Masker Langka di Eceran, Stok Produsen Aman

Kualitas udara Batam
Warga Batam mengenakan masker beberapa waktu lalu. Foto: istimewa

Kelangkaan masker terjadi di sejumlah pengecer setelah erupsi. Stok produsen dan distributor masih mencukupi.

JAKARTA (gokepri) – Imbauan memakai masker untuk menghadapi paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau memicu lonjakan permintaan di sejumlah daerah. Kondisi itu membuat masker lebih sulit ditemukan dan harganya naik di beberapa toko, meski stok di tingkat produsen dan distributor masih mencukupi.

Kementerian Kesehatan kini memantau rantai pasok masker dari produsen hingga pengecer untuk mencegah kekurangan meluas. Pengawasan juga diarahkan pada harga karena lonjakan permintaan dapat membuka ruang bagi penimbunan dan kenaikan harga yang tidak wajar.

Baca Juga: Erupsi Anak Krakatau, Harga Masker Mendadak Mahal

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman mengatakan kementeriannya telah berkoordinasi dengan produsen dan distributor. “Kemenkes sudah berkoordinasi dengan produsen dan distributor untuk menjaga kelancaran pasokan dan distribusi masker,” kata Aji dalam keterangan tertulis, Selasa, 8 September 2026.

Menurut Aji, persoalan pasokan saat ini lebih terlihat di tingkat penjual eceran, baik toko fisik maupun toko daring. Kenaikan harga juga ditemukan di sejumlah tempat setelah erupsi Gunung Anak Krakatau.

“Kelangkaan stok masker hanya terjadi di sejumlah tempat di tingkat penjual eceran, sementara stok di tingkat produsen dan distributor masih mencukupi,” ujar Aji.

Perbedaan kondisi antara hulu dan hilir ini membuat ketersediaan masker tidak sepenuhnya seragam di setiap tempat. Masker yang masih tersedia di gudang produsen dan distributor belum tentu langsung terlihat di rak pengecer yang menghadapi lonjakan permintaan.

Kemenkes bersama pemerintah daerah dan instansi terkait terus memantau ketersediaan, distribusi, dan harga masker. Pengawasan itu ditujukan untuk memastikan pasokan tetap tersedia bagi masyarakat di wilayah yang terdampak abu vulkanik, terutama dari Gunung Anak Krakatau.

Pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar membeli masker sesuai kebutuhan dan tidak panik memborong persediaan. Pembelian berlebihan dapat membuat stok di tingkat pengecer cepat habis ketika pasokan di tingkat produsen sebenarnya masih tersedia.

Untuk perlindungan pernapasan yang lebih tinggi, masyarakat dapat menggunakan masker N95, KN95, KF94, atau jenis yang setara. Namun, ketika masker tersebut belum tersedia, masker medis tetap dapat menjadi pilihan dengan catatan digunakan secara benar.

“Kemudian, apabila masker jenis N95, KN95, KF94 atau yang setara belum tersedia, dapat menggunakan masker medis yang ada dengan cara yang benar,” kata Aji.

Kemenkes juga meminta masyarakat melaporkan dugaan penimbunan atau kenaikan harga masker yang dianggap tidak wajar. Laporan dapat disampaikan melalui kanal pengaduan WhatsApp di nomor 0821-14870070 atau 0838-30032003 serta aplikasi Mobile Alkes.

Terhadap pelanggaran, Kemenkes menyatakan pembinaan dan pengawasan dapat berlanjut pada pemberian sanksi administratif atau pidana sesuai ketentuan. Sanksi administratif dapat berupa peringatan hingga pencabutan perizinan berusaha, bergantung pada tingkat pelanggarannya.

Di sisi lain, pemerintah mulai menyalurkan perlengkapan kesehatan langsung ke daerah yang paling terdampak. Lebih dari 100.000 masker N95 dan masker medis telah didistribusikan bersama ribuan kacamata goggle, obat-obatan, dan alat kesehatan.

Bantuan tersebut disalurkan ke wilayah terdampak paling parah di Lampung, Banten, Jawa Barat, dan Jakarta. Sementara itu, pengawasan pasokan terus berjalan di tengah meningkatnya kebutuhan masker setelah abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menjangkau wilayah yang lebih luas.

Baca Juga: Wabah TB Malaysia: Warga Diimbau Pakai Masker di Tempat Ramai, Kasus Tembus 3.100

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait