitar delapan hari, sementara perusahaan pelayaran dapat menghemat biaya operasional hingga USD 3.800 setiap kunjungan karena waktu sandar berkurang sekitar 17 jam.

Perbaikan layanan itu ikut mendorong aktivitas bongkar muat di Batu Ampar. Selama Januari hingga Mei 2026, terminal menangani 221.183 TEUs peti kemas.

Dari jumlah tersebut, arus ekspor mencapai 71.930 TEUs atau sekitar 32,5 persen. Data ini menunjukkan aktivitas manufaktur dan perdagangan di Batam terus bertumbuh seiring meningkatnya efisiensi logistik.

BP Batam menilai transformasi TPK Batu Ampar merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun ekosistem logistik yang mampu bersaing di Asia Tenggara.

“Sejalan dengan arahan Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, pengembangan TPK Batu Ampar akan terus dipercepat untuk mewujudkan sistem logistik yang modern dan efisien sekaligus meningkatkan daya saing Batam,” ujar Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam Denny Tondano, Jumat (10/7/2026).

Transformasi belum berhenti pada pembaruan infrastruktur. Pengelola terminal juga menyiapkan sistem Direct Billing, yang memungkinkan pengguna jasa membayar layanan terminal langsung kepada operator secara waktu nyata tanpa perantara.

Sistem tersebut diharapkan memangkas tahapan administrasi, meningkatkan transparansi, dan mempercepat arus dokumen sehingga waktu inap barang (dwelling time) dapat ditekan.

Direktur Badan Pengelolaan dan Pengusahaan Kepelabuhanan BP Batam Benny Syahroni mengatakan capaian itu menjadi dasar untuk memperbesar kapasitas terminal pada tahap berikutnya.

“Ke depan kami akan memperbesar kapasitas terminal agar mampu merespons pertumbuhan arus barang global dan memperkuat posisi Batam sebagai hub logistik regional,” ujarnya.

Direktur PT Batam Terminal Petikemas Capt. Basori Alwi mengatakan pengembangan berikutnya meliputi perluasan terminal, pengerukan kolam pelabuhan agar dapat melayani kapal yang lebih besar, serta penguatan integrasi sistem digital kepelabuhanan.

“BP Batam bersama BTP dan BACT akan melanjutkan berbagai program strategis untuk mendukung pertumbuhan investasi dan perekonomian nasional,” kata Basori.

Baca Juga: Singapura Dorong Ekosistem Logistik Johor-Batam-Bintan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait