PT Batam Terminal Petikemas memperluas pelayaran langsung. Waktu kirim dan biaya logistik turun.
BATAM (gokepri) — Efisiensi logistik mulai menjadi daya saing baru industri Batam. Melalui layanan direct call atau pelayaran langsung ke berbagai pelabuhan di Asia, waktu pengiriman barang kini lebih singkat dan biaya angkut menurun. Perubahan ini memberi ruang bagi industri untuk mempercepat arus bahan baku sekaligus distribusi produk ekspor.
Perbaikan konektivitas itu menjadi bagian dari pengembangan Terminal Peti Kemas Batu Ampar yang dikelola PT Batam Terminal Petikemas (BTP) melalui konsesi dari Badan Pengusahaan Batam. Pengembangan tidak hanya menambah rute pelayaran internasional, tetapi juga memperbesar kapasitas terminal agar mampu mengimbangi pertumbuhan perdagangan.
Baca Juga: Direct Call Batu Ampar Melonjak, Batam Kian Terhubung dengan Rute Dagang Asia
Direktur PT Batam Terminal Petikemas Basori Alwi mengatakan, manfaat paling nyata layanan direct call ialah memangkas waktu pengiriman karena kapal tidak lagi singgah di Singapura sebelum menuju pelabuhan tujuan.
“Dulu pengiriman ke Shanghai membutuhkan sekitar 10 hari karena harus transit di Singapura. Kini pengiriman langsung dari Batam ke Shanghai hanya sekitar tujuh hari,” ujar Basori di Batam, Jumat (10/7).
Menurut Basori, percepatan sekitar tiga hari tersebut berdampak pada kelancaran rantai pasok. Bahan baku lebih cepat tiba di kawasan industri, sedangkan hasil produksi dapat segera dikirim ke pasar tujuan sehingga perputaran produksi menjadi lebih efisien.
Efisiensi juga terlihat dari biaya pengiriman. Sebelumnya tarif pengiriman satu peti kemas menuju Shanghai berkisar 800 dolar Amerika Serikat hingga 1.000 dolar Amerika Serikat karena harus melalui pelabuhan transit di Singapura.
Dengan layanan pelayaran langsung, biaya tersebut turun menjadi sekitar 650 dolar Amerika Serikat per peti kemas. Penurunan ongkos logistik ini dinilai dapat meningkatkan daya saing produk industri Batam di pasar internasional.
Pertumbuhan layanan direct call juga tercermin dari frekuensi kunjungan kapal. Selama Januari hingga Mei 2026, BTP mencatat 106 kunjungan kapal internasional atau meningkat 212 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 34 kunjungan.
Rata-rata kunjungan kapal kini mencapai 18 hingga 20 kali setiap bulan. Sebelumnya, frekuensi pelayaran langsung hanya sekitar 10 kali per bulan.
Peningkatan konektivitas diikuti kenaikan arus peti kemas. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, Terminal Peti Kemas Batam menangani 221.183,75 twenty-foot equivalent units (TEUs), satuan yang digunakan untuk mengukur kapasitas peti kemas berukuran 20 kaki.
Menurut Basori, pertumbuhan tersebut dipengaruhi meningkatnya aktivitas perdagangan dan perluasan kapasitas terminal. Kapasitas layanan yang sebelumnya sekitar 350.000 TEUs per tahun kini meningkat menjadi sekitar 900.000 TEUs per tahun.
Jaringan direct call dari Batam kini telah terhubung dengan 32 pelabuhan internasional di kawasan Asia. Rute tersebut mencakup pelabuhan di Thailand, Myanmar, Kamboja, India, serta berbagai pelabuhan utama di China, termasuk Shanghai.

Basori menilai jaringan tersebut mengurangi ketergantungan pelaku usaha terhadap pelabuhan transit di Singapura. Pengiriman dapat berlangsung lebih cepat sekaligus lebih efisien dari sisi biaya.
Pengembangan infrastruktur juga terus berlanjut. Luas container yard bertambah dari sekitar 3,8 hektare menjadi 12,5 hektare sehingga daya tampung peti kemas meningkat.
Perusahaan juga menambah empat unit quay crane dan 10 unit rubber tyred gantry (RTG) pada 2025 untuk memperkuat kapasitas bongkar muat. Penambahan peralatan itu ditujukan agar terminal mampu melayani pertumbuhan arus barang dan frekuensi kapal pada tahun-tahun mendatang. ANTARA
Baca Juga: Direct Call Batam-Myanmar Dimulai, Dorong Ekspor Asia Tenggara
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









