Kisruh Harga Pangan, Habis Minyak Goreng Kini Harga Kedelai Mahal

Harga Kedelai mahal
Perajin tahu dan tempe di kawasan Sagulung, Kota Batam, 21 Februari 2022. Perajin tahu di Batam mengeluhkan kenaikan harga kedelai impor.

Batam (gokepri.com) – Persoalan harga kebutuhan pangan membuat resah. Baru bisa bernapas dari persolan minyak goreng kini masyarakat harus menghadapi kenaikan harga tahu dan tempe.

Kelangkaan tahu dan tempe ini sudah mulai dirasakan oleh masyarakat. Di Batam, sudah beberapa hari tahu tempe hilang timbul di tingkat pasar. Hal ini dipicu lantaran tingginya harga bahan baku kedelai.

Perajin tahu dan tempe yang ada di kawasan Sagulung Baru, Batam, Kepulauan Riau, Muhawi, 50 tahun, mengatakan pasokan kedelai tidak langka namun harganya melambung tinggi. Akibatnya perajin tahu dan tempe membatasi produksi.

HBRL

“Jauh sekali Rp585 ribu per 50 kilogram, dari harga sebelumnya Rp540 ribu per 50 kilogram. Harga jual tahunya mau berapa,” kata dia saat ditemui di lokasi, Selasa 22 Februari 2022.

Muhawi yang sudah 22 tahun bergelut sebagai perajin tahu menilai kenaikan harga kedelai tidak wajar. Ia curiga ada permainan antara distributor. Kenaikan harga ini berdampak langsung terhadap produsen tahu yang ada di Kota Batam. Ia sebagai produsen pun kebingungan menentukan harga jual di pasaran.

Yang ia sesalkan adalah tidak adanya respons dari pemerintah daerah terkait kenaikan harga kedelai tersebut.

“Pemerintah seakan cuek. Kami di sini sudah menjerit ikat pinggang agar bisa bertahan,” ujar dia.

Untuk setiap harinya, ia mengaku menggunakan 10 karung kedelai yang mayoritas berasal dari Malaysia dan juga kedelai lokal. Namun, sekarang harus dikurangi setengahnya karena mahalnya harga bahan baku.

Selain kebijakan menaikkan harga, solusi jangka pendek yang dimiliki adalah mengubah jumlah tahu yang diproduksi setiap harinya.

“Ukuran memang saat ini kami perkecil mas. Tapi kualitas tetap kami pertahankan,” lanjut dia.

Hal senada juga dilontarkan oleh Rosmanto, produsen Tempe, yang kini terpaksa mengurangi produksi setiap harinya.

Demi mengakali harga jual, kini Rosmanto hanya memproduksi tempe sesuai dengan permintaan dari pasar langganannya.

“Saat ini hanya produksi tempe sesuai dengan permintaan saja. Enggak berani lebih karena bahan bakunya mahal,” paparnya.

Kenaikan harga bahan baku kedelai ini, diakuinya baru diketahui beberapa waktu belakangan, dari pemberitaan media massa dan harga kuitansi pembelian kedelai.

“Kalau ditanya asal kedelai saya juga enggak tahu mas. Saya saja kaget waktu bayar kuitansi dari langganan saya,” ujarnya.

Saat ini, pihak produsen tahu dan tempe di Batam berharap agar pemerintah dapat mengambil kebijakan mengenai harga kenaikan kedelai.

Hal ini menyusul persiapan kenaikan harga jual, yang akan diambil sebagai langkah terakhir dari pihak produsen.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Batam, Gustian Riau mengatakan tidak dapat berbuat banyak terkait kenaikan harga kedelai. Sebab, kenaikan kedelai terjadi secara internasional.

“Kedelai itukan dari luar negeri kita tidak bisa buat banyak. Tapi kita akan tetap kontrol harganya agar stabil,” kata dia.

Ia menyebut keluhan terkait tahu dan tempe ini sudah diterimanya dan dalam waktu dekat akan melakukan rapat koordinasi dengan distributor, produsen tahu dan tempe untuk mencari solusi terbaik.

“Nanti ada pertemuan kami undang semua. Jadi disepakati mau naikkan harga atau bagaimana gitu,” kata dia.

Penulis: Engesti

Pos terkait