Digitalisasi Budi Daya Ikan dari Batam

Segara Automatic Fish Feeder
Inovasi sistem IOT Segara untuk memonitor kolam bioflok yang dikembangkan Politeknik Negeri Batam, Kepri, Selasa (2/6/2026). ANTARA/Amandine Nadja

Pakan dan vitamin diberikan otomatis. Kondisi kolam dipantau dari telepon genggam.

BATAM (gokepri) — Upaya meningkatkan produktivitas perikanan budi daya di Batam mulai memanfaatkan teknologi digital. Politeknik Negeri Batam (Polibatam) mengembangkan alat pemberi pakan ikan otomatis berbasis internet of things (IoT) yang memungkinkan pembudi daya memantau kondisi kolam sekaligus mengatur pemberian pakan dari jarak jauh.

Inovasi bernama Segara Automatic Fish Feeder itu dirancang untuk menjawab salah satu tantangan utama dalam usaha budi daya ikan, yakni pengawasan kolam yang harus berlangsung secara rutin. Dengan sistem pemantauan otomatis, pembudi daya dapat mengetahui perubahan kondisi kolam secara cepat dan mengambil langkah penanganan lebih dini.

HBRL

Baca Juga: Atur Menu dari Isi Kulkas, Ini Inovasi Samsung

Pengembang Segara sekaligus dosen Mekanika dan Elektronika Polibatam, Daniel Sutopo, menjelaskan alat tersebut tidak hanya menyalurkan pakan secara otomatis, tetapi juga mencampurkan vitamin sesuai kebutuhan ikan.

“Melalui alat ini kami tidak hanya memberikan pakan, tetapi juga vitamin yang dibutuhkan ikan secara otomatis dengan sistem IoT. Kami juga dapat melihat kadar oksigen, pH, suhu, dan tingkat kekeruhan air,” ujar Daniel di Batam, Selasa (2/6/2026).

Data kondisi kolam dikirim secara langsung ke gawai pengguna. Dengan demikian, pembudi daya tidak harus berada di lokasi untuk memantau perkembangan ikan maupun kualitas air.

Menurut Daniel, kebutuhan sistem pemantauan yang praktis semakin mendesak seiring berkembangnya usaha budi daya ikan berbasis bioflok. Sistem bioflok merupakan metode pemeliharaan ikan yang mengandalkan mikroorganisme untuk menjaga kualitas air dan mengolah limbah organik.

“Pembudi daya membutuhkan alat monitoring yang praktis. Dengan sistem ini mereka bisa mengetahui kondisi kolam dari smartphone, sehingga ketika ada perubahan parameter tertentu bisa segera diambil tindakan,” katanya.

Pengembangan Segara telah berlangsung selama empat angkatan mahasiswa dan mendapat dukungan pendanaan hibah dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Selain berfungsi sebagai alat pemberi pakan otomatis, teknologi tersebut menjadi bagian dari riset pengembangan perikanan presisi berbasis data.

Polibatam kini tengah mengembangkan fitur lanjutan yang memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi itu ditujukan untuk mengenali tingkat kekenyangan ikan sehingga pemberian pakan dapat lebih tepat dan efisien.

“Ke depan, kami ingin menggunakan AI untuk melihat tingkat kekenyangan ikan, sehingga pemberian pakan menjadi lebih tepat. Selain itu, sistem juga akan dikembangkan untuk mengendalikan oksigen, pH, dan tingkat kekeruhan kolam secara otomatis,” ujar Daniel.

Selain itu, tim peneliti juga mengembangkan sistem pengendalian pH air kolam secara otomatis. Jika berhasil diterapkan, teknologi tersebut dapat mengurangi ketergantungan pembudi daya terhadap pengawasan manual yang selama ini memerlukan waktu dan tenaga cukup besar.

Daniel menilai inovasi ini akan membantu pembudi daya yang memiliki keterbatasan waktu karena harus menjalankan pekerjaan lain di luar usaha perikanan.

“Misalnya saat hujan atau ketika pembudi daya sedang bekerja di tempat lain, alat ini tetap dapat berjalan otomatis dan memberikan notifikasi terhadap keadaan kolam,” katanya.

Tahap berikutnya adalah hilirisasi produk agar teknologi tersebut dapat digunakan secara lebih luas oleh masyarakat dan pelaku usaha perikanan.

Mendorong Efisiensi Budi Daya

Kepala Dinas Perikanan Kota Batam Yudi Admajianto menyambut pengembangan teknologi tersebut karena dinilai sejalan dengan kebutuhan sektor perikanan budi daya yang terus berkembang di Batam.

Menurut Yudi, Pemerintah Kota Batam dalam tiga tahun terakhir telah membantu sekitar 75 hingga 80 kelompok pembudi daya melalui penerapan teknologi bioflok. Karena itu, inovasi yang mampu meningkatkan efisiensi operasional kolam menjadi kebutuhan nyata di lapangan.

“Dalam tiga tahun terakhir Pemerintah Kota Batam telah membantu sekitar 75 hingga 80 kelompok pembudi daya dengan teknologi bioflok. Karena itu, kami sangat mendukung keterlibatan akademisi dalam menciptakan teknologi yang bisa membantu meningkatkan produktivitas pembudi daya,” ujar Yudi.

Ia menambahkan, sistem pemberian pakan otomatis dan pemantauan kualitas air berpotensi menekan risiko kerugian akibat keterlambatan penanganan ketika kondisi kolam berubah.

“Kami berharap semakin banyak inovasi yang lahir dari perguruan tinggi dan dapat diterapkan langsung di lapangan sehingga memberikan manfaat nyata bagi pembudi daya ikan,” kata Yudi.

Pengembangan Segara menunjukkan peran perguruan tinggi tidak berhenti pada riset dan pendidikan. Inovasi tersebut juga menjadi jembatan antara teknologi dan kebutuhan lapangan, terutama bagi sektor perikanan yang menghadapi tuntutan efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan. ANTARA

Baca Juga: Politeknik Negeri Batam Jadi Pusat Pelatihan Teknisi Pesawat Vietjet

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait