Jalan Amsakar Menuju Batam Satu, Seberapa Besar Kansnya Terpilih?

PAN usung amsakar li claudia
Wakil Walikota Batam Amsakar Achmad. Foto: Tangkapan layar cuplikan podcast gokepri.

BATAM (gokepri) – Peta koalisi di pilkada Batam hampir bisa dipastikan hanya satu poros tanpa menghitung kejutan sampai pendaftaran. Tak bisa dianggap remeh, kolom atau kotak kosong tetap bisa menjegal jalan Amsakar Achmad menuju kursi Batam-1.

Amsakar Achmad sudah memegang tiket pencalonan bersama calon wakil walikota Li Claudia Chandra, politikus Gerindra. Hanya akan ada satu poros koalisi politik dalam pilkada Batam karena 11 partai akan mengusung Amsakar sebagai calon wali kota dalam pemilihan yang pendaftarannya dibuka 27 Agustus.

Baca: Respons PDIP Setelah 11 Partai Mendukung Amsakar-Li Claudia

HBRL

Poros koalisi ini terdiri dari Gerindra, Nasdem, Golkar, PKS, PKB, PAN, Demokrat, Hanura, PPP, PSI dan PKN. Hampir semua partai peraih kursi DPRD Batam, kecuali PDIP. Gabungan kursi koalisi ini sebanyak 43 kursi dari total 50 kursi DPRD Batam atau total dukungannya mencapai 86 persen.

Tersisa PDIP yang tak bisa lagi membangun poros kedua karena kursinya hanya tujuh, tak cukup mengusung calon yang syaratnya 10 kursi. Alhasil, untuk pertama kali, kemungkinan besar calon tunggal akan melawan kotak kosong di pemilihan kepala daerah di Batam tahun ini.

“Tak ada pilihan lagi. Istilahnya game over,” ujar Ketua DPD PDIP Batam, Nuryanto, Rabu (31/7). PDIP sebenarnya sempat membuka kemungkinan membangun poros bersama PKS tapi tak membuahkan hasil. PKS akhirnya mengekor koalisi gemuk Amsakar-Li Claudia yang digalang Gerindra.

Diusung koalisi gemuk tanpa lawan, kans kemenangan Amsakar-Li Claudia terbilang besar. Akademisi dari Universitas Riau Kepulauan (Unrika), Ramayandi Mulda, menilai keberadaan poros tunggal koalisi besar mempengaruhi peluang keterpilihan Amsakar-Li Claudia yang semakin terbuka lebar.

“Melihat dukungan partai saat ini kepada Amsakar dan Li Claudia serta dinamika politik lokal yang berkembang, semakin besar peluang mereka untuk memenangkan Pilkada Batam,” ungkap Ramayandi, Kamis, 1 Agustus 2024.

Namun, Ramayandi juga mengingatkan melawan kotak kosong tidak bisa dianggap remeh. Menurutnya, fenomena kotak kosong sering kali memiliki daya tarik tersendiri di kalangan pemilih yang merasa skeptis terhadap kandidat.

“ASLI (Amsakar-Li Claudia) tidak bisa meremehkan lawan kotak kosong, karena kotak kosong sebenarnya memiliki kemampuan menjatuhkan lawan tanpa orang sadari,” tambahnya.

Baca: Strategi Borong Partai, Sinyal PDIP Melawan Arus

Dalam skenario melawan kotak kosong, masyarakat yang tidak memilih bisa menjadi ancaman nyata. Beberapa pemilih mungkin merasa bahwa hasil pemilihan sudah dapat diprediksi sehingga memilih untuk tidak menggunakan hak suara mereka.

Di sisi lain, gerakan pemilih kotak kosong yang lebih bersemangat juga dapat memengaruhi hasil akhir. “Pada akhirnya, kemenangan bisa saja jatuh ke kotak kosong,” kata Ramayandi.

Dinamika politik menjelang pendaftaran calon juga menjadi sorotan. Ramayandi tidak menutup kemungkinan adanya perubahan sikap partai, meski menurutnya hal itu kecil kemungkinannya. Ia menambahkan kemungkinan perubahan ini kecil, karena koalisi telah dikunci rapat oleh Gerindra.

“Kemungkinan bisa saja terjadi apabila Gerindra atau elite-elite politik di pusat mengalami tekanan atau kesepakatan tidak berjalan dengan baik,” ujarnya.

Pengaruh Pilkada Batam ini juga diperkirakan akan berimbas pada Pilkada di tingkat Provinsi Kepulauan Riau. Ramayandi mencatat bahwa kecenderungan koalisi di Batam akan sejalan dengan koalisi di Pilkada Kepri

“Di provinsi kecenderungannya sepertinya akan beririsan dengan yang ada di Batam, akan satu koalisi,” tutupnya.

Kans Amsakar juga terbilang besar jika melihat survei. Mengacu survei terbaru (8-15 Juli 2024) dari Indikator Politik Indonesia, Amsakar Achmad-Li Claudia unggul.

Baca: Koalisi Prabowo di Pilwako Batam, Restu untuk Amsakar-Li Claudia

Lembaga survei itu memotret Amsakar Achmad dominan. Ia memperoleh elektabilitas sebesar 50,8 persen, unggul dari Marlin Agustina yang meraih 40,2 persen. Sementara itu, sebanyak 9,0 persen pemilih belum menentukan pilihan mereka.

Dalam simulasi pasangan calon, Amsakar Achmad-Li Claudia Chandra mendapatkan elektabilitas sebesar 49,5 persen, unggul dari Marlin Agustina-Jefridin Hamid yang meraih 38,3 persen. Pemilih yang belum menentukan pilihan tercatat sebanyak 12,3 persen.

Li Claudia Chandra saat konferensi pers 16 Juli lalu sempat menyebut ia berharap bersama Amsakar bisa menang 90 persen. Faktor sosok Amsakar, ia nilai berpengaruh bagi kalkulasi kemenangan. Hasil survei Gerindra pun, memotret sosok Amsakar diterima dengan baik oleh masyarakat sehingga Li Claudia percaya diri bertarung di pilkada Batam. Amsakar juga punya kapasitas karena bertahun-tahun sebagai birokrat.

“Ini yang jadi alasan saya percaya diri bertemu masyarakat Batam. Doakan saja bisa menang 90 persen,” tambahnya.

Dengan sokongan banyak partai, peluang Amsakar memimpin Batam pun terbuka lebar. Sebagai perbandingan pada Pilkada 2020, pasangan Muhammad Rudi-Amsakar Achmad disokong delapan partai politik dengan total 30 kursi. Rudi-Amsakar pada pemilihan 2020 menang telak 73 persen (267.497 suara). Namun ketika itu ada lawannya yaitu Lukita Dinarsyah Tuwo-Abdul Basyit Haz yang diusung PDIP, PKB dan Gerindra.

Belum Menjamin Kemenangan

Praktisi sekaligus akademisi di Kepri, Joni Ahmad, menilai strategi “borong partai” merusak demokrasi dan menjauhkan politik dari kompetisi yang sehat. Manuver sejumlah partai untuk mengusung pasangan calon tunggal merampas hak rakyat untuk memilih pemimpin.

“Ini akan menjadi preseden buruk bagi demokrasi. Berdasarkan penilaian dari sistem demokrasi serta semangat reformasi pun tentulah merupakan cara berdemokrasi yang tidak sehat dan tidak bermartabat,” ujar Joni, Jumat (12/7/2024).

Di samping itu, Joni melihat jika strategi “Borong Partai” belum tentu menjamin pasangan calon tertentu untuk menang. “Ini kembali kepada dukungan masyarakat. Jangan sampai langkah ini justru mengebiri hak politik masyarakat hanya untuk memuaskan kepentingan para elite partai,” tegasnya lagi.

Joni berharap agar para pimpinan partai politik di daerah untuk membuka mata terkait kondisi hari ini. Ia berharap agar terbuka peluang agar calon tunggal tidak melawan kotak kosong pada Pilwako Batam. Pesta demokrasi daerah diharapkan menghasilkan pemimpin yang mampu mengemban amanat rakyat.

Kepastian calon tunggal Batam Satu atau Amsakar-Li tak mendapat lawan, baru bisa dipastikan saat pendaftaran ditutup. Sesuai jadwal, pendaftaran pasangan calon di KPU pada 27-29 Agustus 2024. Jika hanya ada satu pasangan calon, maka ada perpanjangan masa pendaftaran.

Peta dukungan masih bisa berubah jika bercermin dari Pilkada Bintan 2020. Ketika perpanjangan masa pendaftaran, PDIP menarik dukungan dari Apri Sujadi-Roby Kurniawan lalu berkoalisi dengan NasDem demi mengusung Alias Wello-Dalmasyri Syam. Nama terakhir kalah dari koalisi kuat yang digalang Demokrat ketika itu.

Bagi Amsakar, pemilihan tahun ini menjadi yang ketiga kali. Ia pernah berlaga pada Pilkada 2015 dan Pilkada 2020 berpasangan dengan Muhammad Rudi. Rudi tahun ini akan bertarung di pemilihan gubernur Kepulauan Riau.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis: Muhammad Ravi

Pos terkait