Parlemen Singapura bahas strategi transportasi jangka panjang. Batam-Bintan dinilai mitra penting kawasan.
SINGAPURA (gokepri) — Konektivitas Singapura dengan Batam dan Bintan kembali masuk agenda strategis. Komite Pemerintah Parlemen (Government Parliamentary Committee/GPC) Bidang Transportasi Singapura mengusulkan perluasan kerja sama ekonomi dan transportasi dari kawasan Johor-Singapura hingga mencakup Batam dan Bintan sebagai bagian dari penguatan daya saing regional.
Usulan itu akan dibahas melalui mosi anggota parlemen pada sidang Selasa (7/7). Mosi tersebut mendorong strategi transportasi jangka panjang agar Singapura tetap kompetitif di tengah persaingan global dan ketidakpastian geopolitik.
Baca Juga: Apa Kabar Kawasan Ekonomi Khusus Johor-Singapura?
Ketua GPC Transportasi Tin Pei Ling mengatakan konektivitas tidak lagi sekadar mendukung mobilitas, tetapi menjadi faktor penting yang menentukan daya saing ekonomi Singapura dalam jangka panjang.
Menurut dia, pembahasan akan berfokus pada konektivitas global, bukan persoalan transportasi publik sehari-hari. Isu itu dinilai penting karena menyangkut strategi nasional.
“Kami adalah negara kecil dengan ekonomi terbuka. Karena itu, kami harus memastikan memiliki konektivitas yang kuat dengan kawasan dan dunia,” ujar Tin kepada wartawan menjelang sidang parlemen, 3 Juli 2026.
Tin menjelaskan, penyusunan mosi telah berlangsung selama beberapa bulan, bahkan sebelum konflik terbaru di Timur Tengah. Namun, perkembangan geopolitik tersebut memperkuat urgensi perlunya sistem transportasi yang lebih tangguh.
AI dan infrastruktur transportasi
Tin bersama Wakil Ketua GPC Edward Chia mengusulkan empat fokus utama, yakni penguatan kerja sama internasional, pemanfaatan teknologi mutakhir, integrasi infrastruktur fisik dan digital, serta penciptaan lapangan kerja bernilai tambah bagi warga Singapura.
Dalam bidang teknologi, Singapura dinilai lebih tepat memusatkan perhatian pada penerapan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di sektor transportasi daripada bersaing mengembangkan model AI dasar.
Menurut mereka, AI berpotensi menghubungkan sistem transportasi darat, laut, dan udara sehingga arus logistik menjadi lebih efisien. GPC juga mengusulkan peningkatan investasi riset AI dan pembangunan infrastruktur digital yang terintegrasi.
Selain teknologi, mosi tersebut menekankan pentingnya peningkatan keterampilan tenaga kerja agar siap menghadapi perubahan akibat AI dan teknologi baru.
Edward Chia mengatakan hasil diskusi dengan panel sumber daya GPC menunjukkan dunia usaha justru lebih kesulitan mencari tenaga kerja dibanding menghadapi ancaman hilangnya pekerjaan akibat otomatisasi.
Kekurangan tenaga kerja terutama terjadi pada sektor perawatan, perbaikan, dan overhaul pesawat (maintenance, repair and overhaul/MRO) serta industri maritim. Kondisi itu diduga berkaitan dengan karakter pekerjaan maupun masih rendahnya minat masyarakat terhadap sektor tersebut.
“Ini bukan soal hilangnya pekerjaan, tetapi bagaimana meningkatkan keterampilan warga Singapura dan memperkenalkan lebih banyak peluang karier di sektor transportasi,” ujar Chia.
Ia juga mengusulkan kolaborasi yang lebih erat antara perusahaan besar, usaha kecil dan menengah, serta perusahaan rintisan untuk mempercepat transformasi sektor transportasi.
Batam masuk strategi regional
Penguatan konektivitas kawasan ASEAN menjadi salah satu pilar utama mosi tersebut. Chia menilai kerja sama ekonomi lintas negara perlu diperluas agar produktivitas kawasan meningkat.
Menurut dia, kemajuan yang telah dicapai melalui Kawasan Ekonomi Khusus Johor-Singapura (Johor-Singapore Special Economic Zone/JS-SEZ) dapat diperluas menjadi koridor ekonomi Singapura-Johor-Batam-Bintan.
“Kami sudah mencatat kemajuan dalam Kawasan Ekonomi Khusus Johor-Singapura. Pertanyaannya, apakah kerja sama itu bisa diperluas menjadi Singapura-Johor-Batam-Bintan?” ujar Chia.
Perjanjian JS-SEZ ditandatangani pada Januari tahun lalu. Setelah itu, pembahasan berkembang untuk menjajaki keterlibatan Indonesia sebagai bagian dari integrasi ekonomi kawasan.
Chia menilai Batam telah berkembang sebagai pusat galangan kapal, perawatan kapal, dan industri perkapalan. Keunggulan ruang yang dimiliki Batam dapat melengkapi keterbatasan lahan di Singapura.
“Batam sudah berkembang dalam industri galangan kapal, perawatan kapal, dan pembangunan kapal. Mereka memiliki ruang yang lebih luas. Tantangannya adalah bagaimana membangun ekosistem regional yang saling melengkapi sehingga menghasilkan manfaat bersama dan memperkuat ketahanan kawasan,” katanya.
Tin juga menyinggung proyek ASEAN Power Grid sebagai contoh pentingnya konektivitas lintas negara. Meski demikian, menurut dia, proyek tersebut tetap menghadapi tantangan geopolitik karena melintasi banyak yurisdiksi.
Apabila jalur darat terganggu, Singapura perlu menyiapkan alternatif distribusi energi hijau, misalnya mengubah energi menjadi bentuk yang dapat diangkut melalui jalur laut atau udara. Karena itu, ketahanan konektivitas di semua moda transportasi menjadi semakin penting.
Selain Tin dan Chia, enam anggota GPC lainnya dijadwalkan menyampaikan pandangan mengenai inovasi, logistik, keberlanjutan, dan pengembangan sumber daya manusia di sektor transportasi. CHANNEL NEWS ASIA
Baca Juga: Pelajaran dari Pusat Data Johor
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









