Kopi dan Kemiri dari Desa Tembus Australia, Mendes Dorong Hilirisasi

Menteri desa
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto di Batam, 20 Januari 2026. GOKEPRI/ENGESTI FEDRO

BATAM (gokepri) — Pemerintah mulai mengubah cara desa menghasilkan uang. Bukan lagi sekadar menjual hasil panen mentah, melainkan mengolah, mengemas, dan memasarkannya hingga ke luar negeri. Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto menyebut langkah ini sebagai percepatan hilirisasi ekonomi desa.

“Desa sekarang kami dorong bukan hanya menghasilkan, tetapi juga mengelola dan memasarkan. Dari situ nilai tambah ekonomi desa bisa tumbuh,” kata Yandri, saat kunjungan kerja di Batam, Selasa 20 Januari 2026.

Baca Juga: Natuna Ekspor Ribuan Kerapu Hidup ke Hong Kong

HBRL

Menurut Yandri, hilirisasi menjadi kunci agar desa tidak terus berada di posisi paling bawah dalam rantai ekonomi. Selama ini, banyak desa memiliki komoditas unggulan, tetapi keuntungan besarnya justru dinikmati pihak lain setelah produk itu keluar dari kampung.

Salah satu strategi yang ditempuh Kementerian Desa adalah pengembangan desa tematik, yang disesuaikan dengan potensi lokal. Ada desa nila, desa lele, desa ayam petelur, desa jagung, hingga desa hortikultura. Pola ini dinilai lebih fokus dan memudahkan desa mengembangkan usaha berbasis komoditas unggulan.

Penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga menjadi penopang utama. Melalui BUMDes, desa didorong mengelola usaha produktif, mengembangkan desa wisata, hingga masuk ke pasar ekspor.

Hasilnya mulai terlihat. Yandri menyebut sebuah desa di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, berhasil mengekspor kopi dan kemiri ke Australia pada Desember lalu. Ekspor perdana itu menjadi contoh bagaimana produk desa bisa menembus pasar internasional jika dikelola secara serius.

Upaya tersebut diperkuat lewat program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD). Program ini telah menjangkau sekitar 1.110 desa. Setiap desa mendapat dukungan anggaran ratusan juta rupiah untuk pengembangan usaha dan peningkatan kapasitas warganya.

Meski demikian, Yandri mengakui percepatan hilirisasi desa tidak bisa dikerjakan sendiri oleh kementerian. Dibutuhkan kolaborasi pemerintah pusat dan daerah, serta data potensi desa yang akurat agar program tepat sasaran.

“Kami siap menjembatani dari permodalan, pemasaran, pendampingan, sampai pemberdayaan. Yang penting, potensi desa itu betul-betul dimaksimalkan,” ujarnya.

Pendekatan ini, kata Yandri, diterapkan pada seluruh kategori desa—dari desa sangat tertinggal hingga desa mandiri—sebagai bagian dari strategi membangun ekonomi nasional dari pinggiran.

Baca Juga: Batam Dorong UMKM Lokal Tembus Pasar Ekspor

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait