Laba Bersih Medco Turun 72 Persen pada 2025, EBITDA Tetap Stabil

Produksi medcoenergi 2026
FPSO Marlin Natuna di Lapangan Forel, Blok B Natuna. Dok. MedcoEnergi

JAKARTA (gokepri) — PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) mencatatkan laba bersih 101 juta dolar AS pada 2025, turun 72,4 persen dibandingkan 367 juta dolar AS pada 2024. Penurunan itu dipicu melemahnya kontribusi Amman Mineral Internasional, penyusutan nilai aset non-kas, biaya pengeboran sumur kering di PSC Beluga, serta harga komoditas yang melemah.

Meski laba tergerus, kinerja operasional perseroan relatif terjaga. EBITDA — ukuran profitabilitas sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi — tercatat 1,264 miliar dolar AS, relatif stabil dibandingkan 2024, meski rata-rata harga minyak turun 15 persen dari 78 dolar AS per barel menjadi 67 dolar AS per barel.

CEO MedcoEnergi Roberto Lato menyebut 2025 sebagai tahun dengan kinerja kuat bagi perusahaan dan pemegang saham. “Total imbal hasil pemegang saham tahunan mencapai rekor 27 persen, dengan pengembalian sebesar 110 juta dolar AS kepada pemegang saham seiring tercapainya target produksi minyak dan gas sebesar 156 mboepd dan target penjualan listrik sebesar 4.371 GWh,” ujar Roberto dalam keterangan di Jakarta, Kamis (3/4/2026).

HBRL

Baca Juga: MedcoEnergi Tambah Kapasitas 39 MW untuk Perkuat Kelistrikan Batam–Bintan

Dari sisi produksi, Medco mencatatkan 156 ribu barel setara minyak per hari (mboepd), didorong produksi perdana dari Lapangan Terubuk dan Forel di South Natuna Sea Block B, kinerja di Oman Block 60, serta peningkatan hak partisipasi di PSC — kontrak bagi hasil — Corridor. Pada akhir 2025, tingkat produksi bahkan melampaui 170 mboepd.

Total belanja modal perseroan tercatat 437 juta dolar AS, terdiri atas 402 juta dolar AS untuk segmen minyak dan gas serta 35 juta dolar AS untuk ketenagalistrikan. Biaya produksi minyak dan gas berada di level 8,6 dolar AS per barel setara minyak (boe). Belanja modal segmen minyak dan gas digunakan antara lain untuk mencetak rekor produksi di Oman Block 60, memulai produksi di Lapangan Terubuk dan Forel, serta pengembangan sumur Corridor Suban-28 dan proyek peningkatan kapasitas kompresor Suban.

Utang konsolidasi naik menjadi 3,646 miliar dolar AS, terutama untuk pembelian FPSO Marlin Natuna — kapal pengolah dan penyimpan minyak terapung — guna mendukung keberlanjutan produksi di Lapangan Forel, serta pembiayaan proyek energi terbarukan dan pembangkit listrik berbasis gas. Rasio utang bersih terhadap EBITDA untuk segmen minyak dan gas tercatat 2,0 kali, naik dari 1,8 kali pada 2024, namun masih dalam kisaran target perusahaan.

Posisi kas perseroan pada akhir 2025 tercatat 633 juta dolar AS, turun dari 697 juta dolar AS pada tahun sebelumnya. Perseroan membagikan dividen 80 juta dolar AS atau sekitar Rp 53,4 per saham, naik 19 persen dibandingkan 2024.

Medco turut memperluas portofolio di Sumatra dengan menaikkan hak partisipasi di Corridor menjadi 70 persen dan hak partisipasi efektif di PT Transportasi Gas Indonesia menjadi 40 persen, serta mengakuisisi 45 persen hak partisipasi operasi di PSC Sakakemang. Pada 31 Maret 2026, perseroan menandatangani PSC Cendramas yang menandai kembalinya Medco ke Malaysia sebagai operator blok minyak lepas pantai.

Di segmen ketenagalistrikan, penjualan listrik mencapai 4.371 GWh, dengan sekitar 25 persen berasal dari energi terbarukan. Belanja modal segmen ini digunakan antara lain untuk pengoperasian Pembangkit Panas Bumi Ijen, PLTS Bali Timur, serta ekspansi Batam ELB (PT Energi Listrik Batam)

Direktur Utama Medco Energi Hilmi Panigoro menyatakan optimisme terhadap prospek perseroan. “Memasuki 2026, Medco tetap berkomitmen memberikan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan, dengan target produksi minyak dan gas serta penjualan listrik yang kembali mencatatkan rekor baru,” kata Hilmi.

Baca Juga: Bagaimana Industri Hulu Migas Menggerakkan Ekonomi Kepri

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait